Give Away

Ternyata di zaman yang susah kayak begini masih ada juga yang memberi barang yang gratis alias free of charge.  Diantaranya

1.  www.saudiaramcoworld.com

(web ini merupakan perusahaan minyak internasional yang berdiri pada 75 tahun yang lalu, mengedarkan majalah yang diberi nama SAUDI ARAMCO WORLD bertujuan untuk memberi pemahamam silang budaya. Majalah yang terbit dwi bulanan ini bertujuan untuk memperluas budaya-budaya, sejarah, geografis Arab dan Dunia Muslim serta hubungannya dengan dunia Barat. SAUDI ARAMCO WORLD diedarkan tanpa biaya alias gratis, juga dengan biaya pengiriman, berdasarkan permintaan, kepada pembaca diseluruh duniadalam bentuk cetak, SAUDI ARAMCO WORLD, diterbitkan enam kali setahun: Januari/Februari (JF); Maret/April (MA); Mei/Juni (MJ); Juli/Augustus (JA); September/Oktober (SO) and November/Desember (ND). Edisi bulan Juli/Augustus 2000 merupakan awal mulanya pemberian nama SAUDI ARAMCO WORLD . Diterbitkan di Houston, Texas oleh Aramco Services company, sebuah perusahaan subsider dari SAUDI ARAMCO WORLD)     Saya sendiri sudah mendapatkan edisi Juli/Agustus 2008.

2.  www.2l.no

(Web ini memberikan piringan CD hitam yang berasal dari perusahaan Lindberg Lyd AS berasal dari ibukota Norwegia, Oslo. Juga diberikan secara free of charge, dengan free delivery. CD hitam ini berisikan 17 lagu yang sangat indah, kalau Anda bukan penikmat lagu klasik yaa itu tergantung taste Anda. Sayangnya untuk wilayah Indonesia dan Brazil sepertinya harus bersusah payah untuk mendapatkan CD hitam yang sangat menarik ini. Kirimkan alasan Anda, bahwa Anda sangat ingin sekali mendapatkan CD ini, ke email: lyd@lindberg.no beserta alamat yang sangat jelas agar CD ini bisa dikirimkan ke alamat Anda. Good Luck!)

3.  Corporate Body of the Buddha Educational Foundation (Taiwan). This organization reprints and distributes free Dhamma books from many Buddhist traditions, including Theravada.

  • Write to:
    Corporate Body of the Buddha Educational Foundation
    3F, 55, Sec.1, Hang-Chow S. Road
    Taipei
    Taiwan, ROC
    Tel: +886 2-2395-1198
    Fax: +886 2-2391-3415

klik aja link nya ya…

yup segitu dulu saja ya!

Dampak Hapusnya Subsidi BBM

STUDI DAMPAK PENGHAPUSAN SUBSIDI BBM TERHADAP PEREKONOMIAN, EFISIENSI DAN PELUANG USAHA BAGI PERTAMINA

Oleh: Brahmantio Isdijoso

Rekomendasi

Tampilnya sejumlah persoalan sebagai akibat dari pricing policy BBM yang dianut oleh Indonesia saat ini, menggugah kesadaran akan perlunya perubahan pricing policy BBM di Indonesia. Perubahan dalam kerangka long term pricing policy harus dilakukan secara bertahap, dengan mempertimbangkan existing condition pada setiap dimensi waktu. Hasil studi ini merekomendasikan empat tahap perubahan pricing policy BBM dalam jangka panjang, yaitu;

Tahap I: Subsidi zed Price. Merupakan tahap dimana subsidi BBM diturunkan hingga 20%, yang dilaksanakan tahun 2000 atau selambat-lambatnya pada kuartal pertama tahun 2001.

Tahap II: Zero Subsidy. Pada tahap ini harga jual BBM merefleksikan biaya produksinya, yang berarti tidak ada lagi subsidi dari pemerintah. Dengan mempertimbangkan; (i) penyusunan anggaran pemerintah dan dunia usaha yang dilakukan secara tahunan, (ii) kegiatan sosialisasi rencana kebijakan zero subsidy, serta (iii) krisis multi dimesi yang masih dihadapi Indonesia, maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan memerlukan waktu 2-3 tahun terhitung sejak tahap pertama diselesaikan.

Tahap III: Economic Price. Harga BBM yang dihasilkan kilang di Indonesia relatif tidak berbeda dengan harga BBM di kilang yang menjadi benchmark perdagangan BBM di dunia, seperti kilang di Singapura atau Belanda, ditambah dengan biaya lain (misalnya biaya distribusi). Mempertimbangkan kebutuhan waktu bagi industri perminyakan di Indonesia dalam menemukan teknologi yang memungkinkan berlangsungnya diversifikasi atau fleksibilitas dari kegiatan pengilangan minyak mentah menjadi BBM, maka perkiraan pelaksanaan tahap ini sekitar 2-3 tahun sejak tahap II selesai.

Tahap IV: Economic Price and Tax. Tahap dimana harga BBM di mulut kilang menyamai harga pasar internasional dan ditambah dengan pajak BBM. Penggunaan instrumen pajak sangat tergantung pada proses legislasi. Dengan pertimbangan tersebut maka pelaksanaan tahap ini diperkirakan sekitar 2-3 tahun.

Permasalahan

Beban subsidi BBM yang semakin berat menggelayuti keuangan negara, memicu pemikiran untuk mengurangi atau menghapuskan jenis subsidi tersebut. Sejalan dengan pemikiran itu muncul beberapa pertanyaan berikut;

š Seberapa besar dampak penghapusan subsidi terhadap; (i) masyarakat pengguna BBM menurut kelompok pendapatan, kelompok tempat tinggal, maupun kelompok usaha, (ii) perilaku struktural sektor ekonomi, dalam arti multiplier effect dari perubahan penggunaan jenis BBM oleh sektor ekonomi tertentu terhadap sektor ekonomi lainnya, (iii) keuangan negara (penerimaan negara versus pengeluaran negara), dan (iv) daya saing dan peluang usaha bagi Pertamina?

š Apakah subsidi BBM sebaiknya dicabut seluruhnya atau dicabut sebagian (dikurangi), dan apakah subsidi BBM dicabut sekaligus atau secara bertahap?

š Jika subsidi dikurangi, jenis-jenis BBM mana saja yang akan dihapus subsidinya? Jika subsidi dihapus secara bertahap, pentahapan seperti apa yang sebaiknya ditempuh pemerintah? Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian dan efisiensi serta peluang usaha Pertamina?

š Bagaimana setting pricing policy yang sebaiknya ditempuh pemerintah dalam rangka mencapai kondisi optimal untuk perekonomian maupun dalam rangka peningkatan daya saing dan peluang usaha Pertamina?

Tujuan

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan, maka studi ini bertujuan untuk ;

š Mengukur dampak penghapusan subsidi BBM terhadap kelompok masyarakat pengguna, perilaku struktural sektor ekonomi, dan beban keuangan negara, dengan skenario penghapusan subsidi BBM seluruhnya vs sebagian, atau penghapusan subsidi BBM sekaligus vs bertahap;

š Mengidentifikasi dampak penghapusan subsidi BBM terhadap daya saing dan peluang usaha bagi Pertamina; dan

š Merumuskan setting pricing policy yang sebaiknya ditempuh pemerintah dalam rangka mencapai kondisi optimal untuk perekonomian maupun dalam rangka peningkatan daya saing dan peluang usaha Pertamina.

Metodologi

š Pengukuran dampak penghapusan subsidi BBM terhadap terhadap kelompok masyarakat pengguna, perilaku struktural sektor ekonomi, dan keuangan negara, menggunakan pendekatan Computable General Equilibrium (CGE) INDORANI Model.

š Pengaruh penghapusan subsidi BBM terhadap efisiensi kegiatan produksi BBM oleh Pertamina, dianalisis dengan melakukan studi perbandingan terhadap struktur biaya produksi BBM perusahaan sejenis Pertamina

š Perkiraan peluang bisnis Pertamina, dianalisis dengan melakukan kajian pasar terhadap produk-produk substitusi Pertamina terhadap jenis produk BBM yang subsidinya akan dikurangi/dihapus.

Temuan

š Pricing policy BBM yang ditempuh pemerintah saat ini, menimbulkan paling tidak 5 bentuk dampak negatif, yaitu; (i) terjadi target error dalam pemberian subsidi BBM, sebesar 25%, 40%, 35,2%, 92% dan 93% masing-masing untuk jenis premium, solar, minyak tanah, minyak bakar dan minyak diesel; (ii) terjadi inefisiensi dalam penggunaan dan penyelundupan BBM; (iii) beban APBN semakin berat; (iv) terjadi distorsi harga pada barang dan jasa yang menggunakan BBM sebagai input produksi; (v) Pertamina terhambat untuk melakukan ekspansi usaha.

š Secara umum, penurunan subsidi BBM masih memiliki dampak positif hingga tingkat penurunan 20%. Lebih dari itu, kenaikan harga BBM sebagai implikasi dari penurunan subsidi akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang cukup besar terhadap makroekonomi, kesejahteraan rumah tangga maupun aktifitas produksi dalam perekonomian sektoral. Namun demikian, penyesuaian yang dilakukan konsumen dengan adanya penurunan subdisi BBM ini akan menghasilkan dampak yang lebih positif dibandingkan jika tidak dilakukan penyesuaian.

š Berikut ini gambaran berbagai dampak dari penurunan subsidi BBM sebesar 20% hasil simulasi model CGE INDORANI dengan mengasumsikan adanya penyesuaian yang dilakukan oleh para pengguna BBM;

w Pada aspek makroekonomi, terjadi; (i) kenaikan inflasi sebesar 0,944%, (ii) peningkatan PDB riil sebesar 0,029%, (iii) peningkatan investasi sebesar 0,198%, (iv) peningkatan kesempatan kerja sebesar 0,115%, (v) peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga riil sebesar 0,183%, (vi) peningkatan penerimaan pemerintah sebesar 4,572%, (vii) peningkatan tabungan pemerintah sebesar 3,578%, (viii) penurunan daya saing sebesar 1,104%, (ix) penurunan ekspor sebesar 0,556%, dan (x) peningkatan impor sebesar 0,993%.

w Pada kelompok rumah tangga, kenaikan harga BBM hanya berpengaruh negatif pada kelompok rumah tangga petani menengah dan kaya (pemilik lahan >2 Ha) dengan menurunnya tingkat konsumsi riil masing-masing sebesar 0,055% dan 0,127%. Hal ini dipengaruhi oleh tempat tinggal kelompok tersebut yang umumnya terletak di desa-kecamatan, yangmana relatif sulit untuk melakukan substitusi bahan bakar.

w Pada perekonomian sektoral, aktivitas produksi mengalami penurunan tetapi pada tingkat yang tidak terlalu signifikan atau kurang dari 1% di hampir seluruh sektor produksi. Hal ini dipengaruhi oleh proporsi komponen BBM terhadap total biaya produksi di sektor-sektor ekonomi yang berkisar di bawah 1%.

w Pada aspek peluang usaha bagi Pertamina, akan terjadi peluang peningkatan konsumsi gas yang merupakan produk substitusi bagi Industrial Diesel Oil (IDO), Automotive Diesel Oil (ADO) dan premium yang selama ini memperoleh subsidi. Dengan memperhitungkan hasil simulasi pada sektor produksi dan memperhatikan peluang pergeseran perilaku konsumen (antara 20% – 100%), utamanya pada sektor kelistrikan dan transportasi sebagai konsumen terbesar, maka dalam jangka pendek konsumsi gas akan meningkat sebesar 1.614,7 juta MMBTU (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau 968,8 juta MMBTU (jika 40% konsumen beralih ke gas). Dalam jangka panjang peningkatan konsumsi gas sebesar 5.923,2 juta MMBTU (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau 3.553,9 juta MMBTU (jika 40% konsumen beralih ke gas). Implikasinya, penerimaan Pertamina juga akan meningkat dalam jangka pendek sebesar Rp 793,5 milyar (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau Rp 317,4 milyar (jika 40% konsumen beralih ke gas), dan dalam jangka panjang sebesar Rp 2,98 trilyun (jika 100% konsumen beralih ke gas) atau Rp 1,19 trilyun (jika 40% konsumen beralih ke gas).

Source:

Fiskal

Arti Penting Timur Tengah Bagi Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

Arti Penting Timur Tengah Bagi

Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

- Andrias Darmayadi, S.IP, M.Si * -

Penyerangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban tokoh Hamas Syekh Ahmad Yassin membuat harapan perdamaian antara Israel– Palestina makin meredup. Pertikaian berlarut-larut yang memakan waktu lama belum menunjukkan titik terang kepada upaya nyata terhadap penuntasan konflik ini.

Menarik untuk dilihat peranan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang selalu mengaktualisasikan dirinya sebagai polisi dunia yang merasa bertanggung jawab atas nama perdamaian dunia dalam pertikaian Israel– Palestina ini.

Sikap yang ditunjukkan AS dalam upaya penyelesaian permasalahan ini selalu setengah hati, sangat berbeda dengan sikap AS dalam menyikapi pertikaian di Timur Tengah lainnya, yang dianggap dapat mengganggu kepentingan nasional AS, seperti pembelaan terhadap Kuwait atas invasi Irak, (yang akhirnya menjadi suatu sejarah panjang yang penuh dengan muatan-muatan politik dan rekayasa AS) maupun serangan “membabi buta” dengan tuduhan terorisme kepada kelompok-kelompok Islam di berbagai negara.

Baru-baru ini Resolusi DK PBB yang mengutuk serangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban pemimpin Hamas tersebut diveto oleh AS. Dari hal ini menarik untuk dilihat latar belakang, motivasi serta tinjauan kepentingan AS kepada Israel, yang membuat Israel mempunyai tempat tersendiri di “hati” AS, serta menarik pula untuk melihat kepentingan AS secara umum di kawasan Timur Tengah.

Posisi Israel bagi Amerika

Mengapa Israel begitu “dianak-emaskan” oleh AS di antara negara-negara Timur Tengah lainnya, ketika pada sisi lain justru Israel dengan Zionisnya kerap kali dianggap sebagai “biang kerok” konflik oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri.

Dari kaca mata AS sebenarnya tidak ada motivasi atau alasan ekonomi yang khusus bagi hubungan kedua negara, tetapi lebih merupakan hubungan strategis, sedangkan kepentingan AS secara ekonomi lebih mengacu kepada negara-negara Arab di Timur Tengah, terutama sejak tahun 1947 AS telah menjadi pengimpor minyak mentah dari kawasan ini, baik untuk kepentingan nasional maupun untuk mendukung strategi globalnya.

Tanpa adanya suplai minyak yang memadai, baik perusahaan-perusahaan AS maupun mesin-mesin perang (NATO) dan dukungan kepada Eropa Barat tidak akan berfungsi secara efektif.

Untuk pengamanan jalur-jalur tersebut, AS memerlukan negara pendukung yang strategis. Karena negara-negara Arab dan Timur Tengah pada awalnya tidak menyediakan fasilitas tersebut, maka satu-satunya bantuan adalah dari Israel. Dalam kerangka strategi ini pula AS memberikan bantuan ekonomi secara besar-besaran terhadap Israel, agar Israel tumbuh menjadi sekutu yang tangguh.

Namun di sisi lain, latar belakang eratnya hubungan AS – Israel sudah ada sejak dahulu, sejak negara Yahudi belum ada, yaitu kuatnya kelompok Yahudi di AS. Mereka kemudian mendominasi pertimbangan-pertimbangan kebijaksanaan AS terhadap Israel.

Orang-orang Yahudi di AS yang tergabung dalam ratusan organisasi kelompok kepentingan, dari yang moderat sampai kepada yang ekstrim, secara aktif berusaha mempengaruhi kebijakan Washington untuk mendukung Israel. Istilah “Lobby Yahudi” untuk menggambarkan sekitar lebih dari 32 kelompok Yahudi Utama yang melibatkan diri dengan Israel dan mempengaruhi kebijakan AS terhadap Timur Tengah untuk membela kepentingan Israel.

Kelompok yang paling berpengaruh adalah American Israel Public Affairs (AIPAC) dan Conference of Major Jewish Organizations (CPMAJO). CPMAJO merupakan badan koordinasi pengkajian dan kegiatan mengenai masalah –masalah  yang berkaitan dengan Israel maupun Yahudi di AS.

Fungsi badan ini adalah untuk menginterpretasikan pandangan dan keinginan Israel kepada AS. Sementara AIPAC memfokuskan kegiatannya dalam mempengaruhi kongres, dan CPMAJO lebih aktif untuk mempengaruhi badan eksekutif.

Disamping membantu kegiatan kongres dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan Israel, kelompok-kelompok ini juga melaksanakan pengumpulan dana. Dana yang diperoleh setiap tahun berasal dari sekitar 11.000 penyumbang. AIPAC tidak secara langsung mendistribusikan dananya kepada calon-calon pemilihan umum, baik dalam tingkat negara bagian maupun nasional, seperti yang dilakukan  Political Action Committee (PAC).

PAC sebagai komite aksi politik merupakan bentuk lain dari cara-cara tradisional suatu organisasi politik di AS. Berbagai PAC bermunculan untuk mewakili segenap kelompok-kelompok etnik maupun kepentingan di seluruh negara bagian, termasuk organisasi Yahudi yang terkenal secara politik lebih aktif. Dengan segala upayanya AIPAC mengaktifkan masyarakat Yahudi, sehingga PAC Yahudi memberikan dukungan finansial yang dibutuhkan lobby Yahudi atau Israel.

Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan baik dengan anggota-anggota kunci di Senat ataupun di parlemen lebih penting dari pada hubungan dengan para pejabat tingkat regional. Meskipun demikian mereka yang duduk di badan legislatif pada tingkat negara bagian juga dapat berperan dalam pembentukan pendapat umum.

Pendapat umum merupakan hal penting dan pemerintah Israel apabila dilihat dari perlunya dukungan masyarakat dalam penentuan kebijakan AS terhadapnya. Untuk itu melalui perwakilannya di Washington, Israel kerap kali harus melakukan kampanye informasi publik ( Hazbara ) di AS, hal ini dirasakan perlu karena Israel juga harus menghadapi anggota masyarakat maupun pemerintah anti Israel.

Oleh karena itulah sangat penting bagi Israel untuk selalu dapat menciptakan citra baik, terutama di mata mereka yang sangat tradisional merupakan pendukungnya.

Selain dari sisi pertimbangan strategi globalnya di kawasan Timur Tengah yang membutuhkan sekutu yang tangguh di kawasan tersebut, besarnya dukungan AS terhadap Israel sejak negara ini berdiri pada tahun 1948 adalah juga dengan pertimbangan lainnya yaitu, Pertama, disebabkan oleh prihatinnya AS dengan nasib bangsa Yahudi  di masa Nazi-Jerman, kedua, disebabkan oleh mayoritas persamaan agama.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut hingga saat ini Israel masih sangat memanfaatkan posisi strategisnya tanpa takut yang berlebihan yang disebabkan keyakinan akan mendapat legalitas dan bantuan negara superpower tunggal AS.

Irak dan Kawasan Timur Tengah

Irak sebenarnya adalah negara yang unik bagi AS terutama setelah negara ini dipimpin oleh Saddam Hussein. Irak sebelumnya adalah pembeli tetap senjata-senjata dari AS atau dengan kata lain Irak adalah konsumen yang potensial bagi perdagangan senjata AS.

Hal ini sangat  memungkinkan, sebab kebijakan luar negeri Irak memang cenderung bersifat konfrontatif. Ini dapat dilihat paling tidak dalam dua dekade terakhir Irak hampir tidak pernah lepas dari konfrontasi maupun konflik dengan negara lain baik dalam satu kawasan maupun dengan di luar kawasan. Perang Iran – Irak kemudian invasi Irak terhadap Kuwait yang berbuntut serangan bertubi-tubi dari AS yang dilanjutkan embargo ekonomi terhadap Irak adalah bukti dari kebijakan luar negeri Irak yang cenderung konfrontatif.

Titik tolak keadaan yang sangat merugikan Irak memang dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait, di sini dapat kita lihat betapa pentingnya negara-negara di kawasan Timur Tengah bagi AS.

Kebijakan AS di Timur Tengah pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan strategisnya dan berhubungan dengan politik globalnya. Lebih dari tiga dekade, dahulu ketika Uni Soviet masih menjadi kompetitor berat AS, kepentingan strategi AS di regional adalah merupakan tindakan preventif terhadap dominasi Uni Soviet dengan menghindari konfrontasi langsung.

Usaha ini dilakukan dengan membawa negara-negara satelit AS di Timur Tengah. Namun saat ini setelah Uni Soviet bubar kepentingan AS adalah mempertahankan hegemoninya di kawasan ini dan menjaga eksistensi strategi globalnya yang banyak memerlukan dukungan dari kawasan Timur Tengah.

Faktor geografis Timur Tengah memiliki arti strategis yang sangat penting bagi AS. Kawasan yang meliputi Eropa, Asia dan Afrika menjadikannya sebagai jembatan hubungan Laut Tengah, Teluk Persia dan Laut Hitam, telah lama menjadi daerah lintas maupun transit kapal-kapal barang di AS. Terusan Suez sebagai jalan pintas untuk membawa bahan bakar minyak dari negara Arab ke Eropa Barat, Jepang dan AS menambah arti strategis kawasan ini.

Minyak sebagai sumber daya alam terbesar di Timur Tengah dan di dunia juga merupakan kepentingan strategis bagi AS. Untuk mempertahankan keunggulan ekonomi negara-negara Barat dan Jepang perlu disuplai bahan bakar minyak yang memadai bagi kelangsungan industrinya, oleh karenanya setiap usaha menguasai, mendominasi atau menyerang negara-negara di Timur Tengah yang produktif dalam menghasilkan minyak bumi merupakan ancaman bagi kepentingan vital AS.

Hal inilah yang dialami oleh Irak ketika menginvasi Kuwait, AS sangat berkepentingan dengan Kuwait sebab AS mempunyai kilang-kilang minyak di Kuwait yang sangat besar pengaruhnya dalam menyuplai minyak untuk kepentingan industrinya.

Selain itu, kawasan Timur tengah merupakan kawasan yang sangat potensial bagi instrumen kebijakan luar negeri yang mengkomersialkan perdagangan senjata. Kebijakan penjualan persenjataan AS di Timur Tengah selama ini sering dipandang sebagai suatu cara untuk menciptakan, mempertahankan maupun meningkatkan pengaruhnya terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah tanpa harus menghadirkan kekuatan militer AS secara langsung.

Hal ini mengakibatkan perlombaan senjata berkembang di Timur Tengah. Keadaan ini memang sangat dimungkinkan sebab secara historis negara-negara di kawasan Timur Tengah dipenuhi sejarah konlik yang panjang sehingga banyak memerlukan pasokan senjata yang memadai.

Dengan alasan-alasan yang disebutkan di atas tadi mulai dapat kita lihat mengapa AS sangat berkepentingan di kawasan yang selalu panas ini. Dapat pula kita lihat dikotomi permasalahan Irak dan Israel dalam sikap AS. Irak dianggap oleh AS sebagai ancaman yang dapat merusak kepentingan strategi global mereka di kawasan Timur Tengah. Dan juga bersikerasnya AS dalam usaha menyerang Irak adalah salah satu dari upaya show of power.

AS yang ingin kembali menunjukkan dominasinya terutama sekaligus sebagai ajang “promosi” untuk penjualan senjata-senjata canggihnya. Penyerangan terhadap Irak adalah juga merupakan bagian dari strategi kepentingan George. W. Bush yang selama ini belum mendapatkan “moment” untuk menunjukkan eksistensi dan prestasi dirinya sebagai salah satu presiden AS yang cukup berpengaruh serta pula sebagai bagian dari kampanye Bush dalam upaya mempertahankan kursi kepresidenan.

Sedangkan dalam kasus Israel, AS  banyak sekali memberikan toleransi bahkan dukungan terhadap negara Zionis ini karena memang secara strategis hanya Israel lah yang menjadi sekutu paling loyal bagi AS (dan memang diciptakan menjadi sekutu) di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan AS “bermain” dengan aman dalam kawasan ini. Sehingga wajar jika AS tidak pernah dapat bersikap tegas dalam menyelesaikan konflik Israel–Palestina yang berkepanjangan.

Sekali lagi posisi AS sebagai negara adidaya tunggal memungkinkan mereka melakukan apa saja demi merealisasikan kepentingan strategi global politik luar negeri mereka. PBB sebagai lembaga yang paling berwenang untuk memberikan aturan-aturan dalam menciptakan perdamaian di dunia juga tidak dapat bersikap independen karena disebabkan sangat besarnya pengaruh AS dalam organisasi ini.

Oleh karena itulah keadilan dan perdamaian di dunia tampaknya masih akan menjadi sebuah utopia selama sang adidaya tunggal ini tidak mempunyai batasan legalitas dan moral dalam menjalankan strategi global kepentingan politik luar negerinya.

* Penulis adalah dosen tetap Jurusan Hubungan Internasional Unikom.

[dari artikel website HI-Unikom versi perdana tahun 2004]

Source:

http://hi.unikom.ac.id/variankonteks.htm

Israel Timeline War

Israel Timeline War

Israel dalam memperebutkankan tanah yang telah dijanjikan terlibat dalam sejumlah perang. Di bawah adalah daftar perang di mana Israel terlibat:

Dalam suatu kekuasaan, Suatu perang negara yang legal telah terjadi antara Israel dan musuh-musuh Arab pada awal perang pertama pada 1948. Mesir menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1979, dan Jordania membuat perdamaian pada 1994. otoritas Palestina, yang dikepalai Yassir Arafat dan faksi Al-Fatah dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menegosiasikan semi perdamaian, yang pada pertengahan 2000, telah menghancurkan perusakan melalaui Intifada Al-Aqsa. Grup Palestina lainnya, yang hampir seluruhnya Hamas, telah berperang dengan Israel secara berkelanjutan. Meskipun Israel dan hampir seluruh bangsa Arab secara teknis dalam perang negara secara berkelanjutan, terkecuali tertulis, letusan perang khusus dalam perlawanan yang dipertimbangkan sebagai pemisahan perang.

Perang kemerdekaan Israel / “al-Nakba” (Sang Malapetaka) (1948-1949)—Dia atas kemerdekaan, Israel dulu di invasi oleh enam tentara bangsa Arab: Mesir, Syria, Transjordan (kini Jordania), Lebanon, Irak, dan Saudi Arabia. Sebagi tambahan, tentara lokal Palestina juga melawan Yahudi Israel.

Serangan Qibya (Oktober, 1951)— Pasukan Israel, dipimpin oleh Mayor Ariel Sharon (Perdana Menteri Israel 2001-2006) menghancurkan lusinan bangunan di West Bank (Jordania) kota Qibya. Korban meninggal orang sipil mencapal 69 orang.

Perampasan Mesir Terhadap kapal Israel Bat Galim (Musim panas, 1954)—Mesir merampas kapal Israel Bat Galim sebagi percobaan memasuki Kanal Suez. Menurut berbagai macam perjanjian internasional, Kanal Suez dimaksudkan untuk dapat dimasuki kapal laut dari semua bangsa. Provookasi ini memerparah tensi antara Mesir dan Israel.

Serangan Gaza (Feb. 28, 1955)—Pasukan Israel memimpin suatu serangan, suatu respon untuk mengulangi penyerangan gerilya dan merampas sebuah kapal Israel oleh Mesir, hasilnya kematian untuk 51 prajurit Mesir dan 8 pasukan Israel. Serangan ini merupakan yang terbesar dari jenis perlawanan melawan pasukan Arab sejak akhir peperangan dari Awal Perang Arab – Israel pada 1949.

Perang Sinai (1956) [Juga dikenal sebagai Perang Suez]–Invasi dan penaklukan sementara semenanjung Sinai Mesir oleh Israel, sementara Perancis dan Inggris Raya merampas Kanal Suez.

Konflik Palestina-Israel (1960-sekarang)—Israel menghadapi gerilya dan peperangan teroris dari beberapa pasukan Palestina, paling banyak yang bersatu di bawah PLO, dipimpin oleh Yassir Arafat. Perkelahian terkini melibatkan Israel melawan grup-grup militant religius seperti Hamas and Jihad Islam, dan juga Otoritas Arafat Palestina. (Ini meliputi peperangan gerilya Palestina melawan Israel dari 1960-an, Intifada asli (1988-1992) dan yang terkini Intifada “Al-Aqsa” (2000-sekarang), dan West Bank (2004) dan Invasi Gaza (2006) oleh Israel dan serangan bunuh diri orang Palestina dan roket-roket yang dengan cepat menginvasi.

Serangan Al-Fatah Pertama (PLO) (Dec. 31, 1964)—Yassir Arafat’s faksi Al-Fatah dari PLO memimpin serangan pertamanya kedalam Israel dari Lebanon.

Pertempuran Perbatasan Israel-Syria dan Pertempuran Udara (Nov. 13, 1964)—Israel dan Syria keduanya mengklaim kedaulatan melalui beberapa zona Demiliterisasi sepanjang perbatasan mereka. Zona ini diatur sebagai bagian dari isyarat untuk menghentikan tembakan mengakhiri Awal Perang Arab-Israel. Israel mencoba menanam lahan dalam Zona ini, sementara Syria mengembangkan suatu proyek untuk mengalihkan air dari sungai Jordan, yang mana Israel membagi dengan Syria dan Jordan. Pasukan Syria seringkali menembak traktor Israel karena mencoba menanam di Zona tersebut, sementara itu Israel mencari cara untuk menginterupsi proyek pengalihan Syria. Pada 13 November 1964, pangkalan pasukan Syria diatas puncak Golan, sebuah dataran tinggi memandang dari atas kawasan Israel dalam bukit Sungai Jordan, menembak traktor Israel. Pasukan Israel kembali menembak. Artileri Syria lalu menargetkan penduduk desa Israel. Israel merespon dengan serangan udara pada tentara Syria. Peperangan ini berakhir dengan kematian 4 orang Israel dan 9 orang cedera. Syria banyak kehilangan termasuk dua tank dan mesin-mesin melibatkan proyek pengalihan. Salah satu hasil dari benturan ini percepatan akuisisi Syria dan pesawat pejuang buatan Soviet yang lebih baik. (Oren, 2001).

Serangan West Bank (Mei 1965)—Setelah serangan gerilya Palestina menghasilkan kematian 6 orang Israel, militer Israel memimpin penyerangan di West Bank kota Qalqilya, Shuna dan Jenin.

1966Israel melaporkan 93 insiden sepanjang perbatasan.

Serangan West Bank (30 April 1966)—Pasukan Israel menghancurkan diatas dua lusin rumah di West Bank kota Rafat, membunuh 11 orang sipil. Penyerangan ini merupakan respon dari serangan Palestina terhadap Israel. Paling banyak menyerang Israel.

Serangan West Bank (1966)—Pasukan Israeli menyerang wilayah Hebron dari West Bank. Serangan ini menghasilkan kematian 8 orang sipil dan pemadam kebakaran dengan tentara Jordan.

Pertempuran perbatasan Israeli-Syria (Musim panas, 1966)—Lanjutan artileri dan duel-duel tank sepanjang Puncak Golan didepan dipimpin oleh :

Petempuran Udara Israeli-Syria (7 Juli 1966)—Merespon pada kelanjutan pertempuransepanjang perbatasan, pesawat Israel menyerang pasukan Syria, menghasilkan hilangnya salah satu pesawat pejuang Syrian MiG.

Petempuran Udara/ Laut Israel-Syria (15 Agustus 1966)—Setelah sebuah kapal pengawas kandas di pantai timur Laut Galilee (menurut perjanjian isyarat untuk menghentikan tembakan pada 1949, pasukan Israel tidak bermaksud untuk mendekati 250 meters dari sebelah timur pantai,yaitu Zona Demilitarized), pesawat Syria menyerangnya. Israel meresponnya,menembak jatuh dua peswat MiG.

Serangan Samu (West Bank) (November 13, 1966)—Lanjutan sebuah ledakan tambang yang membunuh tiga polisi Israel dan satu cedera, Israel memutuskan untuk meluncurkan serangan balas besar (disebut Operasi Shredder) kedalam West Bank, untuk mengambil sikap pada basis gerilya Palestina (al-Fatah) didekat Hebron. Didesain untuk menunjukan kekuatan militer Israel, serangan pasukan terdiri dari 10 tank, empat puluh setengah track (suatu pasukan kendaraan pasukan) dan sekitar 400 prajurit. Pasukan menikmati liputan udara dari perang pesawat Israel. Pasukan ini menghancurkan kantor polisi di kota Rujm al-Madfa’ dan lalu pindah ke kota Samu’. Sebagaimana pasukan Israel memusnahkan rumah-rumah di Samu, suatu pasukan kecil Jordania mendekati dan penyergapan oleh Israel. Pertempuran ini menghasilkan kematian 15 orang Jordania dan 54 cedera. Pemimpin penyergapan Israel terbunuh dan 10 orang bawahannya cedera. Pesawat Israeli mengejar Angkatan Udara Jordania, menembak jatuh sebuah pesawat pejuang Jordania. Penyerangan ini juga menghasilkan 3 orang sipil Arab meninggal dan 96 cedera.

Selain sejumlah besar kerugian (pada kedua belah pihak) dari apa yang dimaksud menjadi suatu secara relatif cepat dan mudah diserang, Israel menderita penundaan diplomatik. Amerika Serikat (AS) cukup marah atas serangan besar ini pada salah satu dari beberapa teman Washington (Raja Jordan Hussein) dan kurangnya respon dari Syria, yang merupakan sponsor sejati dari serangan yang paling banyak di Israel. Kekacauan dilanggar di Jordania pada seolah-olah respon tidak berhasil pada militer Jordania dan jelas ketidak mampuan untuk melindungi sipil Palestina di West Bank. Serangan Samu menggelorakan opini masyarakat Arab di Timur Tengah dan berubah menjadi salah satu faktor yang memperkenalkan Perang Enam Hari pada 1967.

Perang Enam Hari (1967)—Dalam suatu serangan cepat pra-kekosongan, Israel menembakan kekuatan militer pada Mesir, Jordania dan Syria serta merampas sejumlah besar tanah dari tiap-tiapnya. Irak juga berpartisipasi dalam pertarungan pihak Arab.

Perang Erosi (1968-1970)—Perang Erosi (Attrition War) adalah perang perbatasan yang terbatas antara Mesir dan Israel dalam konsekuensi dari Perang Enam Hari. Perang tersebut merupakan prakarsa dari Mesir sebagai suatu cara untuk mengambil kembali Semenanjung Sinai setelah direbut oleh Israel pada 1967. Suatu isyarat untuk menghentikan tembakan pada 1970 yang diakhiri dengan perlawanan, tetapi meninggalkan perbatasan tanpa perubahan.

Perang Yom Kippur (Ramadan) (1973)—Dalam suatu serangan kejutan yang di luncurkan pada hari raya Yahudi Yom Kippur (pada masa itu juga jatuh pada hari raya Muslim Ramadhan), Mesir dan Syria menyerang Israel. Meskipun mendapat bantuan dari Irak, pasukan Arab gagal untuk mengalahkan Israel.

Invasi Israeli atas Lebanon (1978)–Operasi Litani adalah nama resmi dari Invasi Israel atas Lebanon hingga ke sungai Litani pada 1978. Invasi yang dilakukan oleh militer ini sukses, demikian juga halnya dengan militer Israel yang menyingkirkan PLO dari Lebanon Selatan, dimana mereka hendak membuat suatu de facto negara dalam negara. Sebuah tentangan keras internasional atas kekuatan invasi memundurkan sebagian pasukan Israel dan pembentukan daerah dia antara dua wilayah yang saling bermusuhan (buffer zone) patroli Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) antara pihak gerilya Arab dan Militer Israel.

Serangan Osirak (1981)–Sebuah serangan udara Israel pada reaktor nuklir Irak, Osirak.

Invasi Israeli atas Lebanon (1982-1984)–Dalam merespon kepada serangan ulang gerilya oleh PLO, yang diluncurkan dari Selatan Lebanon, Israel menginvasi dengan maksud menghancurkan pasukan Arafat. Syria, yang mengelola sebuah pasukan besar tentara di Lebanon, bertempur dengan Israel dan mengalami kekalahan yang memalukan.

Pendudukan Israel di Selatan Lebanon (1984-2000)—Sebagaimana mereka menarik diri hampir sebagian rampasan atas invasi Lebanon pada 1982, Israel mengadakan pendudukan tersebut sebagian besar dibantu dengan bantuan ”Southern Lebanon Army/ SLA” (Tentara Selatan Lebanon), suatu milisi disusun dan didukung oleh Israel. Pendudukan ini ditentang oleh PLO dan grup-grup Palestina lainnya sebagai suatu perpanjangan konflik yang berjalan panjang dengan Israel. Juga, milisi lainnya (kebanyakan kelompok Muslim Lebanon), seperti Hizbullah (didukung oleh Iran and Syria), melangkah maju dalam serangan wilayah pendudukan Israel pada penempatan dan target militer di Utara Israel. Pada tahun, Israel menarik diri dari Lebanon dan SLA dibubarkan.

Intifada Pertama (1987-1993)–Urban uprising against Israeli rule in the West Bank and Gaza. The Oslo Peace Accords end the Intifada and lead to the formation of the Palestinian Authority with PLO Chief Yasser Arafat as the official leader of the Palestininans.

Perang Teluk Persia Kedua (1991)—Sementara Israel mengambil tindakan yang tidak ofensif pada perang ini, Irak meluncurkan misil Scud yang membuat kagum Israel dan hampir mengakibatkan Israel mengintervensi dalam Perang Teluk ini.

Intifada “Al-Aqsa”—Komando/ gerilya berperang yang berkenaan dengan kota antara Israel dan berbagai macam kelompok Palestina, termasuk Hamas. Antara September, 2000 dan, September, 2007: 4,453 orang Palestina and 1,114 orang Israel telah terbunuh karena meningkatnya kekerasan. (Sumber pada kerugian: http://seattletimes.nwsource.com/text/2003911771_intifada29.html)

Serangan Israel Udara Atas Syria (Oktober, 2003)—Pesawat perang udara Israel menembak Desa Syria Ain al-Saheb, dekat Damaskus.

Perang Israel Hizbullah (Juga dikenal sebagai “Perang Lebanon Kedua”) (2006)—Dalam merespon serangan gerilya balasan oleh milisi Hizbullah dari Syiah Lebanon, Israel menginvasi Selatan lebanon, menyusun blokade laut, dan meluncurkan kampanye berkekuatan bom agar memenangkan pembebasan dua tentara Israel yang ditangkap.

Serangan Udara Israel atas Syria (Sept. 6, 2007)—Pesawat perang udara Israel terbang melewati Utara Syria, mengantar perbekalan perang (terang-terangan) pada sasaran yang tidak dikenal. Menurut pada dua surat kabar the New York Times dan ABC News, sasarannya merupakan fasilitas nuklir yang sedang dibuat dengan bantuan dan pertolongan Korea Utara.

Sumber:

  1. http://www.mfa.gov.il/MFA/History/Modern+History/Centenary+of+Zionism/The+Arab+Israeli+Wars.htm

  2. http://www.historyguy.com/arab-israeli_war_links.html

Note:

*This was my journal for my college presentation.

*This article was made in Bahasa Indonesia version, you can see the English version on source number 2.

Zeitgeist The Movie

ZEITGEIST the Movie

Apakah anda pernah mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan “terlarang” seperti dibawah ini, dan menemukan jawabannya?

  • Kenapa gerombolan-gerombolan yang suka mengatasnamakan agama gemar menjatuhkan fatwa sesat? (Madi, Ahmadiya, maupun kepercayaan-kepercayaan nenek moyang kita sering dinistakan dengan mengatasnamakan kepercayaan dan mitos-mitos impor).
  • Kenapa setiap kali agama dipertanyakan/didebat maka akan dengan mudah terlontar tuduhan penghujatan, blasphemy, kafir, sesat, antek iblis dan lain sebagainya?
  • Kenapa orang bisa percaya begitu saja tanpa bertanya?
  • Kenapa kita selalu mudah diadu-domba dengan menggunakan agama, ras maupun golongan?
  • Siapa yang diuntungkan dari setiap kekacauan yang terjadi?
  • Kenapa MUI, Bashir, Lubis dan gerombolan yang lain bebas bertingkah tapi pemerintah diam saja?
  • Pancasila dan UUD diberaki, diinjak-injak tapi SBY dan anakbuahnya tetap juga tidak mau tegas, kenapa?
  • Indonesia sedang dipecah belah, tapi kita semua tetap santai seakan tidak terjadi apa-apa, kok bisa?
  • Para importir agama itu dulu disambut dengan ramah, setelah berkembang besar jadi kurang ajar. Seenaknya menistakan, mencap kafir, menginjak-injak keyakinan dan kebudayaan nusantara. Mereka seenaknya mencuci otak anak-anak kita untuk mengencingi dan memberaki leluhur dan budayanya sendiri. Makin lama makin seenak jidat bikin ribut dan cari gara-gara, tapi anehnya kita tetap diam saja. Kok bisa?
  • Dan mungkin banyak sekali pertanyaan terlarang yang lain…

Kalau belum nemu jawabannya, cobalah tonton film yang judulnya Zeitgeist. Mungkin setelahnya anda akan bisa menjawab sendiri beberapa atau malah semua pertanyaan diatas.

Keberadaan film ini pertamakali saya ketahui dari sebuah diskusi bulanan antara mahasiswa dari beberapa universitas dengan Pak Hamid Kontras yang digelar di NIM. Sayangnya disitu hanya diputar sepotong, cuma part 3 dan itupun tidak lengkap. Katanya karena keterbatasan waktu.

Pulang dari sana langsung saya interogasi Sang Hyang Google Yang Maha Tahu, dan menemukan situs resminya. Disitu disebutkan bahwa film itu memenangkan penghargaan Best Feature Documentary. Dan setelah ditonton, ternyata isinya memang cukup “menyilaukan” bagi mereka yang berkacamata kuda. Untunglah kemarin tidak diputar lengkap. Bakal histeris itu anak-anak mahasiswa. Saya memang beruntung, baru pertama kali hadir langsung nemu film gitu-gituan :P

Jadi silakan download pake bittorent (700an MB) dan dipelototi, bisa rame-rame, bisa juga sambil bugil sendirian di dalam kamar yang terkunci.

Tips menonton:

Stel otak anda ke mode skeptis, jangan langsung menerima semua yang disajikan sebagai kebenaran hanya karena saya yang mempromosikan *bletak*. Silakan simak juga statemen si pembuat film, pahami apa sebenarnya yang dia ingin lakukan. Baca-baca tanya jawab yang ada dan pelajari berbagai referensi yang disertakan.

Seperti layaknya orang berakal, anda harus memperlakukan semua “kebenaran” apapun yang disodorkan seperti ahli emas yang membelah dan membakar emas untuk menguji keasliannya *hiperbolis*. Tapi serius, jangan asal percaya, jangan juga asal ga percaya. Buktikan kalau manusia sejenis anda itu punya akal.

Seperti statemen yang ada disitusnya: “It is my hope that people will not take what is said in the film as the truth, but find out for themselves, for truth is not told, it is realized”

Oks, selamat menonton, nanti setelah menonton bisa dibahas apa yang bisa dan harus kita lakukan untuk Indonesia dan dunia.

Thanks to: http://guhpraset.wordpress.com/tag/agama/

Headache Cure Naturally

How to cure a headache naturally

Headaches, as we all know, are a common occurrence. Especially in these day as the pace of business just seems to be getting faster and faster. It’s very easy to just take an aspirin or ibuprofen and forget about it but that’s not always the healthy thing to do. Headaches are usually the result of stress, dehydration, poor or shallow breathing and poor diet. Headaches can be quite the annoyance and usually show up at the worst time. If you can spare yourself five or ten minutes, you can cure your own headache and feel much better using this technique.

Instructions

Difficulty: Moderately Easy

Things You’ll Need:

  • drinking water
  • 5-10 minutes without interruption

Step1

First things you can do is drink the water. Many times when we take a pill to relieve the headache we wash it down with a glass of water And it’s actually the water that brings the relief first.

Step2

Next sit down in a comfortable spot if you can find one. Now you’re going to close your eyes and take a deep breath.

Step3

As you breath in, imagine that you are breathing in fresh cool energy through the top of your head. Breath it down into the center of your body.

Step4

As you breath out, imagine the energy flowing out the bottom of your feet, flushing out and clearing the pain and stress from your body. Repeat this at least 5 times

Source: http://www.ehow.com/how_2116706_cure-headache-naturally.html

Free Market Challenge

Tantangan Pasar Bebas Indonesia

I. Pendahuluan

A. Pengertian Pasar Bebas

Pasar bebas adalah suatu pasar dimana harga barang-barang dan jasa disusun secara lengkap oleh ketidak saling memaksa yang disetujui oleh para penjual dan pembeli, ditetapkan pada umumnya oleh hukum penawaran dan permintaan dengan tanpa campur tangan pemerintah dalam regulasi harga, penawaran dan permintaan.

Konsep dari pasar bebas berdekatan hubungannya dengan filosofi ekonomi laissez-faire, yang mana mendukung perkiraan kondisi pasar bebas dalam dunia nyata oleh batas-batas intervensi pemerintah dalam masalah ekonomi untuk meregulasi melawan kekuatan dan penipuan diantara peserta pasar. Karena itu, dengan pembatasan kekuasaan pemerintah pada peran sikap bertahan, pemerintah sendiri tidak memprakarsai ruang terbuka untuk pasar melebihi pajak retribusi supaya dana terpelihara bagi ruang terbuka untuk pasar bebas. Beberapa pasar bebas, juga menentang mendukung pembebanan pajak, menegaskan bahwa pasar lebih baik dalam menyediakan semua pelayanan-pelayanan barang-barang berharga termasuk pertahanan dan hukum, atau pelayanan serupa dapat disediakan tanpa pembebanan pajak langsung.

B. Latar Belakang Pasar Bebas

Kosakata pasar bebas semakin ramai dibincangkan, terutama sejak praktek ekonomi terencana menemui kegagalan di bekas negara-negara komunis. Di Indonesia, kosakata ini makin bertambah ramai khususnya, ketika terjadi krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.

Beberapa pakar menyebutkan, tidak ada pasar bebas di Indonesia dan itulah penyebab terjadinya krisis. Mereka menyebut sejumlah kriteria atas pernyataannya itu:

1. Banyaknya regulasi yang membatasi aliran masuk dan keluar barang, jasa, dan uang;

2. Dominasi dan monopoli prusahaan negara (BUMN) pada sektor-sektor strategis;

3. Dominasi dan monopoli kapitalis-kapitalis kroni yang dekat dengan keluarga cendana, dan bank sentral yang tidak independen.

Karena itu, perjuangan untuk menegakkan kebebasan politik (demokrasi liberal) harus seiring sejalan dengan perjuangan untuk menegakkan kebebasan ekonomi (pasar bebas). Dan itu berarti, harus ada deregulasi yang sistematis, privatisasi perusahaan-perusahaan milik negara, bank sentral yang independen, dan persaingan bebas dalam pasar.

Namun demikian, sejauh itu ide tentang pelaksanaan pasar bebas dinilai masih tidak konsisten. Salah satunya disebabkan oleh tarik-menarik antara kekuatan politik. Faktor lainnya, karena pasar bebas itu sendiri dianggap hanya menguntungkan elite.

Tetapi, apa sebenarnya yang dimaksud pasar bebas? Ide pasar bebas, seperti diutarakan Edward L. Hudgins, berakar pada konsepsi teoritis yang dirumuskan oleh Adam Smith, David Ricardo, dan Frederic Bastiat. Intinya, “kebebasan berdagang akan mendatangkan kemakmuran.” Secara lebih teoritis, pasar bebas mengidealisasikan pasar sebagai sebuah arena dimana seluruh keputusan dan tindakan ekonomi yang dilakukan oleh individu-individu dalam rangka pergerakan uang, barang dan jasa berlangsung secara sukarela, bebas dari paksaan dan pencurian.

II. Pembahasan

Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam.

Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui ”perubahan besar” desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat resiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.

Bila Indonesia ingin keluar dari krisis yang terjadi dan memperbaiki daya saing internasionalnya, maka sangatlah penting untuk mengembangkan program-program secara sistematis menghapus kerugian-kerugian dari kebijakan makro-ekonomi, yaitu melalui strategi yang tepat. Setiap negara harus menyusun suatu startegi untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Namun, setiap negara menghadapi lingkungan internal dan eksternalnya sendiri. Lingkungan-lingkungan ini pasti mempengaruhi tidak hanya tujuan dari suatu negara tetapi juga dorongan strategisnya.

Globalisasi: Peran Negara Pelindung?

Globalisasi dalam hal ini adalah pasar bebas, dimanakah peran negara sebagai pelindung. Secara lebih luas, pengalaman empiris di beberapa negara juga menunjukan bahwa tidak selamanya intervensi pemrintah menghasilkan capaian yang buruk. Sukses Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan sebagainya mengalami sukses besar meskipun, atau mungkin karena, campur tangan negara kuat tapi sehat,. Kedua negara yang telah berhasil membangun ekonominya tersebut menempuh industrialisasi yang berorientasi ke luar dan kebijakan ini sebelumnya didahului oleh strategi industrialisasi yang berorientasi ke dalam. Intervensi pemerintah dalam menyediakan infrastruktur, baik fisik maupun non-fisik, juga mempunyai peranan yang strategis dalam pembangunan. Reorientasi strategi industrialisasi yang berhasil dari yang berorientasi ke dalam menjadi berorientasi ke luar Korea selatan utamanya disebabkan oleh kuatnya landasan ekonomi yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh pemerintah, misalnya berupa tenaga kerja terdidik dan tersedianya stok kapital yang memadai. Temuan pakar ekonomi, Reynold, mengenai pertumbuhan jangka panjang dari beberapa negara juga menunjukan pentingnya peranan pemerintah, yaitu pertumbuhan di negara yang administrasinya baik.Secara lebih lanjut, karena adanya ketidaksempurnaan informasi, pasar yang tidak berjalan sempurna, dan munculnya biaya-biaya transaksi membuat peran negara secara potensial menjadi katalis penting bagi berjalannya pembangunan ekonomi. Meskipun begitu, tidak lantas pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah akan selalu sukses melakukan inisiasi pembangunan atau mengimplementasikan kebijakan reformasi.

Pasar bebas bukan hanya barang, melainkan bakal ada pasar buruh. Migrasi pekerja dari satu negara ke negara lain, merupakan tantangan yang harus dihadapi. Kondisi ini tak bisa dibendung lagi. Satu-satunya cara, meningkatkan daya saing tenaga lokal.

Tenaga kerja asing akan menyerbu Indonesia, begitu pula tenaga kerja dari sini. Namun perbedaannya, tenaga asing lebih dihargai di Indonesia. Ini yang menjadi tantangan bagi kita agar bisa mendapatkan penghargaan sama.

Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia adalah mutu produksi.

Gelombang globalisasi memasuki Dunia Ketiga tanpa mampu dibendung. Pasar bebas menjadi keniscayaan yang setiap saat bisa membinasakan siapapun yang tak mampu bertahan. Bagi masyarakat Dunia Ketiga, di manapun, ancaman itu kini bermetamorfosis menjadi badai garang yang siap menerkam. Tanpa kecuali.

Para petani misalnya, akan terhisap tenaganya melalui perampasan nilai lebih yang semestinya dinikmati. Di lain pihak, dahsyatnya industrialisasi pada Dunia Ketiga akan mengulangi bentuk-bentuk kekejaman kapitalisme abad pertengahan. Di mana kaum buruh dieksploitasi melalui cara-cara yang jauh di bawah standar kemanusiaan. Kejahatan menjadi ciri utama, dari bentuknya yang paling sederhana hingga dalam wujudnya yang tersamar dan berlindung di balik gagasan mengenai pembangunan. Aksi-reaksi berakhir di ujung puncaknya berupa kekerasan dan kegagalan menjawab berbagai soal kemiskinan dan kemanusiaan

Dalam ranah keterbelakangan, Dunia Ketiga tentu tak dapat menghindari gemuruh ekstensifikasi liberasi perdagangan. Mengingat kapitalisme transnasional memiliki kemampuan merambah dan memasuki area yang paling sulit dijangkau, bahkan oleh pemerintah lokal sekalipun.

Dengan segala keterbatasan, tentu saja dibutuhkan sebuah strategi pembangunan yang matang. Utamanya menyangkut peran dan fungsi negara dalam menyelamatkan kepentingan nasional. Satu di antaranya sebagaimana dirumuskan melalui postulat ideologis, yaitu asas kekeluargaan. Dan tentunya, siasat menyikapi pihak asing dan kapitalisme transnasional, serta pelbagai implikasi ketergantungan yang sangat mungkin ditimbulkan dari hubungan yang tak seimbang.

Ekonomi Rakyat dan Kemandirian
Semenjak gelombang krisis menerpa Indonesia, kegamangan menghinggapi seluruh lini kebijakan publik yang ditelurkan pemerintah. Tanda-tanda mengkhawatirkan menyergap dalam bentuk enggannya sebagian besar investor asing menanamkan modal di Indonesia. Termasuk juga di dalamnya bantuan setengah hati dari lembaga-lembaga donor seperti IMF maupun World Bank, yang memberi kesan kuat terjadinya boikot diam-diam dari masyarakat internasional (international community), khususnya Amerika, terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Habibie terdahulu.
Ekonomi Indonesia diilustrasikan oleh Hal Hill sebagai the strange and sudden death of a tiger, harimau yang semula kuat namun akhirnya mati secara mengejutkan.

Dampaknya yang paling terasa dihadapi oleh dunia industri yang banyak memanfaatkan komponen asing dalam pengelolaannya. Roda industri relatif macet dan bahkan berhenti total. Ada banyak pabrik berhenti beroperasi akibat pailit dan terhentinya bantuan lunak serta proteksi yang sebelumnya biasa diterima.

Bagi hampir sebagian besar Dunia Ketiga, industrialisasi memang menjadi persoalan yang tak pernah berujung untuk dibahas. Berbagai teori lahir dan berkembang untuk menjawab berbagai soal kemiskinan, pengangguran, kebebasan, dan soal-soal kemanusiaan lainnya. Belum lagi anak-anak yang harus menjadi korban dari kerasnya—untuk tidak mengatakan jahatnya—pembangunan. Padahal di pundak merekalah negeri ini pastinya akan diwariskan.

Dalam kegelisahan semacam itu, ada sejumlah fenomena yang justru menarik untuk dicermati. Yaitu, ketika roda perekonomian yang terpuruk dalam banyak pandangan analis ekonomi justru tidak terlalu memberikan dampak yang begitu berarti di sejumlah kawasan. Atau setidak-tidaknya, roda perekonomian berjalan tidak sepesemis prediksi sejumlah ekonom yang menggunakan pendekatan makro-deduktif. Yang tak jarang sampai pada kesimpulan yang terkesan dangkal, terburu-buru, dan terlampau berani.

Prof. Mubyarto dalam beberapa ulasannya mengungkapkan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi di sejumlah daerah. Ia menyebutnya dengan istilah ekonomi rakyat—bukan ekonomi kerakyatan—sebagai sokoguru yang mampu menyangga pertahanan ekonomi di tengah badai krisis yang menimpa Indonesia. Yang utamanya dicirikan oleh terbangunnya kemandirian rakyat dalam menjalankan aktivitas perekonomian. Tercatat, pertumbuhan ekonomi yang hampir mencapai 5% di tengah keterpurukan usaha-usaha besar menandakan perekonomian sepenuhnya digerakkan oleh usaha kecil, atau dalam istilah Mubyarto disebutnya dengan istilah ekonomi rakyat.

Sudden death, sebagai istilah yang banyak digunakan oleh para analis untuk menggambarkan situasi perekonomian Indonesia, nyata-nyata tak terbukti. Sebaliknya, roda perekonomian rakyat tetap berjalan seperti biasa. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan sejumlah industri yang di dalamnya melibatkan komponen impor (import content).

Demikian pula yang terjadi dengan ranah industri yang di dalamnya terkandung modal asing. Dalam hubungan yang terjalin antara negara-negara metropolis dengan satelit memang tersimpan kecurigaan. Bahwa relasi yang tercipta bukanlah simbiosis mutualisma, melainkan model penghisapan yang berlangsung dengan cara yang sangat samar.

Dari seluruh Dunia Ketiga yang tengah menjalankan pembangunan, hanya terdapat sejumlah kecil di antaranya yang secara efektif mampu bersaing.

Atau lebih tepatnya, sedikit lebih maju dibanding dengan Dunia Ketiga lainnya, meskipun itu sama sekali tak berarti berdiri sama tinggi dengan negara metropolis.

Menghadapi kenyataan tersebut, boleh jadi Andre Gunder Frank benar dalam tesisnya mengenai kemunduran pembangunan (the underdevelopment of development).

Bahwa negara-negara metropolis tak pernah memiliki kesungguhan—dalam pengertian dukungan aksi dan bukan sekadar empati—untuk mendorong negara-negara Dunia Ketiga mengejar ketertinggalannya. Sebaliknya, mereka tetap dalam kepentingan menciptakan ketergantungan hingga batas waktu yang tak pernah dapat ditentukan.

Akan tetapi, alternatif solusi yang ditawarkan Frank juga tak kalah kompleksnya. Me-mutus hubungan sama sekali dengan negara-negara industri sama artinya dengan menenggelamkan kapal yang memang sudah kropos.

Meski dalam batas tertentu Frank tetap mampu memberikan argumentasi yang gigih berkaitan dengan perampasan nilai lebih oleh negara metropolis dari negara-negara satelit lewat penanaman modal asing, ataupun lewat pinjaman lunak.

Pada kenyataannya, globalisasi dan liberasi perdagangan di era sekarang adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari, di samping memang sama sekali tidak bijak untuk menolaknya. Indonesia, dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, tak bisa menghindari diri dari kenyataan tersebut.
Untuk itu, sebuah strategi yang matang menghadapi persaingan pasar bebas mutlak diperlukan. Sebab bila tidak, Indonesia akan terus diterpa badai krisis panjang yang mengimplikasikan kebangkrutan Indonesia sebagai sebuah negara.

Untuk mengawali langkah pembangunan ekonomi di Indonesia, atau mungkin Dunia Ketiga lainnya, masyarakat perlu diajak untuk mengembalikan konsep asas kekeluargaan. Hal ini penting sebagai tameng yang mampu menghadapi persaingan pasar bebas yang kian kuat. Untuk itu, sebagaimana ditegaskan Mubyarto, penerjemahan asas kekeluargaan dalam konstitusi tak selayaknya dihapuskan. Bahwa telah terjadi distorsi di masa lalu atas interpretasi kekeluargaan tak sama artinya dengan menghapuskan substansi gagasan itu sendiri.

Karena memang asas kekeluargaan tak selayaknya dimaknai sebagai relasi kekerabatan (kinship) yang mengakibatkan berkembangnya penyakit nepotisme. Sejatinya, kekeluargaan merupakan asas yang dilandasi oleh kepercayaan (trustee) dan persaudaraan (brotherhood).

Kedua landasan dari asas kekeluargaan dalam konteks pembangunan ekonomi yang mandiri adalah terbentuknya semangat dan solidaritas kolektif antar warga negara. Yang diimplementasikan dalam wujud pemberdayaan sepenuh hati konstruksi ekonomi rakyat. Mulai dari tahap perencanaan hingga distribusi dan penikmatan atas hasil-hasilnya.

Sehingga, bukan saja semangat persaudaraan yang terbentuk, tetapi juga berlanjut pada terbangunnya fundamen ekonomi yang kokoh. Karena sepenuhnya berangkat dari upaya pemberdayaan masyarakat.

Termasuk di dalamnya adalah perdagangan antar provinsi yang berorientasi mengurangi ketergantungan terhadap komponen import, kapitalisme transnasional, dan kemungkinan intervensi pihak asing lewat tekanan ekonomi.

Peran Negara Sosial
Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, pembangunan yang didisain oleh negara tak bisa dilepaskan dari tujuannya untuk mengabdi terhadap sasarannya sendiri. Dan sasaran pembangunan adalah rakyat.

Di lain pihak, rakyat yang memiliki hak-hak kewarganegaraan pun harus membuat dan mematuhi kontrak sosial yang dibuatnya bersama negara.

Karenanya, pembangunan pun mempersyaratkan dimensi demokrasi sebagai sebuah kemutlakan. Di mana warga negara berhak untuk terlibat dalam keseluruhan proses pembangunan.
Tak cukup hanya dengan mengandalkan negara sebagai pihak yang merumuskan agenda pembangunannya sendiri. Sementara warga negara ditempatkan pada posisi marjinal, atau bahkan mungkin dieliminasi perannya.

Hal demikian bukan hanya akan menghasilkan pemerintatahan otoritarian, tapi juga berpeluang besar berakhir dengan kegagalan.

Dalam konteks ini, pendekatan yang dirumuskan oleh Amartya Sen bisa digunakan untuk menjelaskan pentingnya aspek demokrasi dalam pembangunan.
Sen mempostulasikannya dalam jargon development as freedom. Dalam banyak kesempatan, Sen menjelaskan faktor lingkungan yang diyakininya berkorelasi secara positif terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat.

Dan kebebasan, sebagai satu faktor lingkungan negara, disebutnya sebagai variabel paling signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. Lebih jauh, kebebasan diyakininya pula mampu menjawab berbagai persoalan seperti kelaparanan, pengangguran, dan kemanusiaan lainnya.

Akan tetapi kebebasan ini tentu saja tak dimaksudkan untuk membenarkan liberalisme murni. Yang kejam, amoral, dan bahkan bertentangan dengan tuntutan keadilan seperti yang dicatat dalam sejarah kapitalisme abad 18.

Kebebasan dan jaminan demokrasi dalam konteks pembangunan adalah berlangsungnya partisipasi warga negara dalam keseluruhan proses kelahiran kebijakan. Di mana rakyat mendapatkan kesempatan yang sama dan distribusi kapital yang relatif merata.

Oleh karena itu, negara tak bisa berlepas diri dari tanggung jawab untuk mensejahterakan warganya. Demokrasi dalam pembangunan harus dipahami dalam konteks penyebaran seluas-luasnya kesejahteraan masyarakat secara relatif merata.

Kehadiran negara yang bertanggung jawab dan memfungsikan dirinya dalam mengusahakan kesejateraan masyarakat ini disebut sebagai negara sosial (bukan sosialis).
Bentuk praksis dari tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan umum dapat diwujudkan melalui keberpihakan terhadap kelompok-kelompok ekonomi rakyat.

Di mana negara diberi kewenangan mengintervensi pasar yang dimaksudkan untuk melindungi industri kecil dan kelompok-kelompok ekonomi rakyat lainnya. Termasuk juga di dalamnya distribusi yang adil dan merata kepada seluruh kelompok warga negara.
Sehingga keadilan sosial (social justice) dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Yaitu keadilan yang pelaksanaannya tergantung pada struktur proses-proses ekonomis, politis, sosial, budaya, dan ideologis dalam masyarakat.

Pun demikian, kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya intervensi yang berlebihan dari negara—yang dapat berakibat pada terbentuknya pemerintahan otoritarianisme—dapat dihindari melalui prinsip subsdiaritas negara. Di mana negara diberikan kewenangan untuk terlibat dalam urusan-urusan yang tak bisa diselesaikan oleh masyarakat sendiri.
Seperti yang terjadi dalam soal kesejateraan yang tak bisa diselesaikan sendiri oleh masyarakat yang menghadapi pasar bebas dan globalisasi.

Di tingkat semacam itulah negara berwenang untuk terlibat. Dan aspek-aspek pembentukan negara kesejahteraan (welfare state) dapat terlaksana.
Singkatnya, berhadapan dengan liberalisme, prinsip subsidiaritas menegaskan tanggung jawabnya untuk mendukung dan melengkapkan usaha warga negara mencapai kesejateraan.

Sedangkan terhadap etatisme, prisip subsidiaritas membatasi kewenangan negara hanya pada pelayanan-pelayanan yang tak mampu diselesaikan oleh konstruksi ekonomi dan politik warga negara. Jadi, subsidiaritas negara sama sekali berbeda dari otoritarianisme, terlebih totalitarianisme.
Negara yang menyatakan keberpihakannya terhadap rakyat lemah akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraannya secara lebih luas.

Yang sekaligus memberikan implikasi pada terbentuknya masyarakat kuat. Di mana demokrasi menjadi menjadi ciri utama dalam keseluruhan proses pembangunan. Sementara kesejahteraan umum tetap menjadi perhatian penting sebagai tanggung jawab yang mesti dicapai negara. Hasil akhirnya, tentu saja terbangunnya sebuah negara kuat—tidak sama dengan negara totaliter—yang efektif, mandiri, dan berwibawa.

III. Penutup

Kosakata pasar bebas semakin ramai dibincangkan, terutama sejak praktek ekonomi terencana menemui kegagalan di bekas negara-negara komunis. Di Indonesia, kosakata ini makin bertambah ramai khususnya, ketika terjadi krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997.

Beberapa pakar menyebutkan, tidak ada pasar bebas di Indonesia dan itulah penyebab terjadinya krisis. Mereka menyebut sejumlah kriteria atas pernyataannya itu:

4. Banyaknya regulasi yang membatasi aliran masuk dan keluar barang, jasa, dan uang;

5. Dominasi dan monopoli prusahaan negara (BUMN) pada sektor-sektor strategis;

6. Dominasi dan monopoli kapitalis-kapitalis kroni yang dekat dengan keluarga cendana, dan bank sentral yang tidak independen.

Pasar bebas merupakan hal yang tidak perlu kita khawatikan apabila kita dapat memanfaatkan dengan baik, seperti efisiensi industri akan meningkat pesat, kemudian tiap negara juga dapat meningkatkan produksi yang kompetitif. Hambatan-hambatan tarif bea masuk, serta pembatasan kuantitatif atau kuota juga dihapuskan. Dampaknya yang paling terasa dihadapi oleh dunia industri yang banyak memanfaatkan komponen asing dalam pengelolaannya. Roda industri relatif macet dan bahkan berhenti total. Ada banyak pabrik berhenti beroperasi akibat pailit dan terhentinya bantuan lunak serta proteksi yang sebelumnya biasa diterima.

Dalam konteks pasar bebas negara pembangunan (development states) mempersyaratkanadanya dasar institusi politik mapan yang menyediakan pengambil kebijakan suatu insentif dan kemampuan untuk memdesiain dan melaksanakan kesepakatan institusional yang kondusif bagi pertumbuhan dan pembangunan. Di sini kemudian yang dibutuhkan bukanlah campur tangan pemerintah yang terbatas (minimal state), tetapi sebuah intervensi yang memungkinkan pemerintah bisa menangani secara baik (capable state), lebih-lebih jika tujuan dari intervensi tersebut adalah untuk menciptakan kebijakan ekonomi yang bisa terus stabil dengan latar belakang mekanisme pasar.

IV. Daftar Pustaka

Ade Priangani, Sigid Harimurti. 2004. Dinamika politik Luar Negeri Indonesia Pasca Orde Baru. Bandung: Centre for Political and Local Autonomy Studies C+ Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung.

Agus Haryadi. Negara, Masyarakat, dan Tantangan Globalisasi http://www.sinarharapan.co.id Jumat, 14 september 2001 Diakses pada tanggal 24 November 2007.

Erani, Ahmad Yustika. 2002. Pembangunan dan Krisis. Memetakan Perekonomian Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Pontoh, Coen. 2005. Pasar Bebas. http://coenpontoh.wordpress.com/2005/10/08/pasar-bebas/ diakses pada tanggal 24 November 2007

http://en.wikipedia.org/wiki/Free_Market

diakses pada tanggal 23 November 2007

http://www.suaramerdeka.com/harian/ Migrasi Buruh, Tantangan Pasar Bebas. Jumat 20 Juli 2007 Diakses pada tanggal 24 November 2007.

Author : Amir Mubarak Ahmad

Released : 28 November 2007

Ahmadiyya on Overview

Ahmadiyah on Overview

The Ahmadiyya Muslim Community is a religious organization, international in its scope, with branches in over 189 countries in Africa, North America, South America, Asia, Australasia, and Europe. This is the most dynamic denomination of Islam in modern history, with worldwide membership exceeding tens of millions.

The Ahmadiyya Community was established in 1889 by Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), in a small and remote village, Qadian, in the Punjab, India. He claimed to be the expected reformer of the latter days, the Awaited One of the world community of religions (The Mahdi and Messiah). The Community he started is an embodiment of the benevolent message of Islam — peace, universal brotherhood, and submission to the Will of God — in its pristine purity. Hadhrat Ahmad proclaimed Islam as the religion of man: “The religion of the people of the right path” (98:6)

With this conviction, the Ahmadiyya Community, within a century, has reached the corners of the Earth. Wherever the Community is established, it endeavors to exert a constructive influence of Islam through social projects, educational institutes, health services, Islamic publications and construction of mosques, despite being bitterly persecuted in some countries. Ahmadi Muslims have earned the distinction of being a law-abiding, peaceful, persevering and benevolent community.

The Ahmadiyya Muslim Community in Islam was created under divine guidance with the objective to rejuvenate Islamic moral and spiritual values. It encourages interfaith dialogue, and diligently defends Islam and tries to correct misunderstandings about Islam in the West. It advocates peace, tolerance, love and understanding among followers of different faiths. It firmly believes in and acts upon the Qur’anic teaching: There is no compulsion in religion.” (2:257) It strongly rejects violence and terrorism in any form and for any reason.

The Community offers a clear presentation of Islamic wisdom, philosophy, morals and spirituality as derived from the Holy Qur’an and the practice (Sunnah) of the Holy Prophet of Islam, Muhammad (peace and blessings of Allah be on him). Some Ahmadis’, like late Sir Muhammad Zafrulla Khan (who served as the first Foreign Minister of Pakistan; President of the 17th General Assembly of U.N.O.; President and Judge of the International Court of Justice, at the Hague), and Dr. Abdus Salam (the Nobel Laureate in Physics in 1979), have also been recognized by the world community for their outstanding services and achievements.

After the demise of its founder, the Ahmadiyya Community has been headed by his elected successors — Khalifas. The present Head of the Movement, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, was elected in 2003. His official title is Khalifatul Massih V.

Ahmadiyya on Indonesia

Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.

Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.

Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da’i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.

Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai’at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.

Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..

Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.

Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor. Lalu beberapa tahun belakang ini Jamaat Ahmadiyah Indonesia pindah ke Jl Balikpapan Jakarta Pusat.

Sepuluh syarat Bai’at

  1. Orang yang bai’at, berjanji dengan hati jujur bahwa dimasa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur, senantiasa akan menjauhi syirik.

  2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, huru-hara, pemberontakan; serta tidak akan dikalahkan oleh gejolak-gejolak hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.

  3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu tanpa putus-putusnya, semata-mata karena mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mengerjakan shalat tahajjud, dan mengirimkan shalawat kepada Yang Mulia Rasulullah saw, dan memohon ampun dari kesalahan dan memohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukuri dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.

  4. Tidak akan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, baik dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara papaun juga.

  5. Akan tetap setia terhadap Allah Taala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat dan musibah; pendeknya, akan rela atas putusan Allah. Dan senatiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di dalam jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Taala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.

  6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu. Dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah al Quran Suci atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam setiap langkahnya.

  7. Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah lembut, berbudi pekerti halus, dan sopan santun.

  8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.

  9. Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Taala kepadanya.

  10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan al Masih Mau’ud”, semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal ma’ruf dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan, ataupun ikatan kerja.

PS:

  • Total populasi di seluruh dunia : Mencapai 10 juta orang.

Dengan populasi terbanyak terbesar di India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, West Africa, East Africa, Germany, United Kingdom, Canada, Suriname.

  • Media elektronik

Salah satu media elektronik milik Ahmadiyah yang terbesar adalah televisi. Mereka telah membuat satu televisi yang mereka namai MTA, yaitu Moslem Television Ahmadiyya. Proyek ini dirintis oleh Khalifah Ahmadiyah yang ke-empat, Mirza Tahir Ahmad .

Ahmadiyya on Books

Latar Belakang Berdirinya Jemaat Ahmadiyah

Tokoh yang dijanjikan di dalam Alquran
“Huwallazii arsala rasulahuu bilhudaa wa diinilhaqqi, liyuzh-hirahuu alad-diini kullihi walaw karihal-musyrikuwn”

Dialah [Allah] yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang-orang musyrik tidak akan menyukai (As-Shaf:10).

Ayat ini mengisyaratkan pada kemenangan Islam atas seluruh agama lainnya. Dan kemenangan tsb. dipakukan dibawah bendera Tauhid. Sebab Tauhid lah yang dapat mempersatukan seluruh umat manusia. Dan Tauhid itu sendiri merupakan ruh Islam. Kesempurnaan Syariat Islam telah terjadi di masa dan di tangan Rasulullah saw. 14 abad yang silam. Namun kesempurnaan penyebaran Syariat Islam, seperti yang diisyaratkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah saw., adalah pada masa dan di tangan tokoh yang dijanjikan sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi

“Huwallazii ba’atsa fil-ummiyyina rasulanm-minhum yatluw alaiihim aayaatihii wayuzakkiihim wayu’allimuhumul-kitaaba wal-hikmah, wain kaanuw min-qoblu lafii dholalinm-mubiin. Wa’aakhoriina minhum lammaa yalhaqquw bihim wahuwal-aziizul hakiim”

Dialah [Allah] yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan, Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (Al-Jumu’ah:3-4).

Ayat ini mengisyaratkan pada kebangkitan rohaniah Rasulullah saw. (the second spiritual advent) dalam wujud seseorang yang menyatu sepenuhnya dengan beliau dan merupakan cerminan rohaniah atau bayangan kamil Rasulullah saw., namun belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa beliau hidup. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadis Nabi saw. yang termasyhur tertuju kepada pengutusan Rasulullah saw. sendiri untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud di akhir zaman.

Prolog
Jemaat Ahmadiyah adalah suatu gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. pada tahun 1889, atas perintah Allah Ta’ala. Ahmadiyah bukanlah suatu agama. Agamanya adalah ISLAM. Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Kalimah Syahadat “Laa ilaha Illallah, Muhammadur-rasulullah”. Jemaat Ahmadiyah bersaksi bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah rasul Allah.

Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi kitab suci Al-Quran sebagai Kitab Syariat terakhir yang paling sempurna, hingga kiamat.

Jemaat Ahmadiyah menjunjung tinggi Sayyidina Muhammad Mustafa Rasulullah shallallahu alaihi wa’aalihi wassallam sebagai Khataman-nabiyyiyn yang merupakan penghulu dari sekalian nabi dan nabi yang paling mulia. Beliau adalah nabi pembawa syariat terakhir. Penutup pintu kenabian tasyri’i. Tidak ada lagi nabi pembawa syariat baru sesudah Rasulullah saw..

Nama Ahmadiyah berasal dari nama sifat Rasulullah saw. — Ahmad (yang terpuji). Yakni yang menggambarkan suatu keindahan/kelembutan. Zaman sekarang ini adalah zaman penyebar-luasan amanat yang diemban Rasulullah saw. dan merupakan zaman penyiaran sanjungan pujian terhadap Allah Ta’ala. Era penampakkan sifat Ahmadiyah Rasulullah saw.. (Da’watul Amir, M.Bashiruddin Mahmud Ahmad, edisi terj.Bhs.Indonesia, 1989,h.2)

Tujuan Jemaat Ahmadiyah adalah Yuhyiddiyna wayuqiymus-syariah. Menghidupkan kembali agama Islam, dan menegakkan kembali Syariat Qur’aniah.

Dalam arti yang lebih mendalam adalah untuk menghimbau ummat manusia kepada Allah Ta’ala dengan memperkenalkan mereka sosok sejati Rasulullah saw., dan menciptakan perdamaian serta persatuan antar berbagai kalangan manusia. Ahmadiyah berusaha menghapuskan segala kendala yang timbul karena perbedaan ras dan warna kulit sehingga umat manusia dapat bersatu dan mengupayakan perdamaian semesta.

Kami beriman bahwa Allah itu Mahaesa dan tidak mempunyai sekutu dalam zat-Nya maupun dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dilahirkan maupun melahirkan. Dia bebas dari segala jenis kekurangan dan kelemahan dan sempurna di dalam segala sifat-Nya. Dia mengabulkan doa-doa para hamba-Nya dan membantu mereka dalam memenuhi segala keperluan mereka. Nikmat-nikmat-Nya, baik secara materi ataupun rohani, tidak terbatas, dan tidak hanya dilimpahkan kepada suatu bangsa atau kaum tertentu. Jemaat Ahmadiyah menganggap sebagai kewajibannya untuk mengimbau umat manusia menerima Tauhid Ilahi, sebab, penerimaan Tauhid Ilahi dapat mewujudkan perdamaian dan persatuan diantara umat manusia.

Kami percaya bahwa semua agama besar pada awalnya mempunyai landasan kebenaran dan masih mengandung banyak nilai keindahan. Kami menolak dan menyangkal sikap yang menyatakan bahwa tidak ada agama selain agamanya sendiri yang mengandung suatu kebenaran atau nilai keindahan. Kendatipun demikian, kami menganggap sebagai kewajiban kami untuk mengumandangkan bahwasanya Islam mengandung tuntunan Samawi dengan bentuknya yang utuh dan sempurna guna membimbing umat manusia mencapai hubungan kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Kami menjunjung tinggi kebebasan suara hati lebih dari segala kemerdekaan dan sebagai hak-hidup setiap makhluk manusia. Kami memandang tidak ada dosa yang begitu keji seperti tindakan paksa atau kekerasan dalam urusan agama. Kami memandang haram untuk berperang atau memerangi pemerintah atau bangsa yang memberi kemerdekaan penuh kepada penyuaraan kata hati dan agama orang-orang yang menghuni wilayah-wilayahnya. Kami memandang orang-orang Islam yang mensahkan perang disebabkan perbedaan dalam urusan agama adalah sebagai kesalahan besar dalam memegang akidah yang sama-sekali tidak sesuai dengan jiwa agama Islam yang hakiki ini.

Kami menganggap sebagai kewajiban agama yang pokok untuk mentaati sepenuhnya undang-undang dan peraturan pemerintah tempat kami bernaung. Kami memandang pemberontakan dan pembangkangan terhadap pemerintah yang berkuasa sebagai sesuatu yang sama-sekali tidak dibenarkan dan bertentangan dengan ajaran Islam. Kami memegang prinsip ini dengan seteguh-teguhnya dimana pun kami berada.

Kami percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan-Nya kepada umat manusia melalui semua agama besar mengenai turunnya seorang nabi di akhir zaman telah menjadi kenyataan di dalam diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah. Beliau adalah Almasih yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristen; Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam; dan Krishna yang dinanti-nantikan oleh umat Hindu. (Dikutip dari: Akidah Dan Tujuan Jemaat Ahmadiyah; Suvenir Peringatan Seabad Gerhana Bulan & Gerhana Matahari 1894-1994, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1994, h.46-47).

Latar Belakang Keluarga Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Hz.Mirza Ghulam Ahmad berasal dari suatu rumpun keluarga yang merupakan pendatang dari Samarqand, sebuah kota di Asia Tengah. Nenek-moyang beliau hijrah dari Samarqand menuju Punjab, India pada awal abad keenambelas, di masa kekuasaan Emperor Babar dari Dinasti Moghul. Mereka memohon untuk dapat berkhidmat kepada dinasti tsb. dan mendapat kepercayaan di kawasan Punjab. [Lihat karangan-karangan Lepel H. Griffin: The Punjab chiefs (Lahore,1865),h.380-381; The Panjab chiefs (edisi baru, Lahore,1890),vol.2,h.49-50; Chiefs and families in the Panjab..., dikoreksi dan direvisi oleh W.L.Conran dan H.D.Craik (Lahore,1910),vol.2,h.40-41. Tentang silsilah keturunan keluarga tsb. lihat: Revised pedigree tables of the families mentioned in Griffin's "Punjab chiefs" and Massy's "Chiefs and families of note in the Punjab" (Lahore,1899),h.76. Sumber:Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.2]

Beliau adalah keturunan dari Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Timur. Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana, yangmana ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari Bhs.Farsi. Barlas juga demikian, artinya: pemuda gagah berani dari kalangan terhormat. Mirza Hadi Beg memimpin hijrah dari Samarkand tsb. menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi disana. Sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi. Akhirnya nama ini tinggal Qazi dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8).

Kelahiran & Pendidikan Awal
Hz.Mirza Ghulam Ahmad dilahirkan kembar di Qadian pada tahun 1835. Saudara kembar beliau (perempuan) wafat beberapa hari setelah lahir. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.27)

Semenjak kecil beliau tidak pernah belajar di sekolah/madrasah ataupun suatu institusi pendidikan formal. Pada usia sekitar 7 tahun (sekitar thn.1841) beliau dididik oleh seorang guru privat yang bernama Fazl Ilahi. Ia seorang penduduk Qadian dan penganut mazhab Hanafiah. Ia mengajarkan Al-Quran dan beberapa dasar buku pelajaran bahasa Farsi. Pada usia 10 tahun Hz.Mirza Ghulam Ahmad dididik oleh guru privat bernama Fazl Muhammad. Ia berasal dari Feroze-wala, Gujran-wala, dan dari kelompok Ahli-Hadis. Ia mengajarkan dasar-dasar tata-bahasa Arab. Dan pada usia 17 atau 18 tahun beliau dididik oleh seorang guru Shiah, bernama Gul Ali Shah. Guru ini mengajarkan lebih lanjut tata-bahasa Arab dan juga mantik/logika. Selain itu ayah beliau adalah seorang tabib yang mahir, maka beliau pun memperoleh pendidikan dalam bidang ilmu ketabiban ini. Dan beliau mempunyai kecenderungan banyak menelaah buku-buku. Terutama dari perpustakaan keluarga yang masih terpelihara sejak turun-temurun. (Lihat: Sirrul-Khilafa, Mirza Ghulam Ahmad, Amritsar,1894,h.7; Life ofAhmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.29; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,h.3)

Zaman Pergolakan & Perubahan Dunia
Banyak perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya. Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama Kerajaan Inggris memberikan jaminan kebebasan beragama, khususnya dalam toleransi beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada tahun 1829, yangmana dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.

Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kenderaan-kenderaan atau alat-alat transportasi praktis yang menggunakan tenaga uap dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah banyak yang beredar dengan sukses. Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan minyak/petroleum spirit. Kapal uap pertama mulai menjelajahi jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris pada tahun 1825. Electric telegraphy mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada tahun 1832. Pada tahun 1846 telah ditemukan sistim anaesthetik. Dan sistim antiseptik dalam perawatan luka mulai diakui pada tahun 1867. Penelitian Pasteur tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880. Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895. Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan baru yang mengubah pola pikir dan pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)

Kebangkitan Kristen
Selain itu di bidang keagamaan, missi-missi Kristen mulai bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia semenjak tahun 1804, khususnya ketika British & Foreign Bible Society terbentuk. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)

Bahkan kurun waktu antara tahun 1815 hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan/kristenisasi itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris Kristen disana. Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist (American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists pada tahun 1836; Lutherans pada tahun 1840; dan Methodists pada tahun 1856. Kemudian German Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867. Dan uniknya Ratu Victoria memproklamirkan kebebasan beragama serta sikap tidak memihak Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama, di India pada tahun 1858. (Lihat: World Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30)

Kebangkitan Gerakan Neo-Hindu
Bersamaan dengan itu di anak-benua India pun bermunculan kelompok-kelompok Neo-Hindu yang gencar menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya yang paling militan dan agressif adalah sekte Arya Samaj(Aryan Society) yang didirikan pertama kali pada tahun 1875 di Bombay oleh Swami Dayananda Saraswati (1824-1883). Ini adalah suatu gerakan yang ingin mengembalikan kemurnian agama Hindu dan menampilkannya sebagai suatu kebanggaan nasional India. Swami Dayananda Saraswati ini mulai mengembangkan ajaran Neo-Hindu-nya sejak tahun 1865. Alirannya banyak menentang pemahaman-pemahaman Hindu Brahma yang ortodox. Selain itu mereka melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kristen maupun Islam. Swami Dayananda Saraswati yang digelari “Hindu Luther” oleh penentangnya, juga menulis sebuah ‘Bible’ Arya Samaj yang bernama Satyarth Prakash, yang berisikan penafsiran/terapan-terapan ayat Veda yang menggambarkan sikap Hindu terhadap agama-agama lainnya dan terhadap permasalahan-permasalahan sosial kontemporer. Sekte ini berkembang menjamur di India dengan cepat, khususnya di wilayah Punjab. (Lihat:The Raj, India & the British 1600-1947, C.A.Bayly, National Potrait Gallery Publications, London,1990,p.305-306; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.61; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,foot note p.4)

Buku Barahiin Ahmadiyyah
Kondisi Islam pada saat itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi gerakan Kristenisasi sedang gencar-gencarnya berjalan di India dan menarik ratusan ribu orang masuk ke dalam agama Kristen dan di sisi lain serangan-serangan pihak Hindu terhadap Islam, Al-Quran dan terhadap wujud suci Nabi Muhammad Mustafa saw..

Kondisi inilah yang banyak mewarnai kehidupan awal daripada Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Beliau banyak menelaah literatur-literatur yang berkaitan dengan agama-agama tersebut. Beliau secara personal banyak terlibat dalam upaya-upaya untuk membela Islam dari serangan-serangan di kedua arah tsb.. Disamping itu beliau sendiri mengalami perkembangan rohaniah.

Sejak tahun 1872 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sudah giat membela Islam membalas serangan-serangan dari kelompok Kristen dan kelompok Hindu khususnya Arya Samaj dan Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di berbagai media massa. Antara lain jurnal Manshur Muhammadi yang terbit dari Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Kemudian pada beberapa surat-kabar yang terbit dari Amritsar a.l: Wakil; Safir Hind; Widya Prakash; dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore), Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sialkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan Isyaatus-Sunnah (Batala). Begitu juga pada Akhbar-e-Aam (Lahore). (Lihat: Ahmadiyyat, The Renaissance of Islam, Muhammad Zafrullah Khan, Tabshir Publications, London,1978,h.16; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.63)

Melihat serangan terhadap Islam semakin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya berarti yang dilakukan oleh pemuka-pemuka Islam, maka berdasarkan bimbingan dari Allah Ta’ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. mulai menulis buku Barahiin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan pada tahun 1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884. Intinya beliau memaparkan bukti-bukti keunggulan dan hidupnya agama Islam serta ketinggian/kemuliaan Kitab Suci Al-Quran dan Rasulullah saw. sebagai perbandingan dengan agama Hindu, Kristen dan agama-agama lainnya.

Pada jilid pertama beliau lebih memfokuskan pada balasan serangan terhadap ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah saw., Nabi Isa as., dan Nabi Musa as. serta yang menuduh kitab-kitab suci para nabi tsb. adalah palsu. Disamping itu beliau menyerang akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya sejak awal-permulaan. (Barahiin Ahmadiyyah, Rohani Khazain vol.1,h.72; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70)

Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj. Kemudian mengenai kedudukan dan perlunya wahyu. Mengenai keunggulan Kitab Suci Al-Quran atas kitab-kitab agama lainnya. Dan juga beliau menekankan kaidah dasar pembuktian kebenaran suatu agama yang harus berdasarkan pada kitab suci yang diakui oleh agama itu sendiri. Pada jilid ketiga beliau merinci keindahan dan kemuliaan Al-Quran. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada Al-Quran. Dan beliau menyatakan bahwa beliau menerima wahyu-wahyu dari Allah Ta’ala dan beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya. Pada jilid keempat beliau membahas tentang bentuk asli bahasa umat manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatan-nubuatan/ khabar-ghaib seorang nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan konsep-konsep agama Budha, Kristen dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan, dan membuktikan keunggulan ajaran Islam. Dan kitab-kitab Yahudi pun beliau paparkan sebagai perbandingan dengan Al-Quran. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.70-76)

Salah satu aspek yang sangat beliau tekankan dan beliau tampilkan sebagai bukti tetap hidupnya agama Islam hingga hari Kiamat adalah adanya hubungan komunikasi yang hidup antara Tuhan dengan hamba-hamba-Nya. Beliau paparkan sendiri pengalaman-pengalaman rohaniah beliau dalam bentuk wahyu, ilham, rukya-rukya, maupun kasyaf.

Reaksi & Dukungan Ummat Bagi Barahiin Ahmadiyyah
Sebelumnya, Hz.Mirza Ghulam Ahmad tidak begitu dikenal. Dan beliau berjuang sendirian. Namun setelah penerbitan buku Barahiin Ahmadiyyah, keadaan menjadi berubah dan beliau mulai dikenal dan tampil secara terbuka. Barahiin Ahmadiyyah mendapat sambutan yang sangat besar dari kalangan umat Islam. Buku ini telah menimbulkan suatu kejutan dan gejolak revolusi besar bagi pihak-pihak non-Islam maupun bagi kalangan Islam sendiri. Para pemuka Islam yang tadinya telah kehilangan nyali, seolah-olah mendapatkan seorang pembela Islam yang ulung sehingga mereka serentak berdiri di belakang beliau mendukung, dalam menghadapi serangan-serangan pihak non-Islam. Berikut ini beberapa kutipan sambutan dan dukungan tokoh-tokoh Islam India pada masa itu.

Mlv.Muhammad Hussein Batalvi, seorang tokoh terkemuka dari kelompok Ahli Hadis di India, banyak memberikan sanjungan terhadap buku Barahiin Ahmadiyyah maupun terhadap penulisnya. Beliau ini adalah seorang tokoh yang sangat mendukung perjuangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad a.s. pada mulanya, namun pada akhirnya beliau berubah menjadi penentang keras beliau as.. Di dalam salah satu risalahnya, Mlv.Muhammad Hussein Batalvi menuliskan kesaksian beliau tentang buku Barahin Ahmadiyah:

“Menurut pendapat saya — pada zaman sekarang dan sesuai kondisi yang berlaku — buku ini adalah sedemikian rupa, yangmana sampai saat ini di dalam Islam tidak ada bandingannya yang telah ditulis, dan tidak pula ada khabar di masa mendatang…. Penulisnya pun — dalam hal memberikan bantuan kepada Islam dari segi harta, jiwa, tulisan maupun lisan — sangat teguh dan kukuh pada langkah-langkahnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan contoh yang seperti beliau, walau dari kalangan umat Islam terdahulu sekali pun…” (Risalah Isyaatus-Sunnah jld.7, no.6-11; Swanah Fazl Umar, Jld.I, hal.20)

Kemudian berikut ini ulasan dari seorang tokoh sufi terkenal di India yang berasal dari Ludhiana. Yaitu Hz.Sufi Ahmad Jaan r.a.. Banyak murid maupun pengikut beliau yang menjadi tokoh-tokoh pemuka agama Islam saat itu. Sang sufi ini menuliskan ulasan tentang buku Barahiin Ahmadiyyah di dalam sebuah selebaran beliau yang berjudul Isytihar Wajibul Izhar:

“Di zaman abad ke empatbelas telah berkecamuk sebuah tofan kebobrokan di dalam setiap agama. Seperti yang dikatakan orang: orang-orang kafir baru banyak bermunculan, dan orang-orang Islam baru pun banyak bermunculan. Tidak diragukan lagi, diperlukan sebuah buku dan seorang mujaddid seperti Barahiinn Ahmadiyah serta penulisnya Maulana Mirza Ghulam Ahmad Sahib. [Yaitu] yang dengan berbagai cara siap untuk membuktikan da’wah Islam atas para penentang. Beliau bukanlah berasal dari kalangan ulama maupun cendekiawan umum. Melainkan secara khusus [datang] untuk tugas ini sebagai utusan dari Allah; penerima ilham dan yang bercakap-cakap dengan Allah…. Sang penulis adalah mujaddid, mujtahid, muhaddats bagi abad-keempat belas ini, dan merupakan seorang yang kamil dari kalangan umat ini. Hadis Nabawi ini pun mendukung beliau: ‘Ulama ummati kalanbiyaa Bani Israil’… Wahai para penelaah! Dengan niat yang benar serta dengan semangat kebenaran yang sempurna saya menyampaikan hal ini, bahwa tidak diragukan lagi bahwasanya Mirza Sahib adalah mujaddid era ini. [Beliau merupakan] ‘pedoman’ bagi para pencari jalan [kebenaran]; matahari bagi orang-orang yang berhati batu; penunjuk jalan bagi orang-orang yang sesat; pedang nyata bagi para pengingkar Islam; hujjah sempurna bagi para pendengki. Yakinilah bahwa tidak akan datang lagi masa yang seperti ini. Ketahuilah, bahwa masa ujian telah tiba. Dan Hujjah Ilahi telah tegak. Dan bagaikan matahari jagat raya, telah diutus seorang Haadi Kamil (pemberi petunjuk yang sempurna), supaya ia menganugerahkan nur kepada orang-orang yang benar dan mengeluarkan [mereka] dari kegelapan dan kesesatan. Serta akan menghujjat para pendusta”. (Swanah Fazl Umar, jld.I, hal.21-22)

Reaksi Pendukung & Permintaan Untuk Menerima Baiat
Banyak dari kalangan umat Islam yang berkeinginan untuk menjadi murid beliau dan meminta agar beliau mau menerima bai’at mereka.

Pada bulan Maret 1882 pertama kali Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperoleh perintah dari Allah Ta’ala bahwasanya beliau dijadikan Ma’mur Minallah (Utusan Allah). Dari itu juga beliau menyatakan diri sebagai Mujaddid. Wahyu ini beliau terbitkan di dalam Barahiin Ahmadiyyah jilid I edisi pertama pada cat.kaki pd.cat.kaki hal.238. (Adapun bunyi wahyu tsb. adalah: “Qul inny umirtu wa’anaa awwalul-mu’miniyn — [Katakanlah, aku telah diutus/diperintahkan, dan akulah yang pertama beriman]“. (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h.44; Rohani Khazain jld.1,h.265)

Semenjak awal tahun 1883 sudah banyak orang yang mengutarakan keinginan mereka untuk bai’at di tangan beliau. Namun beliau belum dapat menerimanya sebab belum ada petunjuk dari Allah Ta’ala.

Akhirnya setelah ada petunjuk dari Allah Ta’ala pada bulan Februari atau Maret 1888, maka pada akhir tahun 1888 beliau menyebarkan selebaran undangan untuk bai’at, yang beliau tujukan kepada para pencahari kebenaran.

Dan pengambilan bai’at yang pertama berlangsung di Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889. Pada bai’at pertama ini sebanyak 40 orang menyatakan ikrar bai’at mereka di tangan Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Inilah yang dinyatakan sebagai peletakan fondasi pertama dari Jemaat Ahmadiyah (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.139-140, 151-159)

Reaksi & Penentangan Dari Pihak Non-Islam
Sebaliknya, Barahiin Ahmadiyyah telah membangkitkan reaksi keras dari kalangan non-Islam, terutama Hindu Arya Samaj, yang kemudian diikuti oleh kelompok Kristen. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mulai menghadapi mereka langsung dengan mengadakan perdebatan-perdebatan.

Yang pertama berlangsung adalah perdebatan beliau dengan seorang guru dan anggota Arya Samaj, Lala Murli Dhar, pada bulan Maret 1886 di Hosyiarpur. Dhar menyerang pendapat Islam berkenaan dengan mukjizat Syaqqul-Qamar, sedangkan Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengecam akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan telah ada dari sejak awal. (Lihat: Surmah Chasm Arya & Rohani Khazain jld.2,h.49-308; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W.Jones, Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,p.4-5)

Kemudian pada tahun 1886 itu juga Pandit Lekh Ram dari Arya Samaj menyerang Hz.Mirza Ghulam Ahmad. Ia menerbitkan buku dan selebaran-selebaran yang mencaci maki Rasulullah saw. dan Islam serta menghina diri Hz.Mirza Ghulam Ahmad as.. Terjadi polemik keras antara keduanya. Pandit Lekh Ram mengalami kematian yang tragis dan misterius pada tahun 1897 setelah adanya nubuatan-nubuatan dari Hz.Mirza Ghulam Ahmad.

Penda’waan Hz.Mirza Ghulam Ahmad & Gelombang Penentangan
Pada akhir tahun 1890 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menerima wahyu yang menyatakan bahwa Nabi Isa as. telah wafat dan Almasih yang dijanjikan kedatangannya di akhir zaman itu beliau lah orangnya. (Yakni: “Masih Ibnu Maryam Rasulullah faot hocuka he, aor uske rangg me ho kar wa’dah ke muwafiq tu aya he — [Masih ibnu Maryam rasul Allah, telah wafat. Sesuai dengan janji, engkau datang dengan menyandang warnanya.” (Lihat: Tazkirah, Bhs.Urdu, Al-Syirkatul Islamiyah, Rabwah, 1969,h,183; Izalah Auham, Mirza Ghulam Ahmad,jld.2,h.561-562; Rohani Khazain, Add.Nazir Ishaat, London, jld.3,h.402)

Dan pada awal tahun 1891 beliau menda’wakan diri beliau sebagai Almasih yang dijanjikan atau Masih Mau’ud, dan juga sebagai Imam Mahdi. (Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xii)

Semenjak itu gelombang penentengan semakin marak. Yakni dari kalangan umat Islam sendiri dan juga dari kalangan Kristen. Semenjak itu banyak terjadi perdebatan-perdebatan seputar hidup matinya Nabi Isa. Beberapa perdebatan penting antaranya adalah sbb..

Dari kalangan umat Islam yang menentang justru bekas sahabat beliau yang memberikan dukungan sepenuhnya terhadap karya beliau Barahiin Ahmadiyyah, yaitu Muhammad Hussein Batalwi, seorang tokoh Ahli Hadis terkemuka di India pada masa itu. Sebab Muhammad Hussein Batalwi berakidah bahwasanya Nabi Isa as. masih hidup di langit dan akan turun ke bumi. Perdebatan ini berlangsung di Ludhiana pada bulan Juli 1891.

Kemudian masih mengenai Nabi Isa, berlangsung perdebatan di Delhi pada bulan Oktober 1891 antara Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. dengan Muhammad Nazir Hussein dan Abu Muhammad Abdul Haq.

Dari kalangan Kristen yang tampil adalah Henry Martin Clark, seorang tokoh Kristen yang mendirikan missi kesehatan dari Church Missionary Society di Amritsar pada tahun 1892. Pada bulan April 1893 Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. menerima tantangannya untuk mengadakan perdebatan. Perdebatan itu sendiri berlangsung selama 15 hari pada bulan Mei 1893. Dalam perdebatan tsb. Clark dibantu oleh Abdullah Atham, seorang tokoh Kristen yang berasal dari Islam. Inti perdebatan adalah tentang ketuhanan Jesus.

Pada tahun 1891 Hz.Mirza Ghulam Ahmad menulis buku Izalah Auham dimana beliau memaparkan sebanyak 30 dalil Al-Quran berkenaan dengan telah wafatnya Nabi Isa as..

Pada tahun 1898 diperoleh informasi bahwasanya kuburuan Nabi Isa ada di Srinagar, Kashmir, India. Hz.Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan expedisi untuk menyelidiki hal itu. Dan pada tahun 1899 beliau menulis buku Masih Hindustan Me (Almasih di India). Di dalam buku ini beliau memaparkan kesaksian-kesaksian Bible bahwa Nabi Isa itu tidak mati di tiang salib, melainkan selamat dari kematian di tiang salib yang terkutuk itu. Dan dari bukti-bukti sejarah Hz.Mirza Ghulam Ahmad memaparkan bahwasanya setelah peristiwa penyaliban itu Nabi Isa pergi mencari domba-domba Bani Israil yang hilang ke kawasan Asia tengah. Mulai dari Syiria, Iraq, Iran, Afghanistan, sampai ke India. Dan akhirnya wafat dan dikebumikan di Srinagar, Kashmir, India.

Pada tahun 1901 Hz.Mirza Ghulam Ahmad memperjelas penda’waan beliau sebagai nabi zilli (bayangan) dan ummati (selaku umat Nabi Muahammad saw.) yang merupakan berkat mengikuti dan mematuhi sepenuhnya Syariat dan Sunnah Rasulullah saw.. (Lihat: Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, terj.Bhs.Indonesia, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989, hal.xiii)

Karya-karya Tulis Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Disamping beliau menghadapi polemik-polemik tsb. dengan berbagai kalangan tokoh agama, Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. sangat giat menulis buku-buku. Tercatat sebanyak 88 judul buku yang beliau tulis di dalam beberapa bahasa, antara lain Bhs.Urdu, Arab, dan Farsi. Kumpulan karya tulis beliau ini kini diterbitkan dalam satu set dengan nama Rohani Khazain yang terdiri dari 23 volume.

Media-media Massa Yg Diterbitkan Oleh Hz.Mirza Ghulam Ahmad
Selain itu Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. di masa hidup beliau juga menerbitkan media-media massa untuk menyebar-luaskan misi pertablighan Islam. Mingguan Al-Hakam (Urdu) mulai terbit sejak tahun 1897. Kemudian Al-Badr mulai terbit sejak tahun 1902, juga dalam Bhs.Urdu. Sedangkan The Review of Religions dalam Bhs.Inggris mulai terbit pada tahun 1902.

Gerakan Al-Wasiyyat & Kewafatan
Pada tahun 1905, berdasarkan petunjuk Allah Ta’ala, Hz.Mirza Ghulam Ahmad mencanangkan suatu gerakan yang dinamakan Al-Wasiyyat. Yakni suatu gerakan pengorbanan harta dalam bentuk wasiyat, untuk memajukan dan menyebar-luaskan Islam ke seluruh dunia. Beliau membentuk sebuah badan utama yang dinamakan Sadr Anjuman. Yaitu yang akan mengelola segala permasalahan sekular missi tsb.. Dan beliau mewasiatkan tentang akan adanya silsilah khilafat yang akan menggantikan beliau dan akan memimpin missi tsb..

Dan Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat di Lahore pada tanggal 26 Mei 1908. Jenazah beliau dibawa ke Qadian dan dikebumikan disana.

Silsilah Khilafat & Perkembangan Ahmadiyah Di Seluruh Dunia
Setelah Hz.Mirza Ghulam Ahmad as. wafat, beliau digantikan oleh Khalifatul Masih I, yaitu Hz.Mlv.Hafiz Hakim Nuruddin ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke Eropa sudah dimulai pada masa beliau ini.

Khalifatul Masih I wafat pada tahun 1914 dan digantikan oleh Khalifatul Masih II, yaitu Hz.Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra.. Pertablighan Islam dan pengembangan missi Ahmadiyah ke seluruh dunia lebih terorganisir. Pengorganisiran itu beliau wujudkan pada tahun 1935 dalam bentuk suatu gerakan yang dikenal dengan nama Tahrik Jadid (Gerakan Baru). Di dalam gerakan ini beliau menghimpun dana sukarela dari para anggota dan mengumpulkan tenaga-tenaga sukarela yang mewakafkan diri mereka untuk pengembangan Islam ke seluruh dunia. Pada masa Khalifatul Masih II ini Jemaat Ahmadiyah telah berkembang di Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

Setelah memimpin selama lebih-kurang 50 tahun, Khalifatul Masih II wafat pada tahun 1965 dan digantikan oleh Khalifatul Masih III, yaitu Hz.Mirza Nasir Ahmad. Beliau wafat pada tahun 1982 dan digantikan oleh Hz.Mirza Tahir Ahmad sebagai Khalifatul Masih IV yang memimpin Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia pada saat sekarang ini.

Kini Jemaat Ahmadiyah telah tersebar di lebih dari 140 negara di dunia. Program-program penyebaran Islam ke seluruh dunia dan pengkhidmatan kepada umat manusia dalam bentuk penghimbauan kepada Allah Ta’ala (Da’wah Ilallah), dijadikan sebagai prioritas utama. Misalnya pengiriman muballigh-muballigh ke manca-negara; penerjemahan Al-Quran dan tafsirnya ke dalam berbagai bahasa (target:100 bahasa dunia). Pembangunan mesjid-mesjid dan sarana-sarana lainnya. Pengembangan literatur-literatur yang menyinggung berbagai aspek. Pengembangan sarana dakwah Islam melalui satelit dalam program MTA (Muslim Television Ahmadiyya) dsb..

Ahmadiyah Di Indonesia
Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.

Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.

Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da’i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.

Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai’at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.

Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..

Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.

Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor.

Penyusun: MI & Ir.Syarif Ahmad Lubis MSc

Revisi: 1994

AlIslam

Ping Pong Diplomacy

Ping Pong Diplomacy

 

Ping Pong Diplomacy  refers to the cultural exchange of ping pong players of the United States and People’s Republic of China (PRC) in the 1970s. This marked a thaw in U.S.-China relations that led the way to a visit to Beijing by President Richard Nixon.

On 6 April 1971 the U.S. Table Tennis team was in Japan for the 31st World Table Tennis Championship when they received an invitation from their PRC counterparts to visit the PRC. On 12 April 1971 the team and accompanying journalists became the first Americans to set foot in the PRC capital since Mao’s communist party had come to power 22 years earlier, in 1949. The meeting was facilitated by the National Committee on U.S.-China Relations.

According to History of U.S. Table Tennis by Tim Boggan, who went to China along with the U.S. Table Tennis Team, three incidents may have either singularly or jointly triggered the invitation from China.

The first is that Welshman H. Roy Evans, the President of the International Table Tennis Federation of that time, claimed that he visited China prior to the 31st World Table Tennis Championship and suggested to the Chinese sports authorities and Premier Zhou Enlai, that China should take steps to get in contact with the world through international sport events after the Cultural Revolution.

The second was because of Leah “Miss Ping” Neuberger, the American who was the 1956 World Mixed Doubles Champion and nine times U.S. Open Women’s Singles Champion, was traveling at the time with the Canadian Table Tennis Team that had been invited by China to visit the country. As part of diplomatic tactics, China extended its approval of Leah Neuberger’s application for a visa to the entire American team.

The third incident, perhaps the most likely trigger, especially according to sources of information from China, was the unexpected but dramatic meeting between the flamboyant American player Glenn Cowan and the Chinese player Zhuang Zedong, a three-time world champion (1961, 1963 and 1965) and champion at numerous other table tennis events.

It just so happened that Glenn Cowan missed his team bus one afternoon in Nagoya during the 31st World Table Tennis Championship after his practice in one of the training areas. Cowan had been practicing for 15 minutes with the Chinese player, Liang Geliang, when a Japanese official came and wanted to close the training area.

As Glenn Cowan looked in vain for his team bus, a Chinese player waved to him to get on his Chinese team bus. Moments after his casual talking through an interpreter to the Chinese players, Zhuang Zedong came up to him from his back seat to greet him and presented him with a silk-screen portrait of Huangshan Mountains, a famous product of such kind from Hangzhou. Cowan wanted to give something back, but all he could find from his bag was a comb and he said, “Jesus Christ, I can’t give you a comb. I wish I could give you something, but I can’t.”

When it was time for them to get off the bus, hordes of politically sensitive photographers and journalists were waiting for them.

Glenn Cowan later found and bought a T-shirt with a red, white and blue, peace emblem flag and the words “Let It Be”. At another chance meeting with Zhuang Zedong, he gave the gift to Zhuang and the latter took it.

When a journalist asked Cowan, “Mr. Cowan, would you like to visit China?”

He answered, “Well, I’d like to see any country I haven’t seen before–Argentina, Australia, China, … Any country I haven’t seen before.”

“But what about China in particular? Would you like to go there?”

“Of course,” said Glenn Cowan.

During an interview in 2002 with the famous TV personality Chen Luyu, Zhuang Zedong told more of the story.

“The trip on the bus took 15 minutes, and I hesitated for 10 minutes. I grew up with the slogan ‘Down with the American imperialism!’ And during the Cultural Revolution, the string of class struggle was tightened unprecedentedly, and I was asking myself, ‘Is it okay to have anything to do with your No. 1 enemy?’”

Zhuang then remembered that Chairman Mao Zedong met Edgar Snow on the Rostrum of Tiananmen on the National Day in 1970 and said to Snow that China should now place its hope on American people.

Zhuang looked in his bag and first went through some pins, badges with Mao’s head, silk handkerchiefs, and fans. But he felt these were not decent enough to be a good gift. He finally picked the said silk portrait of Huangshan Mountains.

On the following day, many Japanese newspapers carried photographs of Zhuang Zedong and Glenn Cowan.

A few days later, the Chinese Department of Foreign Affairs received a report that the U.S. Table Tennis Team hoped to get invited to visit China. As usual, the Department declined, and Zhou Enlai and Mao Zedong agreed with the decision. In the evening of the same day, however, Mao Zedong saw the news in Dacankao, a newspaper accessible only to high-ranking government officials, that Zhuang Zedong met with Glenn Cowan. This changed Mao’s mind and he decided to invite the U.S. Table Tennis Team.

It was reported that Mao Zedong said, “This Zhuang Zedong not only plays table tennis well, but is good at foreign affairs, and he has a mind for politics.”

On April 10, 1971, nine American players, four officials, and two spouses stepped across a bridge from Hong Kong to the Chinese mainland and then spent their time on April 11 – 17 playing exhibition matches, touring the Great Wall and Summer Palace and watching a ballet, and so on.

In February, 1972, Richard Nixon paid his historic visit to China.

Two months after Richard Nixon’s visit, Zhuang Zedong visited the U.S. as the head of a Chinese table-tennis delegation on April 12 – 30, 1972. Also on the itinerary of the same trip were Canada, Mexico and Peru.