Dampak Hapusnya Subsidi BBM

STUDI DAMPAK PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM TERHADAP PEREKONOMIAN, EFISIENSI DAN PELUANG USAHA BAGI PERTAMINA

Oleh: Brahmantio Isdijoso

Rekomendasi

Tampilnya sejumlah persoalan sebagai akibat dari pricing policy BBM yang dianut oleh Indonesia saat ini, menggugah kesadaran akan perlunya perubahan pricing policy BBM di Indonesia. Perubahan dalam kerangka long term pricing policy harus dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan existing condition pada setiap dimensi waktu. Hasil studi ini merekomendasikan empat tahap perubahan pricing policy BBM dalam jangka panjang, yaitu;

Tahap I: Subsidi zed Price. Merupakan tahap dimana subsidi BBM diturunkan hingga 20%, yang dilaksanakan tahun 2000 atau selambat-lambatnya pada kuartal pertama tahun 2001.

Tahap II: Zero Subsidy. Pada tahap ini harga jual BBM merefleksikan biaya produksinya, yang berarti tidak ada lagi subsidi dari pemerintah. Dengan mempertimbangkan; (i) penyusunan anggaran pemerintah dan dunia usaha yang dilakukan secara tahunan, (ii) kegiatan sosialisasi rencana kebijakan zero subsidy, serta (iii) krisis multi dimesi yang masih dihadapi Indonesia, maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan memerlukan waktu 2-3 tahun terhitung sejak tahap pertama diselesaikan.

Tahap III: Economic Price. Harga BBM yang dihasilkan kilang di Indonesia relatif tidak berbeda dengan harga BBM di kilang yang menjadi benchmark perdagangan BBM di dunia, seperti kilang di Singapura atau Belanda, ditambah dengan biaya lain (misalnya biaya distribusi). Mempertimbangkan kebutuhan waktu bagi industri perminyakan di Indonesia dalam menemukan teknologi yang memungkinkan berlangsungnya diversifikasi atau fleksibilitas dari kegiatan pengilangan minyak mentah menjadi BBM, maka perkiraan pelaksanaan tahap ini sekitar 2-3 tahun sejak tahap II selesai.

Tahap IV: Economic Price and Tax. Tahap dimana harga BBM di mulut kilang menyamai harga pasar internasional dan ditambah dengan pajak BBM. Penggunaan instrumen pajak sangat tergantung pada proses legislasi. Dengan pertimbangan tersebut maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan sekitar 2-3 tahun.

Permasalahan

Beban subsidi BBM yang semakin berat menggelayuti keuangan negara, memicu pemikiran untuk mengurangi atau menghapuskan jenis subsidi tersebut. Sejalan dengan pemikiran itu muncul beberapa pertanyaan berikut;

š Seberapa besar dampak penghapusan subsidi terhadap; (i) masyarakat pengguna BBM menurut kelompok pendapatan, kelompok tempat tinggal, maupun kelompok usaha, (ii) perilaku struktural sektor ekonomi, dalam arti multiplier effect dari perubahan penggunaan jenis BBM oleh sektor ekonomi tertentu terhadap sektor ekonomi lainnya, (iii) keuangan negara (penerimaan negara versus pengeluaran negara), dan (iv) daya saing dan peluang usaha bagi Pertamina?

š Apakah subsidi BBM sebaiknya dicabut seluruhnya atau dicabut sebagian (dikurangi), dan apakah subsidi BBM dicabut sekaligus atau secara bertahap?

š Jika subsidi dikurangi, jenis-jenis BBM mana saja yang akan dihapus subsidinya? Jika subsidi dihapus secara bertahap, pentahapan seperti apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah? Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian dan efisiensi serta peluang usaha Pertamina?

š Bagaimana setting pricing policy yang sebaiknya ditempuh pemerintah dalam rangka mencapai kondisi optimal untuk perekonomian maupun dalam rangka peningkatan daya saing dan peluang usaha Pertamina?

Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan, maka studi ini bertujuan untuk ;

š Mengukur dampak penghapusan subsidi BBM terhadap kelompok masyarakat pengguna, perilaku struktural sektor ekonomi, dan beban keuangan negara, dengan skenario penghapusan subsidi BBM seluruhnya vs sebagian, atau penghapusan subsidi BBM sekaligus vs bertahap;

š Mengidentifikasi dampak penghapusan subsidi BBM terhadap daya saing dan peluang usaha bagi Pertamina; dan

š Merumuskan setting pricing policy yang sebaiknya ditempuh pemerintah dalam rangka mencapai kondisi optimal untuk perekonomian maupun dalam rangka peningkatan daya saing dan peluang usaha Pertamina.

Metodologi

š Pengukuran dampak penghapusan subsidi BBM terhadap terhadap kelompok masyarakat pengguna, perilaku struktural sektor ekonomi, dan keuangan negara, menggunakan pendekatan Computable General Equilibrium (CGE) INDORANI Model.

š Pengaruh penghapusan subsidi BBM terhadap efisiensi kegiatan produksi BBM oleh Pertamina, dianalisis dengan melakukan studi perbandingan terhadap struktur biaya produksi BBM perusahaan sejenis Pertamina

š Perkiraan peluang bisnis Pertamina, dianalisis dengan melakukan kajian pasar terhadap produk-produk substitusi Pertamina terhadap jenis produk BBM yang subsidinya akan dikurangi/dihapus.

Temuan

š Pricing policy BBM yang ditempuh pemerintah saat ini, menimbulkan paling tidak 5 bentuk dampak negatif, yaitu; (i) terjadi target error dalam pemberian subsidi BBM, sebesar 25%, 40%, 35,2%, 92% dan 93% masing-masing untuk jenis premium, solar, minyak tanah, minyak bakar dan minyak diesel; (ii) terjadi inefisiensi dalam penggunaan dan penyelundupan BBM; (iii) beban APBN semakin berat; (iv) terjadi distorsi harga pada barang dan jasa yang menggunakan BBM sebagai input produksi; (v) Pertamina terhambat untuk melakukan ekspansi usaha.

š Secara umum, penurunan subsidi BBM masih memiliki dampak positif hingga tingkat penurunan 20%. Lebih dari itu, kenaikan harga BBM sebagai implikasi dari penurunan subsidi akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang cukup besar terhadap makroekonomi, kesejahteraan rumah tangga maupun aktifitas produksi dalam perekonomian sektoral. Namun demikian, penyesuaian yang dilakukan konsumen dengan adanya penurunan subdisi BBM ini akan menghasilkan dampak yang lebih positif dibandingkan jika tidak dilakukan penyesuaian.

š Berikut ini gambaran berbagai dampak dari penurunan subsidi BBM sebesar 20% hasil simulasi model CGE INDORANI dengan mengasumsikan adanya penyesuaian yang dilakukan oleh para pengguna BBM;

w Pada aspek makroekonomi, terjadi; (i) kenaikan inflasi sebesar 0,944%, (ii) peningkatan PDB riil sebesar 0,029%, (iii) peningkatan investasi sebesar 0,198%, (iv) peningkatan kesempatan kerja sebesar 0,115%, (v) peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga riil sebesar 0,183%, (vi) peningkatan penerimaan pemerintah sebesar 4,572%, (vii) peningkatan tabungan pemerintah sebesar 3,578%, (viii) penurunan daya saing sebesar 1,104%, (ix) penurunan ekspor sebesar 0,556%, dan (x) peningkatan impor sebesar 0,993%.

w Pada kelompok rumah tangga, kenaikan harga BBM hanya berpengaruh negatif pada kelompok rumah tangga petani menengah dan kaya (pemilik lahan >2 Ha) dengan menurunnya tingkat konsumsi riil masing-masing sebesar 0,055% dan 0,127%. Hal ini dipengaruhi oleh tempat tinggal kelompok tersebut yang umumnya terletak di desa-kecamatan, yangmana relatif sulit untuk melakukan substitusi bahan bakar.

w Pada perekonomian sektoral, aktivitas produksi mengalami penurunan tetapi pada tingkat yang tidak terlalu signifikan atau kurang dari 1% di hampir seluruh sektor produksi. Hal ini dipengaruhi oleh proporsi komponen BBM terhadap total biaya produksi di sektor-sektor ekonomi yang berkisar di bawah 1%.

w Pada aspek peluang usaha bagi Pertamina, akan terjadi peluang peningkatan konsumsi gas yang merupakan produk substitusi bagi Industrial Diesel Oil (IDO), Automotive Diesel Oil (ADO) dan premium yang selama ini memperoleh subsidi. Dengan memperhitungkan hasil simulasi pada sektor produksi dan memperhatikan peluang pergeseran perilaku konsumen (antara 20% - 100%), utamanya pada sektor kelistrikan dan transportasi sebagai konsumen terbesar, maka dalam jangka pendek konsumsi gas akan meningkat sebesar 1.614,7 juta MMBTU (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau 968,8 juta MMBTU (jika 40% konsumen beralih ke gas). Dalam jangka panjang peningkatan konsumsi gas sebesar 5.923,2 juta MMBTU (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau 3.553,9 juta MMBTU (jika 40% konsumen beralih ke gas). Implikasinya, penerimaan Pertamina juga akan meningkat dalam jangka pendek sebesar Rp 793,5 milyar (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau Rp 317,4 milyar (jika 40% konsumen beralih ke gas), dan dalam jangka panjang sebesar Rp 2,98 trilyun (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau Rp 1,19 trilyun (jika 40% konsumen beralih ke gas).

Source:

Fiskal

Arti Penting Timur Tengah Bagi Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

Arti Penting Timur Tengah Bagi

Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

- Andrias Darmayadi, S.IP, M.Si * -

Penyerangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban tokoh Hamas Syekh Ahmad Yassin membuat harapan perdamaian antara Israel– Palestina makin meredup. Pertikaian berlarut-larut yang memakan waktu lama belum menunjukkan titik terang kepada upaya nyata terhadap penuntasan konflik ini.

Menarik untuk dilihat peranan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang selalu mengaktualisasikan dirinya sebagai polisi dunia yang merasa bertanggung jawab atas nama perdamaian dunia dalam pertikaian Israel– Palestina ini.

Sikap yang ditunjukkan AS dalam upaya penyelesaian permasalahan ini selalu setengah hati, sangat berbeda dengan sikap AS dalam menyikapi pertikaian di Timur Tengah lainnya, yang dianggap dapat mengganggu kepentingan nasional AS, seperti pembelaan terhadap Kuwait atas invasi Irak, (yang akhirnya menjadi suatu sejarah panjang yang penuh dengan muatan-muatan politik dan rekayasa AS) maupun serangan “membabi buta” dengan tuduhan terorisme kepada kelompok-kelompok Islam di berbagai negara.

Baru-baru ini Resolusi DK PBB yang mengutuk serangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban pemimpin Hamas tersebut diveto oleh AS. Dari hal ini menarik untuk dilihat latar belakang, motivasi serta tinjauan kepentingan AS kepada Israel, yang membuat Israel mempunyai tempat tersendiri di “hati” AS, serta menarik pula untuk melihat kepentingan AS secara umum di kawasan Timur Tengah.

Posisi Israel bagi Amerika

Mengapa Israel begitu “dianak-emaskan” oleh AS di antara negara-negara Timur Tengah lainnya, ketika pada sisi lain justru Israel dengan Zionisnya kerap kali dianggap sebagai “biang kerok” konflik oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri.

Dari kaca mata AS sebenarnya tidak ada motivasi atau alasan ekonomi yang khusus bagi hubungan kedua negara, tetapi lebih merupakan hubungan strategis, sedangkan kepentingan AS secara ekonomi lebih mengacu kepada negara-negara Arab di Timur Tengah, terutama sejak tahun 1947 AS telah menjadi pengimpor minyak mentah dari kawasan ini, baik untuk kepentingan nasional maupun untuk mendukung strategi globalnya.

Tanpa adanya suplai minyak yang memadai, baik perusahaan-perusahaan AS maupun mesin-mesin perang (NATO) dan dukungan kepada Eropa Barat tidak akan berfungsi secara efektif.

Untuk pengamanan jalur-jalur tersebut, AS memerlukan negara pendukung yang strategis. Karena negara-negara Arab dan Timur Tengah pada awalnya tidak menyediakan fasilitas tersebut, maka satu-satunya bantuan adalah dari Israel. Dalam kerangka strategi ini pula AS memberikan bantuan ekonomi secara besar-besaran terhadap Israel, agar Israel tumbuh menjadi sekutu yang tangguh.

Namun di sisi lain, latar belakang eratnya hubungan AS – Israel sudah ada sejak dahulu, sejak negara Yahudi belum ada, yaitu kuatnya kelompok Yahudi di AS. Mereka kemudian mendominasi pertimbangan-pertimbangan kebijaksanaan AS terhadap Israel.

Orang-orang Yahudi di AS yang tergabung dalam ratusan organisasi kelompok kepentingan, dari yang moderat sampai kepada yang ekstrim, secara aktif berusaha mempengaruhi kebijakan Washington untuk mendukung Israel. Istilah “Lobby Yahudi” untuk menggambarkan sekitar lebih dari 32 kelompok Yahudi Utama yang melibatkan diri dengan Israel dan mempengaruhi kebijakan AS terhadap Timur Tengah untuk membela kepentingan Israel.

Kelompok yang paling berpengaruh adalah American Israel Public Affairs (AIPAC) dan Conference of Major Jewish Organizations (CPMAJO). CPMAJO merupakan badan koordinasi pengkajian dan kegiatan mengenai masalah –masalah  yang berkaitan dengan Israel maupun Yahudi di AS.

Fungsi badan ini adalah untuk menginterpretasikan pandangan dan keinginan Israel kepada AS. Sementara AIPAC memfokuskan kegiatannya dalam mempengaruhi kongres, dan CPMAJO lebih aktif untuk mempengaruhi badan eksekutif.

Disamping membantu kegiatan kongres dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan Israel, kelompok-kelompok ini juga melaksanakan pengumpulan dana. Dana yang diperoleh setiap tahun berasal dari sekitar 11.000 penyumbang. AIPAC tidak secara langsung mendistribusikan dananya kepada calon-calon pemilihan umum, baik dalam tingkat negara bagian maupun nasional, seperti yang dilakukan  Political Action Committee (PAC).

PAC sebagai komite aksi politik merupakan bentuk lain dari cara-cara tradisional suatu organisasi politik di AS. Berbagai PAC bermunculan untuk mewakili segenap kelompok-kelompok etnik maupun kepentingan di seluruh negara bagian, termasuk organisasi Yahudi yang terkenal secara politik lebih aktif. Dengan segala upayanya AIPAC mengaktifkan masyarakat Yahudi, sehingga PAC Yahudi memberikan dukungan finansial yang dibutuhkan lobby Yahudi atau Israel.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan baik dengan anggota-anggota kunci di Senat ataupun di parlemen lebih penting dari pada hubungan dengan para pejabat tingkat regional. Meskipun demikian mereka yang duduk di badan legislatif pada tingkat negara bagian juga dapat berperan dalam pembentukan pendapat umum.

Pendapat umum merupakan hal penting dan pemerintah Israel apabila dilihat dari perlunya dukungan masyarakat dalam penentuan kebijakan AS terhadapnya. Untuk itu melalui perwakilannya di Washington, Israel kerap kali harus melakukan kampanye informasi publik ( Hazbara ) di AS, hal ini dirasakan perlu karena Israel juga harus menghadapi anggota masyarakat maupun pemerintah anti Israel.

Oleh karena itulah sangat penting bagi Israel untuk selalu dapat menciptakan citra baik, terutama di mata mereka yang sangat tradisional merupakan pendukungnya.

Selain dari sisi pertimbangan strategi globalnya di kawasan Timur Tengah yang membutuhkan sekutu yang tangguh di kawasan tersebut, besarnya dukungan AS terhadap Israel sejak negara ini berdiri pada tahun 1948 adalah juga dengan pertimbangan lainnya yaitu, Pertama, disebabkan oleh prihatinnya AS dengan nasib bangsa Yahudi  di masa Nazi-Jerman, kedua, disebabkan oleh mayoritas persamaan agama.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut hingga saat ini Israel masih sangat memanfaatkan posisi strategisnya tanpa takut yang berlebihan yang disebabkan keyakinan akan mendapat legalitas dan bantuan negara superpower tunggal AS.

Irak dan Kawasan Timur Tengah

Irak sebenarnya adalah negara yang unik bagi AS terutama setelah negara ini dipimpin oleh Saddam Hussein. Irak sebelumnya adalah pembeli tetap senjata-senjata dari AS atau dengan kata lain Irak adalah konsumen yang potensial bagi perdagangan senjata AS.

Hal ini sangat  memungkinkan, sebab kebijakan luar negeri Irak memang cenderung bersifat konfrontatif. Ini dapat dilihat paling tidak dalam dua dekade terakhir Irak hampir tidak pernah lepas dari konfrontasi maupun konflik dengan negara lain baik dalam satu kawasan maupun dengan di luar kawasan. Perang Iran – Irak kemudian invasi Irak terhadap Kuwait yang berbuntut serangan bertubi-tubi dari AS yang dilanjutkan embargo ekonomi terhadap Irak adalah bukti dari kebijakan luar negeri Irak yang cenderung konfrontatif.

Titik tolak keadaan yang sangat merugikan Irak memang dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait, di sini dapat kita lihat betapa pentingnya negara-negara di kawasan Timur Tengah bagi AS.

Kebijakan AS di Timur Tengah pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan strategisnya dan berhubungan dengan politik globalnya. Lebih dari tiga dekade, dahulu ketika Uni Soviet masih menjadi kompetitor berat AS, kepentingan strategi AS di regional adalah merupakan tindakan preventif terhadap dominasi Uni Soviet dengan menghindari konfrontasi langsung.

Usaha ini dilakukan dengan membawa negara-negara satelit AS di Timur Tengah. Namun saat ini setelah Uni Soviet bubar kepentingan AS adalah mempertahankan hegemoninya di kawasan ini dan menjaga eksistensi strategi globalnya yang banyak memerlukan dukungan dari kawasan Timur Tengah.

Faktor geografis Timur Tengah memiliki arti strategis yang sangat penting bagi AS. Kawasan yang meliputi Eropa, Asia dan Afrika menjadikannya sebagai jembatan hubungan Laut Tengah, Teluk Persia dan Laut Hitam, telah lama menjadi daerah lintas maupun transit kapal-kapal barang di AS. Terusan Suez sebagai jalan pintas untuk membawa bahan bakar minyak dari negara Arab ke Eropa Barat, Jepang dan AS menambah arti strategis kawasan ini.

Minyak sebagai sumber daya alam terbesar di Timur Tengah dan di dunia juga merupakan kepentingan strategis bagi AS. Untuk mempertahankan keunggulan ekonomi negara-negara Barat dan Jepang perlu disuplai bahan bakar minyak yang memadai bagi kelangsungan industrinya, oleh karenanya setiap usaha menguasai, mendominasi atau menyerang negara-negara di Timur Tengah yang produktif dalam menghasilkan minyak bumi merupakan ancaman bagi kepentingan vital AS.

Hal inilah yang dialami oleh Irak ketika menginvasi Kuwait, AS sangat berkepentingan dengan Kuwait sebab AS mempunyai kilang-kilang minyak di Kuwait yang sangat besar pengaruhnya dalam menyuplai minyak untuk kepentingan industrinya.

Selain itu, kawasan Timur tengah merupakan kawasan yang sangat potensial bagi instrumen kebijakan luar negeri yang mengkomersialkan perdagangan senjata. Kebijakan penjualan persenjataan AS di Timur Tengah selama ini sering dipandang sebagai suatu cara untuk menciptakan, mempertahankan maupun meningkatkan pengaruhnya terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah tanpa harus menghadirkan kekuatan militer AS secara langsung.

Hal ini mengakibatkan perlombaan senjata berkembang di Timur Tengah. Keadaan ini memang sangat dimungkinkan sebab secara historis negara-negara di kawasan Timur Tengah dipenuhi sejarah konlik yang panjang sehingga banyak memerlukan pasokan senjata yang memadai.

Dengan alasan-alasan yang disebutkan di atas tadi mulai dapat kita lihat mengapa AS sangat berkepentingan di kawasan yang selalu panas ini. Dapat pula kita lihat dikotomi permasalahan Irak dan Israel dalam sikap AS. Irak dianggap oleh AS sebagai ancaman yang dapat merusak kepentingan strategi global mereka di kawasan Timur Tengah. Dan juga bersikerasnya AS dalam usaha menyerang Irak adalah salah satu dari upaya show of power.

AS yang ingin kembali menunjukkan dominasinya terutama sekaligus sebagai ajang “promosi” untuk penjualan senjata-senjata canggihnya. Penyerangan terhadap Irak adalah juga merupakan bagian dari strategi kepentingan George. W. Bush yang selama ini belum mendapatkan “moment” untuk menunjukkan eksistensi dan prestasi dirinya sebagai salah satu presiden AS yang cukup berpengaruh serta pula sebagai bagian dari kampanye Bush dalam upaya mempertahankan kursi kepresidenan.

Sedangkan dalam kasus Israel, AS  banyak sekali memberikan toleransi bahkan dukungan terhadap negara Zionis ini karena memang secara strategis hanya Israel lah yang menjadi sekutu paling loyal bagi AS (dan memang diciptakan menjadi sekutu) di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan AS “bermain” dengan aman dalam kawasan ini. Sehingga wajar jika AS tidak pernah dapat bersikap tegas dalam menyelesaikan konflik Israel–Palestina yang berkepanjangan.

Sekali lagi posisi AS sebagai negara adidaya tunggal memungkinkan mereka melakukan apa saja demi merealisasikan kepentingan strategi global politik luar negeri mereka. PBB sebagai lembaga yang paling berwenang untuk memberikan aturan-aturan dalam menciptakan perdamaian di dunia juga tidak dapat bersikap independen karena disebabkan sangat besarnya pengaruh AS dalam organisasi ini.

Oleh karena itulah keadilan dan perdamaian di dunia tampaknya masih akan menjadi sebuah utopia selama sang adidaya tunggal ini tidak mempunyai batasan legalitas dan moral dalam menjalankan strategi global kepentingan politik luar negerinya.

* Penulis adalah dosen tetap Jurusan Hubungan Internasional Unikom.

[dari artikel website HI-Unikom versi perdana tahun 2004]

Source:

http://hi.unikom.ac.id/variankonteks.htm

Israel Timeline War

Israel Timeline War

Israel dalam memperebutkankan tanah yang telah dijanjikan terlibat dalam sejumlah perang. Di bawah adalah daftar perang di mana Israel terlibat:

Dalam suatu kekuasaan, Suatu perang negara yang legal telah terjadi antara Israel dan musuh-musuh Arab pada awal perang pertama pada 1948. Mesir menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1979, dan Jordania membuat perdamaian pada 1994. otoritas Palestina, yang dikepalai Yassir Arafat dan faksi Al-Fatah dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menegosiasikan semi perdamaian, yang pada pertengahan 2000, telah menghancurkan perusakan melalaui Intifada Al-Aqsa. Grup Palestina lainnya, yang hampir seluruhnya Hamas, telah berperang dengan Israel secara berkelanjutan. Meskipun Israel dan hampir seluruh bangsa Arab secara teknis dalam perang negara secara berkelanjutan, terkecuali tertulis, letusan perang khusus dalam perlawanan yang dipertimbangkan sebagai pemisahan perang.

Perang kemerdekaan Israel / “al-Nakba” (Sang Malapetaka) (1948-1949)—Dia atas kemerdekaan, Israel dulu di invasi oleh enam tentara bangsa Arab: Mesir, Syria, Transjordan (kini Jordania), Lebanon, Irak, dan Saudi Arabia. Sebagi tambahan, tentara lokal Palestina juga melawan Yahudi Israel.

Serangan Qibya (Oktober, 1951)— Pasukan Israel, dipimpin oleh Mayor Ariel Sharon (Perdana Menteri Israel 2001-2006) menghancurkan lusinan bangunan di West Bank (Jordania) kota Qibya. Korban meninggal orang sipil mencapal 69 orang.

Perampasan Mesir Terhadap kapal Israel Bat Galim (Musim panas, 1954)—Mesir merampas kapal Israel Bat Galim sebagi percobaan memasuki Kanal Suez. Menurut berbagai macam perjanjian internasional, Kanal Suez dimaksudkan untuk dapat dimasuki kapal laut dari semua bangsa. Provookasi ini memerparah tensi antara Mesir dan Israel.

Serangan Gaza (Feb. 28, 1955)—Pasukan Israel memimpin suatu serangan, suatu respon untuk mengulangi penyerangan gerilya dan merampas sebuah kapal Israel oleh Mesir, hasilnya kematian untuk 51 prajurit Mesir dan 8 pasukan Israel. Serangan ini merupakan yang terbesar dari jenis perlawanan melawan pasukan Arab sejak akhir peperangan dari Awal Perang Arab – Israel pada 1949.

Perang Sinai (1956) [Juga dikenal sebagai Perang Suez]–Invasi dan penaklukan sementara semenanjung Sinai Mesir oleh Israel, sementara Perancis dan Inggris Raya merampas Kanal Suez.

Konflik Palestina-Israel (1960-sekarang)—Israel menghadapi gerilya dan peperangan teroris dari beberapa pasukan Palestina, paling banyak yang bersatu di bawah PLO, dipimpin oleh Yassir Arafat. Perkelahian terkini melibatkan Israel melawan grup-grup militant religius seperti Hamas and Jihad Islam, dan juga Otoritas Arafat Palestina. (Ini meliputi peperangan gerilya Palestina melawan Israel dari 1960-an, Intifada asli (1988-1992) dan yang terkini Intifada “Al-Aqsa” (2000-sekarang), dan West Bank (2004) dan Invasi Gaza (2006) oleh Israel dan serangan bunuh diri orang Palestina dan roket-roket yang dengan cepat menginvasi.

Serangan Al-Fatah Pertama (PLO) (Dec. 31, 1964)—Yassir Arafat’s faksi Al-Fatah dari PLO memimpin serangan pertamanya kedalam Israel dari Lebanon.

Pertempuran Perbatasan Israel-Syria dan Pertempuran Udara (Nov. 13, 1964)—Israel dan Syria keduanya mengklaim kedaulatan melalui beberapa zona Demiliterisasi sepanjang perbatasan mereka. Zona ini diatur sebagai bagian dari isyarat untuk menghentikan tembakan mengakhiri Awal Perang Arab-Israel. Israel mencoba menanam lahan dalam Zona ini, sementara Syria mengembangkan suatu proyek untuk mengalihkan air dari sungai Jordan, yang mana Israel membagi dengan Syria dan Jordan. Pasukan Syria seringkali menembak traktor Israel karena mencoba menanam di Zona tersebut, sementara itu Israel mencari cara untuk menginterupsi proyek pengalihan Syria. Pada 13 November 1964, pangkalan pasukan Syria diatas puncak Golan, sebuah dataran tinggi memandang dari atas kawasan Israel dalam bukit Sungai Jordan, menembak traktor Israel. Pasukan Israel kembali menembak. Artileri Syria lalu menargetkan penduduk desa Israel. Israel merespon dengan serangan udara pada tentara Syria. Peperangan ini berakhir dengan kematian 4 orang Israel dan 9 orang cedera. Syria banyak kehilangan termasuk dua tank dan mesin-mesin melibatkan proyek pengalihan. Salah satu hasil dari benturan ini percepatan akuisisi Syria dan pesawat pejuang buatan Soviet yang lebih baik. (Oren, 2001).

Serangan West Bank (Mei 1965)—Setelah serangan gerilya Palestina menghasilkan kematian 6 orang Israel, militer Israel memimpin penyerangan di West Bank kota Qalqilya, Shuna dan Jenin.

1966Israel melaporkan 93 insiden sepanjang perbatasan.

Serangan West Bank (30 April 1966)—Pasukan Israel menghancurkan diatas dua lusin rumah di West Bank kota Rafat, membunuh 11 orang sipil. Penyerangan ini merupakan respon dari serangan Palestina terhadap Israel. Paling banyak menyerang Israel.

Serangan West Bank (1966)—Pasukan Israeli menyerang wilayah Hebron dari West Bank. Serangan ini menghasilkan kematian 8 orang sipil dan pemadam kebakaran dengan tentara Jordan.

Pertempuran perbatasan Israeli-Syria (Musim panas, 1966)—Lanjutan artileri dan duel-duel tank sepanjang Puncak Golan didepan dipimpin oleh :

Petempuran Udara Israeli-Syria (7 Juli 1966)—Merespon pada kelanjutan pertempuransepanjang perbatasan, pesawat Israel menyerang pasukan Syria, menghasilkan hilangnya salah satu pesawat pejuang Syrian MiG.

Petempuran Udara/ Laut Israel-Syria (15 Agustus 1966)—Setelah sebuah kapal pengawas kandas di pantai timur Laut Galilee (menurut perjanjian isyarat untuk menghentikan tembakan pada 1949, pasukan Israel tidak bermaksud untuk mendekati 250 meters dari sebelah timur pantai,yaitu Zona Demilitarized), pesawat Syria menyerangnya. Israel meresponnya,menembak jatuh dua peswat MiG.

Serangan Samu (West Bank) (November 13, 1966)—Lanjutan sebuah ledakan tambang yang membunuh tiga polisi Israel dan satu cedera, Israel memutuskan untuk meluncurkan serangan balas besar (disebut Operasi Shredder) kedalam West Bank, untuk mengambil sikap pada basis gerilya Palestina (al-Fatah) didekat Hebron. Didesain untuk menunjukan kekuatan militer Israel, serangan pasukan terdiri dari 10 tank, empat puluh setengah track (suatu pasukan kendaraan pasukan) dan sekitar 400 prajurit. Pasukan menikmati liputan udara dari perang pesawat Israel. Pasukan ini menghancurkan kantor polisi di kota Rujm al-Madfa’ dan lalu pindah ke kota Samu’. Sebagaimana pasukan Israel memusnahkan rumah-rumah di Samu, suatu pasukan kecil Jordania mendekati dan penyergapan oleh Israel. Pertempuran ini menghasilkan kematian 15 orang Jordania dan 54 cedera. Pemimpin penyergapan Israel terbunuh dan 10 orang bawahannya cedera. Pesawat Israeli mengejar Angkatan Udara Jordania, menembak jatuh sebuah pesawat pejuang Jordania. Penyerangan ini juga menghasilkan 3 orang sipil Arab meninggal dan 96 cedera.

Selain sejumlah besar kerugian (pada kedua belah pihak) dari apa yang dimaksud menjadi suatu secara relatif cepat dan mudah diserang, Israel menderita penundaan diplomatik. Amerika Serikat (AS) cukup marah atas serangan besar ini pada salah satu dari beberapa teman Washington (Raja Jordan Hussein) dan kurangnya respon dari Syria, yang merupakan sponsor sejati dari serangan yang paling banyak di Israel. Kekacauan dilanggar di Jordania pada seolah-olah respon tidak berhasil pada militer Jordania dan jelas ketidak mampuan untuk melindungi sipil Palestina di West Bank. Serangan Samu menggelorakan opini masyarakat Arab di Timur Tengah dan berubah menjadi salah satu faktor yang memperkenalkan Perang Enam Hari pada 1967.

Perang Enam Hari (1967)—Dalam suatu serangan cepat pra-kekosongan, Israel menembakan kekuatan militer pada Mesir, Jordania dan Syria serta merampas sejumlah besar tanah dari tiap-tiapnya. Irak juga berpartisipasi dalam pertarungan pihak Arab.

Perang Erosi (1968-1970)—Perang Erosi (Attrition War) adalah perang perbatasan yang terbatas antara Mesir dan Israel dalam konsekuensi dari Perang Enam Hari. Perang tersebut merupakan prakarsa dari Mesir sebagai suatu cara untuk mengambil kembali Semenanjung Sinai setelah direbut oleh Israel pada 1967. Suatu isyarat untuk menghentikan tembakan pada 1970 yang diakhiri dengan perlawanan, tetapi meninggalkan perbatasan tanpa perubahan.

Perang Yom Kippur (Ramadan) (1973)—Dalam suatu serangan kejutan yang di luncurkan pada hari raya Yahudi Yom Kippur (pada masa itu juga jatuh pada hari raya Muslim Ramadhan), Mesir dan Syria menyerang Israel. Meskipun mendapat bantuan dari Irak, pasukan Arab gagal untuk mengalahkan Israel.

Invasi Israeli atas Lebanon (1978)–Operasi Litani adalah nama resmi dari Invasi Israel atas Lebanon hingga ke sungai Litani pada 1978. Invasi yang dilakukan oleh militer ini sukses, demikian juga halnya dengan militer Israel yang menyingkirkan PLO dari Lebanon Selatan, dimana mereka hendak membuat suatu de facto negara dalam negara. Sebuah tentangan keras internasional atas kekuatan invasi memundurkan sebagian pasukan Israel dan pembentukan daerah dia antara dua wilayah yang saling bermusuhan (buffer zone) patroli Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) antara pihak gerilya Arab dan Militer Israel.

Serangan Osirak (1981)–Sebuah serangan udara Israel pada reaktor nuklir Irak, Osirak.

Invasi Israeli atas Lebanon (1982-1984)–Dalam merespon kepada serangan ulang gerilya oleh PLO, yang diluncurkan dari Selatan Lebanon, Israel menginvasi dengan maksud menghancurkan pasukan Arafat. Syria, yang mengelola sebuah pasukan besar tentara di Lebanon, bertempur dengan Israel dan mengalami kekalahan yang memalukan.

Pendudukan Israel di Selatan Lebanon (1984-2000)—Sebagaimana mereka menarik diri hampir sebagian rampasan atas invasi Lebanon pada 1982, Israel mengadakan pendudukan tersebut sebagian besar dibantu dengan bantuan ”Southern Lebanon Army/ SLA” (Tentara Selatan Lebanon), suatu milisi disusun dan didukung oleh Israel. Pendudukan ini ditentang oleh PLO dan grup-grup Palestina lainnya sebagai suatu perpanjangan konflik yang berjalan panjang dengan Israel. Juga, milisi lainnya (kebanyakan kelompok Muslim Lebanon), seperti Hizbullah (didukung oleh Iran and Syria), melangkah maju dalam serangan wilayah pendudukan Israel pada penempatan dan target militer di Utara Israel. Pada tahun, Israel menarik diri dari Lebanon dan SLA dibubarkan.

Intifada Pertama (1987-1993)–Urban uprising against Israeli rule in the West Bank and Gaza. The Oslo Peace Accords end the Intifada and lead to the formation of the Palestinian Authority with PLO Chief Yasser Arafat as the official leader of the Palestininans.

Perang Teluk Persia Kedua (1991)—Sementara Israel mengambil tindakan yang tidak ofensif pada perang ini, Irak meluncurkan misil Scud yang membuat kagum Israel dan hampir mengakibatkan Israel mengintervensi dalam Perang Teluk ini.

Intifada “Al-Aqsa”—Komando/ gerilya berperang yang berkenaan dengan kota antara Israel dan berbagai macam kelompok Palestina, termasuk Hamas. Antara September, 2000 dan, September, 2007: 4,453 orang Palestina and 1,114 orang Israel telah terbunuh karena meningkatnya kekerasan. (Sumber pada kerugian: http://seattletimes.nwsource.com/text/2003911771_intifada29.html)

Serangan Israel Udara Atas Syria (Oktober, 2003)—Pesawat perang udara Israel menembak Desa Syria Ain al-Saheb, dekat Damaskus.

Perang Israel Hizbullah (Juga dikenal sebagai “Perang Lebanon Kedua”) (2006)—Dalam merespon serangan gerilya balasan oleh milisi Hizbullah dari Syiah Lebanon, Israel menginvasi Selatan lebanon, menyusun blokade laut, dan meluncurkan kampanye berkekuatan bom agar memenangkan pembebasan dua tentara Israel yang ditangkap.

Serangan Udara Israel atas Syria (Sept. 6, 2007)—Pesawat perang udara Israel terbang melewati Utara Syria, mengantar perbekalan perang (terang-terangan) pada sasaran yang tidak dikenal. Menurut pada dua surat kabar the New York Times dan ABC News, sasarannya merupakan fasilitas nuklir yang sedang dibuat dengan bantuan dan pertolongan Korea Utara.

Sumber:

  1. http://www.mfa.gov.il/MFA/History/Modern+History/Centenary+of+Zionism/The+Arab+Israeli+Wars.htm

  2. http://www.historyguy.com/arab-israeli_war_links.html

Note:

*This was my journal for my college presentation.

*This article was made in Bahasa Indonesia version, you can see the English version on source number 2.

Zeitgeist The Movie

ZEITGEIST the Movie

Apakah anda pernah mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan “terlarang” seperti dibawah ini, dan menemukan jawabannya?

  • Kenapa gerombolan-gerombolan yang suka mengatasnamakan agama gemar menjatuhkan fatwa sesat? (Madi, Ahmadiya, maupun kepercayaan-kepercayaan nenek moyang kita sering dinistakan dengan mengatasnamakan kepercayaan dan mitos-mitos impor).
  • Kenapa setiap kali agama dipertanyakan/didebat maka akan dengan mudah terlontar tuduhan penghujatan, blasphemy, kafir, sesat, antek iblis dan lain sebagainya?
  • Kenapa orang bisa percaya begitu saja tanpa bertanya?
  • Kenapa kita selalu mudah diadu-domba dengan menggunakan agama, ras maupun golongan?
  • Siapa yang diuntungkan dari setiap kekacauan yang terjadi?
  • Kenapa MUI, Bashir, Lubis dan gerombolan yang lain bebas bertingkah tapi pemerintah diam saja?
  • Pancasila dan UUD diberaki, diinjak-injak tapi SBY dan anakbuahnya tetap juga tidak mau tegas, kenapa?
  • Indonesia sedang dipecah belah, tapi kita semua tetap santai seakan tidak terjadi apa-apa, kok bisa?
  • Para importir agama itu dulu disambut dengan ramah, setelah berkembang besar jadi kurang ajar. Seenaknya menistakan, mencap kafir, menginjak-injak keyakinan dan kebudayaan nusantara. Mereka seenaknya mencuci otak anak-anak kita untuk mengencingi dan memberaki leluhur dan budayanya sendiri. Makin lama makin seenak jidat bikin ribut dan cari gara-gara, tapi anehnya kita tetap diam saja. Kok bisa?
  • Dan mungkin banyak sekali pertanyaan terlarang yang lain…

Kalau belum nemu jawabannya, cobalah tonton film yang judulnya Zeitgeist. Mungkin setelahnya anda akan bisa menjawab sendiri beberapa atau malah semua pertanyaan diatas.

Keberadaan film ini pertamakali saya ketahui dari sebuah diskusi bulanan antara mahasiswa dari beberapa universitas dengan Pak Hamid Kontras yang digelar di NIM. Sayangnya disitu hanya diputar sepotong, cuma part 3 dan itupun tidak lengkap. Katanya karena keterbatasan waktu.

Pulang dari sana langsung saya interogasi Sang Hyang Google Yang Maha Tahu, dan menemukan situs resminya. Disitu disebutkan bahwa film itu memenangkan penghargaan Best Feature Documentary. Dan setelah ditonton, ternyata isinya memang cukup “menyilaukan” bagi mereka yang berkacamata kuda. Untunglah kemarin tidak diputar lengkap. Bakal histeris itu anak-anak mahasiswa. Saya memang beruntung, baru pertama kali hadir langsung nemu film gitu-gituan :P

Jadi silakan download pake bittorent (700an MB) dan dipelototi, bisa rame-rame, bisa juga sambil bugil sendirian di dalam kamar yang terkunci.

Tips menonton:

Stel otak anda ke mode skeptis, jangan langsung menerima semua yang disajikan sebagai kebenaran hanya karena saya yang mempromosikan *bletak*. Silakan simak juga statemen si pembuat film, pahami apa sebenarnya yang dia ingin lakukan. Baca-baca tanya jawab yang ada dan pelajari berbagai referensi yang disertakan.

Seperti layaknya orang berakal, anda harus memperlakukan semua “kebenaran” apapun yang disodorkan seperti ahli emas yang membelah dan membakar emas untuk menguji keasliannya *hiperbolis*. Tapi serius, jangan asal percaya, jangan juga asal ga percaya. Buktikan kalau manusia sejenis anda itu punya akal.

Seperti statemen yang ada disitusnya: “It is my hope that people will not take what is said in the film as the truth, but find out for themselves, for truth is not told, it is realized”

Oks, selamat menonton, nanti setelah menonton bisa dibahas apa yang bisa dan harus kita lakukan untuk Indonesia dan dunia.

Thanks to: http://guhpraset.wordpress.com/tag/agama/

Headache Cure Naturally

How to cure a headache naturally

Headaches, as we all know, are a common occurrence. Especially in these day as the pace of business just seems to be getting faster and faster. It’s very easy to just take an aspirin or ibuprofen and forget about it but that’s not always the healthy thing to do. Headaches are usually the result of stress, dehydration, poor or shallow breathing and poor diet. Headaches can be quite the annoyance and usually show up at the worst time. If you can spare yourself five or ten minutes, you can cure your own headache and feel much better using this technique.

Instructions

Difficulty: Moderately Easy

Things You’ll Need:

  • drinking water
  • 5-10 minutes without interruption

Step1

First things you can do is drink the water. Many times when we take a pill to relieve the headache we wash it down with a glass of water And it’s actually the water that brings the relief first.

Step2

Next sit down in a comfortable spot if you can find one. Now you’re going to close your eyes and take a deep breath.

Step3

As you breath in, imagine that you are breathing in fresh cool energy through the top of your head. Breath it down into the center of your body.

Step4

As you breath out, imagine the energy flowing out the bottom of your feet, flushing out and clearing the pain and stress from your body. Repeat this at least 5 times

Source: http://www.ehow.com/how_2116706_cure-headache-naturally.html

Free Market Challenge

Tantangan Pasar Bebas Indonesia

I. Pendahuluan

A. Pengertian Pasar Bebas

Pasar bebas adalah suatu pasar dimana harga barang-barang dan jasa disusun secara lengkap oleh ketidak saling memaksa yang disetujui oleh para penjual dan pembeli, ditetapkan pada umumnya oleh hukum penawaran dan permintaan dengan tanpa campur tangan pemerintah dalam regulasi harga, penawaran dan permintaan.

Konsep dari pasar bebas berdekatan hubungannya dengan filosofi ekonomi laissez-faire, yang mana mendukung perkiraan kondisi pasar bebas dalam dunia nyata oleh batas-batas intervensi pemerintah dalam masalah ekonomi untuk meregulasi melawan kekuatan dan penipuan diantara peserta pasar. Karena itu, dengan pembatasan kekuasaan pemerintah pada peran sikap bertahan, pemerintah sendiri tidak memprakarsai ruang terbuka untuk pasar melebihi pajak retribusi supaya dana terpelihara bagi ruang terbuka untuk pasar bebas. Beberapa pasar bebas, juga menentang mendukung pembebanan pajak, menegaskan bahwa pasar lebih baik dalam menyediakan semua pelayanan-pelayanan barang-barang berharga termasuk pertahanan dan hukum, atau pelayanan serupa dapat disediakan tanpa pembebanan pajak langsung.

B. Latar Belakang Pasar Bebas

Kosakata pasar bebas semakin ramai dibincangkan, terutama sejak praktek ekonomi terencana menemui kegagalan di bekas negara-negara komunis. Di Indonesia, kosakata ini makin bertambah ramai khususnya, ketika terjadi krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.

Beberapa pakar menyebutkan, tidak ada pasar bebas di Indonesia dan itulah penyebab terjadinya krisis. Mereka menyebut sejumlah kriteria atas pernyataannya itu:

1. Banyaknya regulasi yang membatasi aliran masuk dan keluar barang, jasa, dan uang;

2. Dominasi dan monopoli prusahaan negara (BUMN) pada sektor-sektor strategis;

3. Dominasi dan monopoli kapitalis-kapitalis kroni yang dekat dengan keluarga cendana, dan bank sentral yang tidak independen.

Karena itu, perjuangan untuk menegakkan kebebasan politik (demokrasi liberal) harus seiring sejalan dengan perjuangan untuk menegakkan kebebasan ekonomi (pasar bebas). Dan itu berarti, harus ada deregulasi yang sistematis, privatisasi perusahaan-perusahaan milik negara, bank sentral yang independen, dan persaingan bebas dalam pasar.

Namun demikian, sejauh itu ide tentang pelaksanaan pasar bebas dinilai masih tidak konsisten. Salah satunya disebabkan oleh tarik-menarik antara kekuatan politik. Faktor lainnya, karena pasar bebas itu sendiri dianggap hanya menguntungkan elite.

Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud pasar bebas? Ide pasar bebas, seperti diutarakan Edward L. Hudgins, berakar pada konsepsi teoritis yang dirumuskan oleh Adam Smith, David Ricardo, dan Frederic Bastiat. Intinya, “kebebasan berdagang akan mendatangkan kemakmuran.” Secara lebih teoritis, pasar bebas mengidealisasikan pasar sebagai sebuah arena dimana seluruh keputusan dan tindakan ekonomi yang dilakukan oleh individu-individu dalam rangka pergerakan uang, barang dan jasa berlangsung secara sukarela, bebas dari paksaan dan pencurian.

II. Pembahasan

Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam.

Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui ”perubahan besar” desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat resiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.

Bila Indonesia ingin keluar dari krisis yang terjadi dan memperbaiki daya saing internasionalnya, maka sangatlah penting untuk mengembangkan program-program secara sistematis menghapus kerugian-kerugian dari kebijakan makro-ekonomi, yaitu melalui strategi yang tepat. Setiap negara harus menyusun suatu startegi untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Namun, setiap negara menghadapi lingkungan internal dan eksternalnya sendiri. Lingkungan-lingkungan ini pasti mempengaruhi tidak hanya tujuan dari suatu negara tetapi juga dorongan strategisnya.

Globalisasi: Peran Negara Pelindung?

Globalisasi dalam hal ini adalah pasar bebas, dimanakah peran negara sebagai pelindung. Secara lebih luas, pengalaman empiris di beberapa negara juga menunjukan bahwa tidak selamanya intervensi pemrintah menghasilkan capaian yang buruk. Sukses Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan sebagainya mengalami sukses besar meskipun, atau mungkin karena, campur tangan negara kuat tapi sehat,. Kedua negara yang telah berhasil membangun ekonominya tersebut menempuh industrialisasi yang berorientasi ke luar dan kebijakan ini sebelumnya didahului oleh strategi industrialisasi yang berorientasi ke dalam. Intervensi pemerintah dalam menyediakan infrastruktur, baik fisik maupun non-fisik, juga mempunyai peranan yang strategis dalam pembangunan. Reorientasi strategi industrialisasi yang berhasil dari yang berorientasi ke dalam menjadi berorientasi ke luar Korea selatan utamanya disebabkan oleh kuatnya landasan ekonomi yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh pemerintah, misalnya berupa tenaga kerja terdidik dan tersedianya stok kapital yang memadai. Temuan pakar ekonomi, Reynold, mengenai pertumbuhan jangka panjang dari beberapa negara juga menunjukan pentingnya peranan pemerintah, yaitu pertumbuhan di negara yang administrasinya baik.Secara lebih lanjut, karena adanya ketidaksempurnaan informasi, pasar yang tidak berjalan sempurna, dan munculnya biaya-biaya transaksi membuat peran negara secara potensial menjadi katalis penting bagi berjalannya pembangunan ekonomi. Meskipun begitu, tidak lantas pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah akan selalu sukses melakukan inisiasi pembangunan atau mengimplementasikan kebijakan reformasi.

Pasar bebas bukan hanya barang, melainkan bakal ada pasar buruh. Migrasi pekerja dari satu negara ke negara lain, merupakan tantangan yang harus dihadapi. Kondisi ini tak bisa dibendung lagi. Satu-satunya cara, meningkatkan daya saing tenaga lokal.

Tenaga kerja asing akan menyerbu Indonesia, begitu pula tenaga kerja dari sini. Namun perbedaannya, tenaga asing lebih dihargai di Indonesia. Ini yang menjadi tantangan bagi kita agar bisa mendapatkan penghargaan sama.

Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia adalah mutu produksi.

Gelombang globalisasi memasuki Dunia Ketiga tanpa mampu dibendung. Pasar bebas menjadi keniscayaan yang setiap saat bisa membinasakan siapapun yang tak mampu bertahan. Bagi masyarakat Dunia Ketiga, di manapun, ancaman itu kini bermetamorfosis menjadi badai garang yang siap menerkam. Tanpa kecuali.

Para petani misalnya, akan terhisap tenaganya melalui perampasan nilai lebih yang semestinya dinikmati. Di lain pihak, dahsyatnya industrialisasi pada Dunia Ketiga akan mengulangi bentuk-bentuk kekejaman kapitalisme abad pertengahan. Di mana kaum buruh dieksploitasi melalui cara-cara yang jauh di bawah standar kemanusiaan. Kejahatan menjadi ciri utama, dari bentuknya yang paling sederhana hingga dalam wujudnya yang tersamar dan berlindung di balik gagasan mengenai pembangunan. Aksi-reaksi berakhir di ujung puncaknya berupa kekerasan dan kegagalan menjawab berbagai soal kemiskinan dan kemanusiaan

Dalam ranah keterbelakangan, Dunia Ketiga tentu tak dapat menghindari gemuruh ekstensifikasi liberasi perdagangan. Mengingat kapitalisme transnasional memiliki kemampuan merambah dan memasuki area yang paling sulit dijangkau, bahkan oleh pemerintah lokal sekalipun.

Dengan segala keterbatasan, tentu saja dibutuhkan sebuah strategi pembangunan yang matang. Utamanya menyangkut peran dan fungsi negara dalam menyelamatkan kepentingan nasional. Satu di antaranya sebagaimana dirumuskan melalui postulat ideologis, yaitu asas kekeluargaan. Dan tentunya, siasat menyikapi pihak asing dan kapitalisme transnasional, serta pelbagai implikasi ketergantungan yang sangat mungkin ditimbulkan dari hubungan yang tak seimbang.

Ekonomi Rakyat dan Kemandirian
Semenjak gelombang krisis menerpa Indonesia, kegamangan menghinggapi seluruh lini kebijakan publik yang ditelurkan pemerintah. Tanda-tanda mengkhawatirkan menyergap dalam bentuk enggannya sebagian besar investor asing menanamkan modal di Indonesia. Termasuk juga di dalamnya bantuan setengah hati dari lembaga-lembaga donor seperti IMF maupun World Bank, yang memberi kesan kuat terjadinya boikot diam-diam dari masyarakat internasional (international community), khususnya Amerika, terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Habibie terdahulu.
Ekonomi Indonesia diilustrasikan oleh Hal Hill sebagai the strange and sudden death of a tiger, harimau yang semula kuat namun akhirnya mati secara mengejutkan.

Dampaknya yang paling terasa dihadapi oleh dunia industri yang banyak memanfaatkan komponen asing dalam pengelolaannya. Roda industri relatif macet dan bahkan berhenti total. Ada banyak pabrik berhenti beroperasi akibat pailit dan terhentinya bantuan lunak serta proteksi yang sebelumnya biasa diterima.

Bagi hampir sebagian besar Dunia Ketiga, industrialisasi memang menjadi persoalan yang tak pernah berujung untuk dibahas. Berbagai teori lahir dan berkembang untuk menjawab berbagai soal kemiskinan, pengangguran, kebebasan, dan soal-soal kemanusiaan lainnya. Belum lagi anak-anak yang harus menjadi korban dari kerasnya—untuk tidak mengatakan jahatnya—pembangunan. Padahal di pundak merekalah negeri ini pastinya akan diwariskan.

Dalam kegelisahan semacam itu, ada sejumlah fenomena yang justru menarik untuk dicermati. Yaitu, ketika roda perekonomian yang terpuruk dalam banyak pandangan analis ekonomi justru tidak terlalu memberikan dampak yang begitu berarti di sejumlah kawasan. Atau setidak-tidaknya, roda perekonomian berjalan tidak sepesemis prediksi sejumlah ekonom yang menggunakan pendekatan makro-deduktif. Yang tak jarang sampai pada kesimpulan yang terkesan dangkal, terburu-buru, dan terlampau berani.

Prof. Mubyarto dalam beberapa ulasannya mengungkapkan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah. Ia menyebutnya dengan istilah ekonomi rakyat—bukan ekonomi kerakyatan—sebagai sokoguru yang mampu menyangga pertahanan ekonomi di tengah badai krisis yang menimpa Indonesia. Yang utamanya dicirikan oleh terbangunnya kemandirian rakyat dalam menjalankan aktivitas perekonomian. Tercatat, pertumbuhan ekonomi yang hampir mencapai 5% di tengah keterpurukan usaha-usaha besar menandakan perekonomian sepenuhnya digerakkan oleh usaha kecil, atau dalam istilah Mubyarto disebutnya dengan istilah ekonomi rakyat.

Sudden death, sebagai istilah yang banyak digunakan oleh para analis untuk menggambarkan situasi perekonomian Indonesia, nyata-nyata tak terbukti. Sebaliknya, roda perekonomian rakyat tetap berjalan seperti biasa. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sejumlah industri yang di dalamnya melibatkan komponen impor (import content).

Demikian pula yang terjadi dengan ranah industri yang di dalamnya terkandung modal asing. Dalam hubungan yang terjalin antara negara-negara metropolis dengan satelit memang tersimpan kecurigaan. Bahwa relasi yang tercipta bukanlah simbiosis mutualisma, melainkan model penghisapan yang berlangsung dengan cara yang sangat samar.

Dari seluruh Dunia Ketiga yang tengah menjalankan pembangunan, hanya terdapat sejumlah kecil di antaranya yang secara efektif mampu bersaing.

Atau lebih tepatnya, sedikit lebih maju dibanding dengan Dunia Ketiga lainnya, meskipun itu sama sekali tak berarti berdiri sama tinggi dengan negara metropolis.

Menghadapi kenyataan tersebut, boleh jadi Andre Gunder Frank benar dalam tesisnya mengenai kemunduran pembangunan (the underdevelopment of development).

Bahwa negara-negara metropolis tak pernah memiliki kesungguhan—dalam pengertian dukungan aksi dan bukan sekadar empati—untuk mendorong negara-negara Dunia Ketiga mengejar ketertinggalannya. Sebaliknya, mereka tetap dalam kepentingan menciptakan ketergantungan hingga batas waktu yang tak pernah dapat ditentukan.

Akan tetapi, alternatif solusi yang ditawarkan Frank juga tak kalah kompleksnya. Me-mutus hubungan sama sekali dengan negara-negara industri sama artinya dengan menenggelamkan kapal yang memang sudah kropos.

Meski dalam batas tertentu Frank tetap mampu memberikan argumentasi yang gigih berkaitan dengan perampasan nilai lebih oleh negara metropolis dari negara-negara satelit lewat penanaman modal asing, ataupun lewat pinjaman lunak.

Pada kenyataannya, globalisasi dan liberasi perdagangan di era sekarang adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari, di samping memang sama sekali tidak bijak untuk menolaknya. Indonesia, dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, tak bisa menghindari diri dari kenyataan tersebut.
Untuk itu, sebuah strategi yang matang menghadapi persaingan pasar bebas mutlak diperlukan. Sebab bila tidak, Indonesia akan terus diterpa badai krisis panjang yang mengimplikasikan kebangkrutan Indonesia sebagai sebuah negara.

Untuk mengawali langkah pembangunan ekonomi di Indonesia, atau mungkin Dunia Ketiga lainnya, masyarakat perlu diajak untuk mengembalikan konsep asas kekeluargaan. Hal ini penting sebagai tameng yang mampu menghadapi persaingan pasar bebas yang kian kuat. Untuk itu, sebagaimana ditegaskan Mubyarto, penerjemahan asas kekeluargaan dalam konstitusi tak selayaknya dihapuskan. Bahwa telah terjadi distorsi di masa lalu atas interpretasi kekeluargaan tak sama artinya dengan menghapuskan substansi gagasan itu sendiri.

Karena memang asas kekeluargaan tak selayaknya dimaknai sebagai relasi kekerabatan (kinship) yang mengakibatkan berkembangnya penyakit nepotisme. Sejatinya, kekeluargaan merupakan asas yang dilandasi oleh kepercayaan (trustee) dan persaudaraan (brotherhood).

Kedua landasan dari asas kekeluargaan dalam konteks pembangunan ekonomi yang mandiri adalah terbentuknya semangat dan solidaritas kolektif antar warga negara. Yang diimplementasikan dalam wujud pemberdayaan sepenuh hati konstruksi ekonomi rakyat. Mulai dari tahap perencanaan hingga distribusi dan penikmatan atas hasil-hasilnya.

Sehingga, bukan saja semangat persaudaraan yang terbentuk, tetapi juga berlanjut pada terbangunnya fundamen ekonomi yang kokoh. Karena sepenuhnya berangkat dari upaya pemberdayaan masyarakat.

Termasuk di dalamnya adalah perdagangan antar provinsi yang berorientasi mengurangi ketergantungan terhadap komponen import, kapitalisme transnasional, dan kemungkinan intervensi pihak asing lewat tekanan ekonomi.

Peran Negara Sosial
Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, pembangunan yang didisain oleh negara tak bisa dilepaskan dari tujuannya untuk mengabdi terhadap sasarannya sendiri. Dan sasaran pembangunan adalah rakyat.

Di lain pihak, rakyat yang memiliki hak-hak kewarganegaraan pun harus membuat dan mematuhi kontrak sosial yang dibuatnya bersama negara.

Karenanya, pembangunan pun mempersyaratkan dimensi demokrasi sebagai sebuah kemutlakan. Di mana warga negara berhak untuk terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan.
Tak cukup hanya dengan mengandalkan negara sebagai pihak yang merumuskan agenda pembangunannya sendiri. Sementara warga negara ditempatkan pada posisi marjinal, atau bahkan mungkin dieliminasi perannya.

Hal demikian bukan hanya akan menghasilkan pemerintatahan otoritarian, tapi juga berpeluang besar berakhir dengan kegagalan.

Dalam konteks ini, pendekatan yang dirumuskan oleh Amartya Sen bisa digunakan untuk menjelaskan pentingnya aspek demokrasi dalam pembangunan.
Sen mempostulasikannya dalam jargon development as freedom. Dalam banyak kesempatan, Sen menjelaskan faktor lingkungan yang diyakininya berkorelasi secara positif terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat.

Dan kebebasan, sebagai satu faktor lingkungan negara, disebutnya sebagai variabel paling signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Lebih jauh, kebebasan diyakininya pula mampu menjawab berbagai persoalan seperti kelaparanan, pengangguran, dan kemanusiaan lainnya.

Akan tetapi kebebasan ini tentu saja tak dimaksudkan untuk membenarkan liberalisme murni. Yang kejam, amoral, dan bahkan bertentangan dengan tuntutan keadilan seperti yang dicatat dalam sejarah kapitalisme abad 18.

Kebebasan dan jaminan demokrasi dalam konteks pembangunan adalah berlangsungnya partisipasi warga negara dalam keseluruhan proses kelahiran kebijakan. Di mana rakyat mendapatkan kesempatan yang sama dan distribusi kapital yang relatif merata.

Oleh karena itu, negara tak bisa berlepas diri dari tanggung jawab untuk mensejahterakan warganya. Demokrasi dalam pembangunan harus dipahami dalam konteks penyebaran seluas-luasnya kesejahteraan masyarakat secara relatif merata.

Kehadiran negara yang bertanggung jawab dan memfungsikan dirinya dalam mengusahakan kesejateraan masyarakat ini disebut sebagai negara sosial (bukan sosialis).
Bentuk praksis dari tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan umum dapat diwujudkan melalui keberpihakan terhadap kelompok-kelompok ekonomi rakyat.

Di mana negara diberi kewenangan mengintervensi pasar yang dimaksudkan untuk melindungi industri kecil dan kelompok-kelompok ekonomi rakyat lainnya. Termasuk juga di dalamnya distribusi yang adil dan merata kepada seluruh kelompok warga negara.
Sehingga keadilan sosial (social justice) dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Yaitu keadilan yang pelaksanaannya tergantung pada struktur proses-proses ekonomis, politis, sosial, budaya, dan ideologis dalam masyarakat.

Pun demikian, kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya intervensi yang berlebihan dari negara—yang dapat berakibat pada terbentuknya pemerintahan otoritarianisme—dapat dihindari melalui prinsip subsdiaritas negara. Di mana negara diberikan kewenangan untuk terlibat dalam urusan-urusan yang tak bisa diselesaikan oleh masyarakat sendiri.
Seperti yang terjadi dalam soal kesejateraan yang tak bisa diselesaikan sendiri oleh masyarakat yang menghadapi pasar bebas dan globalisasi.

Di tingkat semacam itulah negara berwenang untuk terlibat. Dan aspek-aspek pembentukan negara kesejahteraan (welfare state) dapat terlaksana.
Singkatnya, berhadapan dengan liberalisme, prinsip subsidiaritas menegaskan tanggung jawabnya untuk mendukung dan melengkapkan usaha warga negara mencapai kesejateraan.

Sedangkan terhadap etatisme, prisip subsidiaritas membatasi kewenangan negara hanya pada pelayanan-pelayanan yang tak mampu diselesaikan oleh konstruksi ekonomi dan politik warga negara. Jadi, subsidiaritas negara sama sekali berbeda dari otoritarianisme, terlebih totalitarianisme.
Negara yang menyatakan keberpihakannya terhadap rakyat lemah akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraannya secara lebih luas.

Yang sekaligus memberikan implikasi pada terbentuknya masyarakat kuat. Di mana demokrasi menjadi menjadi ciri utama dalam keseluruhan proses pembangunan. Sementara kesejahteraan umum tetap menjadi perhatian penting sebagai tanggung jawab yang mesti dicapai negara. Hasil akhirnya, tentu saja terbangunnya sebuah negara kuat—tidak sama dengan negara totaliter—yang efektif, mandiri, dan berwibawa.

III. Penutup

Kosakata pasar bebas semakin ramai dibincangkan, terutama sejak praktek ekonomi terencana menemui kegagalan di bekas negara-negara komunis. Di Indonesia, kosakata ini makin bertambah ramai khususnya, ketika terjadi krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.

Beberapa pakar menyebutkan, tidak ada pasar bebas di Indonesia dan itulah penyebab terjadinya krisis. Mereka menyebut sejumlah kriteria atas pernyataannya itu:

4. Banyaknya regulasi yang membatasi aliran masuk dan keluar barang, jasa, dan uang;

5. Dominasi dan monopoli prusahaan negara (BUMN) pada sektor-sektor strategis;

6. Dominasi dan monopoli kapitalis-kapitalis kroni yang dekat dengan keluarga cendana, dan bank sentral yang tidak independen.

Pasar bebas merupakan hal yang tidak perlu kita khawatikan apabila kita dapat memanfaatkan dengan baik, seperti efisiensi industri akan meningkat pesat, kemudian tiap negara juga dapat meningkatkan produksi yang kompetitif. Hambatan-hambatan tarif bea masuk, serta pembatasan kuantitatif atau kuota juga dihapuskan. Dampaknya yang paling terasa dihadapi oleh dunia industri yang banyak memanfaatkan komponen asing dalam pengelolaannya. Roda industri relatif macet dan bahkan berhenti total. Ada banyak pabrik berhenti beroperasi akibat pailit dan terhentinya bantuan lunak serta proteksi yang sebelumnya biasa diterima.

Dalam konteks pasar bebas negara pembangunan (development states) mempersyaratkanadanya dasar institusi politik mapan yang menyediakan pengambil kebijakan suatu insentif dan kemampuan untuk memdesiain dan melaksanakan kesepakatan institusional yang kondusif bagi pertumbuhan dan pembangunan. Di sini kemudian yang dibutuhkan bukanlah campur tangan pemerintah yang terbatas (minimal state), tetapi sebuah intervensi yang memungkinkan pemerintah bisa menangani secara baik (capable state), lebih-lebih jika tujuan dari intervensi tersebut adalah untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang bisa terus stabil dengan latar belakang mekanisme pasar.

IV. Daftar Pustaka

Ade Priangani, Sigid Harimurti. 2004. Dinamika politik Luar Negeri Indonesia Pasca Orde Baru. Bandung: Centre for Political and Local Autonomy Studies C+ Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung.

Agus Haryadi. Negara, Masyarakat, dan Tantangan Globalisasi http://www.sinarharapan.co.id Jumat, 14 september 2001 Diakses pada tanggal 24 November 2007.

Erani, Ahmad Yustika. 2002. Pembangunan dan Krisis. Memetakan Perekonomian Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Pontoh, Coen. 2005. Pasar Bebas. http://coenpontoh.wordpress.com/2005/10/08/pasar-bebas/ diakses pada tanggal 24 November 2007

http://en.wikipedia.org/wiki/Free_Market

diakses pada tanggal 23 November 2007

http://www.suaramerdeka.com/harian/ Migrasi Buruh, Tantangan Pasar Bebas. Jumat 20 Juli 2007 Diakses pada tanggal 24 November 2007.

Author : Amir Mubarak Ahmad

Released : 28 November 2007