Reformasi

REFORMASI

Latar Belakang Terjadinya

Reformasi di Indonesia

Krisis finansial yang terjadi di Asia memberikan dampak bagi perekonomian Indonesia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan membuat kurs Rupiah turun menjadi 17.000,- per dolar AS dan semakin besarnya ketidakpuasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Selain itu pada saat PEMILU tahun 1998 yang diadakan pada tanggal 10 Maret, Soeharto kembali terpilih sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun untuk ketujuh kalinya kali ini dengan menggandeng B.J. Habiebie sebagai Wakil Presiden.

Tidak lama setelah itu, pada tanggal 4 Mei harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melonjak hingga 71%, sehingga membuat masyarakat di daerah Medan tidak dapat menahan emosi dan rasionalitasnya lagi, mereka sudah kehilangan kesabaran karena harus menunggu sangat lama reaksi dari wakil rakyat untuk menyuarakan aspirasi dan keinginan mereka yang disuarakan oleh mahasiswa

Apalagi setelah terjadinya Tragedi Trisakti pada hari Selasa tanggal 12 Mei 1998 yakni ketika terbunuhnya 4 Mahasiswa Universitas Trisakti oleh senapan mesin aparat. Pada hari yang sama pula diselenggarakan mimbar bebas yang diselenggarakan oleh SMUT dan didukung oleh pimpinan Universitas Trisakti dengan mengangkat tema “Pemberdayaan MPR/DPR dan Koreksi Terhadap Eksekutif”. Sekitar 6.000 mahasiswa berpartisipasi dalam mimbar tersebut yang berlangsung di pelataran parkir kampus A dimulai pukul 10.00 pagi. Dalam aksi tersebut SMUT mengeluarkan siaran pers yang berisi 7 butir, termasuk permintaan agar dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR untuk mengembalikan kedaulatan rakyat yang tertindas dan terhina oleh kekuasaan eksekutif yang merajalela. Aksi ini berjalan dengan tertib dan tenang.

Usai mengikuti orasi-orasi hingga siang hari,sekitar pukul 12.30 mulai bergerak ke luar kampus melalui jalann S.Parman. mahasiswa menuntut long march ke gedung DPR/MPR Senayan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Barisan tersebut dikawal satgas SMUT untuk menghindari provokasi dan penyusupan dari pihak luar. Sekitar 200 meter dari gerbang kampus, mahasiswa telah dihadang oleh \kurang lebih 2 SSK pasukan.

Mahasiswa masih terus berusaha bernegosiasi agar para aparat mengizinkan mereka masuk ke Senayan. Pada pukul 25.30, ada pemberitahuan dari pihak keamanan bahwa aksi keprihatinan mahasiswa hanya diberi batas waktu sampai jam 16.00 sore.

Pada pukul 16.20 mahasiswa bubar, ketika rombongan mahasiwa sedang dalam perjalanan kembali ke kampus, terjadi provokasi oleh seorang yang mengaku alumnin Trisakti yang kemudian diketahui bernama Mashud. Mahasiswa menuduh Mashud adalah intel yang mau memprovokasi mereka dengan cara mengejek-ejek dan memancing kemarahan mereka. Dan Mashud pergi ke dalam barisan aparat untuk mencari perlindungan. Aksi dorong mendorong antar paparat dan mahasiswa pun tak terelakkan lagi

Pad jam 17.15, massa mahasiswa mulai melempari pasukan dengan yang berada di barisan depan. Para mahasiswa dikejar, diburu, ditendangi bahkan ada ditembaki. Dan pada pukul 17.05 – 18.30 aparat mulai melakukan penembakan membabi buta. Keadaan baru mulai tenang pada jam 20.00.

Kemarahan masyarakat terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam mulai dari malam hari tanggal 12 Mei 1998 dan semakin parah pada tanggal 13 Mei 1998 siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat.

Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko, maupun rumah hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah.

Setelah kerusuhan berlalu, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia abad ke 20, yang tinggal hanyalan duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung, mall dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Terlalu banyak biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

Akhirnya dibentuklah Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini, karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian perkosaan dan rasialisme mengikuti peristiwa gugurnya mahasiswa Trisakti. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri, TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut yang membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu.

Dalam keadaan yang mulai terkendali setelah mencekam selama beberapa hari sejak tertembaknya mahasiswa Trisakti dan terjadinya kerusuhan besar di Indonesia, tanggal 18 Mei 1998 hari Senin siang, ribuan mahasiswa berkumpul di depan gedung DPR/MPR dan dihadang oleh tentara yang bersenjata lengkap, bukan lagi aparat kepolisian. Tuntutan mahasiswa yang utama adalah pengusutanperistiwa penembakan mahasiswa Trisakti, penolakan terhadap penunjukan Soeharto sebagai Presiden kembali, pembubaran DPR/MPR 1998, pembentukan pemerintahan baru, dan pemulihan ekonomi secepatnya.

Kedatangan ribuan mahasiswa ke gedung DPR/MPR saat itu begitu menegangkan dan nyaris terjadi insiden. Suatu saat tentara yang berada di depan gedung atas tangga sempat menodongkan senjata mereka sehingga membuat panik para wartawan yang segera menyingkir dari arena demonstrasi. Mahasiswa sebaliknya tidak panik dan tidak terpancing untuk melarikan diri sehingga tentara tidak dapat memukul mundur mahasiswa dari gedung DPR/MPR. Sungguh besar nyali mahasiswa dan mereka tak bergeming walau sadar sepenuhnya mereka mangsa empuk peluru di tempat yang lapang dan tanpa perlindungan apapun. Akhirnya mahasiswa melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan dan selanjutnya membubarkan diri pada sore hari dan pulang dengan menumpang bus umum.

Keesokan harinya mahasiswa yang mendatangi gedung DPR/MPR semakin banyak dan lebih dari itu mereka berhasil menginap dan menduduki gedung itu selama beberapa hari. Keberhasilan menduduki gedung DPR/MPR mengundang semakin banyaknya mahasiswa Indonesia lainnya dari luar Jakarta untuk datang dan turut menginap di gedung tersebut. Mereka mau menunjukkan bahwa Reformasi itu bukan hanya milik Jakarta tapi milik semua orang Indonesia.

Soeharto akhirnya menyerah pada tuntutan rakyat yang menghendaki dia tidak menjadi Presiden lagi, namun tampaknya tak semudah itu Reformasi dimenangkan oleh rakyat Indonesia karena ia meninggalkan kursi kepresidenan dengan menyerahkan secara sepihak tampuk kedaulatan rakyat begitu saja kepada Habiebie. Ini mengundang perdebatan hukum dan penolakan dari masyarakat. Bahkan dengan tegas sebagian besar mahasiswa menyatakan bahwa Habiebie bukanlah Presiden Indonesia. Soeharto No, Habiebie No! Mereka tetap bertahan di gedung DPR/MPR sampai akhirnya diserbu oleh tentara dan semua mahasiswa digusur dan diungsikan ke kampus-kampus terdekat.

Paling banyak yang menampung mahasiswa pada saat evakuasi tersebut adalah kampus Atma Jaya yang terletak di Semanggi. Setelah kejadian itu, mulailah menyebar pemberontakan –pemberontakan dan kerusuhan-kerusuhan yang dilakukan oleh para mahasiswa hampir di seluruh pelosok negeri.

PERISTIWA REFORMASI

Diantara Pemberontakan pemberontakan yang dilakukan adalah :

Ø Kerusuhan Medan

Aksi unjuk rasa yang dikumandangkan setiap hari di berbagai kota besar Indonesia sudah mendekati titik puncaknya. Masyarakat sudah tidak dapat menahan emosi lagi. Dalam keadaan seperti ini masyarakat akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan diajak melakukan tindakan yang tidak terpuji. Mereka kehilangan kesabaran karena harus menunggu sangat lama reaksi dari wakil rakyat atas kehendak mereka yang disuarakan oleh mahasiswa. Mereka sangat yakin dan selalu mendukung mahasiswa, sayangnya tidak dengan wakil rakyat.

Mahasiswa Medan sangat aktif dan terus reaktif atas tindakan pasif wakil rakyat yang tidak mendengar suara mereka. Padahal mereka melakukan aksi hampir setiap hari dan sudah turun kejalan bersama masyarakat untuk menuntut Reformasi di segala bidang. Keberhasilan mahasiswa Medan turun ke jalan menyampaikan aspirasinya bergabung dengan masyarakat memiliki efek samping. Masyarakat Medan terlanjur tak terkendali dan mulai melakukan keonaran.

Medan merupakan kota besar pertama yang dilanda kerusuhan besar berkaitan dengan Reformasi. Mulai dari hari Senin 4 Mei 1998 pecah kerusuhan sampai hari Kamis 7 Mei 1998. Pembakaran, perusakan dan penjarahan terhadap toko-toko, bank, pasar, dan kendaraan terjadi selama beberapa hari. Tampaknya mahasiswa tidak mampu mengendalikan perusuh, tidak juga aparat keamanan.

Kerusuhan ini menjalar terus sampai ke luar kota Medan seperti Lubuk Pakam kabupaten Deli Serdang dan kota-kota kecil lainnnya di sekitar Medan. Kerusuhan masih berlanjut walau dalam skala lebih kecil pada hari Kamisnya juga.

Setelah terjadinya kerusuhan dan pemberontakan, pada saat itu juga perekonomian Medan melumpuh, warga keturunan China yang bertempat tinngal di Medan pergi meninggalkan rumah-rumahnya karena mereka merasa keamanannya tidak terjamin lagi. Dan selama beberapa hari, warga kesulitan mendapatkan sembako.

Setelah peristiwa kerusuhan 13 Mei 1998 di Jakarta, dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, yang juga mengeluarkan rekomendasi mengenai keterkaitan peristiwa kerusuhan di Medan ini dengan kerusuhan di berbagai daerah lainnya selama bulan Mei 1998. Disebutkan pula keterlibatan provokator yang mengajak masyarakat untuk melakukan kerusuhan dengan pola yang sama yang terjadi di berbagai daerah. Rupanya niat suci mahasiswa dikotori oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan “lebih” dalam hal management manusia dan yang lebih hebat lagi orang-orang ini memiliki jaringan “nasional”.

Ø Peistiwa Gejayan (Kerusuhan Yogyakarta)

Peristiwa Gejayan dikenal juga dengan sebutan Tragedi Yogyakarta, adalah peristiwa bentrokan berdarah pada Jumat 8 Mei 1998 di daerah Gejayan, Yogyakarta, dalam demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Bentrokan ini berlangsung hingga malam hari. Kekerasan aparat menyebabkan ratusan korban luka, dan satu orang, Moses Gatutkaca, meninggal dunia.

Peristiwa ini berawal dari unjuk rasa mahasiswa yang dilakukan beberapa Universitas di Yogyakarta pada tanggal 8 Mei 1998.

Pukul 09.00 terjadi demonstrasi dikampus Institut Sains dan Teknologi Akprind serta di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta. Sementara di kampus Universitas Kristen Duta Wacana juga menyelenggarakan aksi keprihatinan yang berlangsung di Atrium UKDW.

Selesai sholat Jumat, Pukul 13.00, sekitar 5000 mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta melakukan demonstrasi di bundaran kampus UGM. Demonstrasi yang berlangsung dengan tertib tersebut menyampaikan pernyataaan keprihatinan mahasiswa atas kondisi perekonomian saat itu yang dilanda krisis moneter, penolakan Soeharto sebagai Presiden kembali, memprotes kenaikan harga-harga, dan mendesak untuk dilaksanakannya Reformasi.

Pada saat yang bersamaan siang itu, ratusan lainnya juga melakukan demonstrasi di halaman kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan kampus IKIP Negeri Yogyakarta yang lokasinya berseberangan. Disini para pengunjuk rasa juga memprotes kekerasan aparat yang terjadi pada 5 Mei 1998 (baca: Massa Rakyat Bentrok dengan Aparat ABRI), di lokasi tersebut. Menjelang sore hari mereka ingin bergerak menuju kampus UGM untuk menggabungkan diri melakukan unjuk rasa di sana. Ternyata aparat keamanan tidak mengijinkan dan berhadap-hadapan dengan mahasiswa yang bergabung dengan masyarakat. Bentrokan meletus sekitar pukul 17.00. Ratusan petugas keamanan membubarkan secara paksa dengan melakukan penyerbuan yang dibuka oleh panser penyemprot air dan tembakan gas air mata terhadap pengunjuk rasa di depan Hotel Radison yang terletak di pertigaan antara Jl. Gejayan dan Jl. Kolombo. Mahasiswa dan masyarakat melawan aparat dengan batu, petasan dan bahkan bom molotov pada sore itu di sekitar Jalan Gejayan, yang membentang dari perempatan Jalan Ring Road Utara hingga perempatan Jalan Adi Sutjipto dan Jalan Urip Sumoharjo. Tempat ini menjadi ajang pertarungan antara pengunjuk rasa dengan aparat yang mencegah mereka bergabung ke UGM.

Aparat secara membabi buta memukul setiap orang yang ada dilokasi, termasuk pedagang kaki lima dan penduduk setempat. Selama bentrokan berlangsung aparat melakukan pengejaran terhadap mahasiswa hingga memasuki kompleks kampus Sanata Dharma dan IKIP Negeri, sejumlah fasilitas kampus rusak saat petugas memasuki kompleks kampus. Ketegangan ini terus berlangsung hingga malam harinya. Suasana mencekam dan letusan senjata api masih terdengar hingga pukul 22.00. Sejumlah orang masih berlarian menyelamatkan diri, dan sebagian yang lain masih tertahan dalam kepungan polisi dan tentara. Massa yang terkepung ini diisolir secara ketat, dengan menutup jalan-jalan yang menuju lokasi. Pukul 00.15 WIB, sebuah kendaraan panser kembali menyerbu massa dengan menembakkan gas air mata. Massa mencoba membakar panser tersebut, tapi gagal. Api hanya terlihat menyala sebentar, kemudian padam kembali.

Sekitar pukul 21.30 WIB, para mahasiswa sedang berada di posko PMI di Sanata Dharma, menyaksikan orang berlarian dikejar aparat keamanan dan mendengar suara orang mengaduh di lokasi yang berjarak sekitar 50 meter dari Posko PMI tersebut. Setengah jam kemudian, ketika suasana sudah tenang kembali, petugas PMI mendatangi lokasi orang mengaduh tadi, dan mendapati seseorang sedang sekarat di jalan. Ia tidak lagi bicara, tangannya patah menelikung ke belakang. Dan kepalanya sudah tak berbentuk. Dari telinga dan hidungnya darah segar terus menerus mengalir. Ketika dibawa ke rumah sakit Panti Rapih, ia tewas dalam perjalanan. Dari identitas di dalam dompetnya, diketahui ia adalah Moses Gatutkaca. Sementara seorang bernama Slamet, warga Bantul juga mengalami gegar otak berat di RS Panti Rapih. Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bernama Arief, juga mengalami luka-luka di sekujur tubuh, setelah dianiaya aparat, ia sempat dirawat di RS Panti Rapih. Seorang yang lain dirawat di RS Bethesda, belum terhitung yang dirawat di rumah sakit lain.

Soeharto Jatuh, Orba Nyaris Utuh

KEJATUHAN Soeharto dari kursi kepresidenannya 21 Mei 1998, tepat tiga tahun lalu, merupakan keberhasilan sekaligus kegagalan gerakan reformasi. Ketidakmenentuan nasib gerakan reformasi yang ditandai dengan makin terkonsolidasinya kekuatan lama dan melemahnya kekuatan prodemokrasi dapat dilacak dari peristiwa peralihan kekuasaan dari Soeharto kepada BJ Habibie.

Tidak heran bila sorak-sorai menyambut kejatuhan Soeharto berlangsung singkat

dan sesudah itu adalah pergulatan kekuatan demokrasi yang makin tidak berdaya menghadapi konsolidasi kekuatan lama. Pemilihan umum dipercepat yang semula diharapkan dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada ternyata juga kandas. Legitimasi pemerintahan dalam waktu singkat tergerogoti, baik oleh perilakunya sendiri maupun akibat rongrongan kekuatan lama yang masih kuat bercokol di dalam birokrasi, parlemen, militer, maupun lembaga-lembaga penegakan hukum.

Agenda reformasi yang baru terumuskan beberapa saat setelah kejatuhan Soeharto tak satu pun terealisasikan dan tak satu pun bisa menjamin hal itu akan segera terealisasikan andaikata pemerintahan baru muncul dalam

waktu dekat. Gerakan mahasiswa 1998 merupakan sebuah peristiwa yang mengundang kekaguman, tidak hanya bagi publik di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Pada awal 1998 bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa akan muncul gerakan yang berarti untuk melawan kekuasaan Soeharto. Aksi-aksi perlawanan berskala kecil baru muncul pada Maret 1998, beberapa saat menjelang MPR mengukuhkan kembali Soeharto di kursi kepresidenan untuk ketujuh kalinya. Kekuatan militer dan kepolisian masih seratus persen di belakang Soeharto sehingga aksi-aksi sepanjang April hingga pertengahan Mei hampir selalu berakhir dengan bentrok antara mahasiswa dengan aparat. Namun kekerasan demi kekerasan itu tidak menyurutkan nyali mahasiswa. Gerakan mahasiswa dalam waktu singkat menjadi trend di kampus-kampus, bergulir bagai bola salju, makin hari makin besar dan tidak bisa ditahan lagi.

Berbeda dengan gerakan mahasiswa 1966 atau tahun-tahun sesudahnya yang memunculkan sejumlah tokoh dan pemimpin, gerakan mahasiswa 1998 nyaris bergerak tanpa pemimpin. Gerakan itu juga muncul tanpa didasarkan sebuah wacana dan agenda yang jelas, kecuali mengkristalnya musuh bersama bernama Soeharto. Tahun-tahun represif sesudah penyerbuan markas PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri di Jalan Diponegoro, Jakarta, 27 Juli 1997 menyebabkan mahasiswa memilih sebuah gerakan tanpa tokoh. Bahkan sebagian besar pemimpin simpul gerakan adalah para aktivis yang sama sekali baru dan relatif tidak terlibat dalam aksi-aksi sebelumnya. Seluruh karakteristik itu menjadi kekuatan sekaligus kelemahan gerakan mahasiswa 1998. Kekuatan karena dengan karakteristik itu gerakan mahasiswa tidak mudah terpatahkan. Kelemahan karena kemudian terbukti bahwa perjuangan mahasiswa menjadi tidak mempunyai arah yang jelas, dan kemudian-sadar atau tidak-justru dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan di luar mereka.

Agenda reformasi barulah terumuskan dengan baik beberapa lama setelah Soeharto jatuh. Agenda itu kurang lebih adalah penghapusan terhadap militerisme, supremasi hukum dengan mengadili Soeharto, para koruptor dan pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM), amandemen konstitusi, penghapusan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta otonomi daerah. Belum satu pun agenda tersebut yang dilaksanakan sungguh-sungguh, baik oleh pemerintah, parlemen, maupun institusi-institusi negara lainnya.Egoisme tokoh-tokoh yang semula dianggap berpihak pada gerakan demokrasi dan ketidaksetiaan mereka terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan oleh gerakan reformasi mengakibatkan agenda reformasi makin terbengkalai dan kekuatan lama makin terkonsolidasi.

Hingga kini agenda penghapusan militerisme atau pencabutan Dwifungsi ABRI masih belum tuntas. Militer masih bercokol di parlemen, bahkan keberadaan mereka di MPR makin dikokohkan. Bisnis militer masih berjalan seperti dulu. Perwira-perwira militer yang diduga terlibat dalam berbagai kasus pelanggaranHAM masih belum tersentuh. Tidak terdengar langkah-langkah TNI/Polri untuk menghukum aparat mereka yang terlibat dalam berbagai peristiwa kerusuhan di daerah. Pernyataan petinggi TNI secara publik tentang kepresidenan maupun persoalan politik secara umum jelas mencerminkan keinginan militer untuk mempertahankan peran politiknya. Betapapun dorongan militer untuk kembali berperan dalam politik bersumber pada sikap elite sipil itu sendiri.

Tuntutan terhadap pengadilan Soeharto saat ini makin tidak jelas. Demikian pula pengadilan terhadap para koruptor kakap pada masa pemerintahan Soeharto. Proses pemeriksaan tersangka korupsi dan pengadilan terhadap terdakwa kasus korupsi hanya meninggalkan kekesalan di kalangan masyarakat.

Sebagian kasus korupsi berakhir dengan penghentian proses pemeriksaan di Kejaksaan Agung atau pembebasan tersangka/terdakwa di pengadilan. Demikian pula pengadilan kasus pelanggaran HAM dalam Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II, Timor Timur, Aceh, maupun Irian Jaya.

Agenda pemberantasan KKN mengalami nasib yang kurang lebih sama. Perilaku pemerintah dari yang tertinggi sampai terendah, perilaku sejumlah anggota parlemen di pusat maupun daerah masih belum berubah. Keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN tenggelam begitu saja bersamaan munculnya dugaan keterlibatan Presiden Abdurrahman Wahid dalam penyelewengan dana Yanatera Bulog dan sumbangan dari Sultan Brunei.

Sementara para koruptor kelas kakap pada masa Soeharto belum tersentuh, bahkan masih aman dalam posisi politiknya, perilaku elite politik baru juga tidak berbeda dengan elite politik rezim lama.

Rapuhnya pemerintahan pusat mengakibatkan agenda otonomi daerah tidak mungkin berjalan sesuai yang dijanjikan. Perpolitikan nasional yang tidak menentu bukan saja tidak memungkinkan pusat melaksanakan janjinya memberikan otonomi yang luas kepada daerah namun justru memperbesar peluang daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam yang besar tetapi merasa diperlakukan secara tidak adil untuk memisahkan diri. Dengan menggunakan agenda reformasi sebagai tolok ukur, gerakan reformasi yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun belum menunjukkan tanda-tanda ke arah keberhasilan. Pesimisme itu makin menguat ketika melihat struktur dan personalia Orde Baru masih berdiri kokoh sampai hari ini. Dua unsur pokok penopang Orde Baru, militerisme TNI/ Polri dan Golkar, beserta seluruh struktur penopang korporatisme negara semasa rezim Orba masih belum berubah. Akbar Tandjung dengan Golkar “baru”-nya belum mengalami perubahan yang mendasar karena tidak ada proses pemutusan

dengan Golkar lama.

Organisasi kemasyarakatan penopang Orde Baru seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (Korpri), Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tetap tegak berdiri. Bahkan sejumlah partai politik baru yang berdiri berintikan tokoh-tokoh Golkar sehingga tidak heran bila kemudian terungkap bahwa sekitar 60 persen anggota parlemen memiliki koneksitas dengan kekuatan lama.

Dominasi wajah lama juga masih mewarnai birokrasi sipil maupun militer, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan lembaga-lembaga negara lainnya. Perubahan mentalitas hanyalah mimpi di siang bolong ketika tidak ada langkah pembersihan di posisi puncak lembaga-lembaga tersebut.

Soeharto jatuh, Habibie jatuh, dan mungkin Abdurrahman Wahid jatuh belum mencukupi untuk demokrasi. Soeharto boleh jatuh, pemerintahan baru terbentuk, namun Orde Baru dan nilai-nilainya boleh jadi tetap utuh.

Pahlawan Reformasi :


  • Munir
  • Dorthyes Hiyo Eluaway
  • Muhammad Yusuf Rizal
  • Yun Hap
  • Bernadus R Norma Irawan
  • Engkus Kusnadi
  • Heru Sudibyo
  • Lukman Firdaus
  • Sigit Prasetyo
  • Teddy Wardhani Kusuma
  • Elang Mulya Lesmana (Trisakti)
  • Hafidin Royan (Trisakti)
  • Hendriawan Sie (Trisakti)
  • Hery Hartanto (Trisakti)


KESEPAKATAN-KESEPAKATAN POLITIK

Terkait dengan masalah Reformasi yang terjadi waktu itu, ada beberapa kesepakatan politik yang dibuat oleh pemerintah beserta dengan mahasiswa untuk meredakan segala kerusuhan dan segala permasalahan dan kemelut yang terjadi pada saat itu.

Selain itu, banyak pula kesepakatan dalam bidang politik maupun ekonomi yang dibuat oleh pemerintah berkaitan dengan masalah politik dalam atau luar negeri Indonesia. Salah satu kesepakatan politik yang dibuat antara pemerintah dan mahasiswa yaitu dengan adanya enam agenda reformasi. Agenda Reformasi tersebut adalah :

  1. Penegakkan supremasi hukum. Untuk memperbaiki sistem hukum di Indonesia sehingga tidak terjadi kecurangan-kecurangan dalam hukum, dan juga karena belum adilnya pembagian hukuman untuk orang yang bersalah.
  2. Pengadilan Soeharo dan kroni-kroninya. Selama masa pemerintahannya, Soeharto dan kroni-kroninya telah banyak
  3. melakukan kecurangan-kecurangan terhadap kekayaan-kekayaan negara ini, dan juga telah menyengsarakan rakyat.
  4. Amandemen UUD. Perbaikan pada UUD dan agar sesuai dengan perkembangan zaman.
  5. Pencabutan Dwifungsi ABRI. Dwifungsi ABRI merupakan salah satu penghalang bangsa Indonesia untuk maju dan bila disingkirkan atau dicabut maka akan menghasilkan kemajuan yang jauh lebih baik daripada yang telah diperoleh
  6. Pemberian otonomi daerah seluas-luasnya. Agar tiap daerah dapat mengolah sendiri hasil kekayaannya sendiri dan agar mereka bisa mandir.
  7. Pemberantasan KKN. Bila KKN masih ada di negara kita, bagaimana negara ini bisa maju? Satu-satunya cara adalah dengan menanamkan sikap jujur pada setiap masyarakat dan juga para pejabat negara agar negara ini bisa maju.

TANGGAPAN

Ketika gelombang gerakan reformasi melanda Indonesia maka seluruhaturan main dalam wacana politik mengalami keruntuhan terutama praktek-pratek elit politik yag dihinggapi penyakit KKN. Bangsa Indonesia ingin mengadakan perubahan, yaitu menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara demi terwujudnya masyarakat yang madani yang sejahtera, masyarakat yang bermartabat kemanusiaan yang mengahargai hak-hak asasi manusia, masyarakat demokratis yang bermoral religius serta masyarakat yang bermoral kemanusiaan dan beradab.

Aksi unjuk rasa yang dikumandangkan setiap hari di berbagai kota besar di Indonesia sudah mendekati titik puncaknya.

Masyarakat sudah kehilangan kesabaran karena harus menunggu sangat lama untuk melihat reaksi dari wakil rakyat. Merujuk pada kerusuhan Mei 1998 membawa angin segar bagi Indonesia karena dalam kejadian berdarah tersebut telah membawa Indonesia pada babak baru perjalanan bangsa. Rezim Soeharto yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa akhirnya jatuh.

Kerusuhan yang telah merenggut banyak korban jiwa dan melumpuhkan sektor-sektor ekonomi yang vital, serta kehidupan di Jakarta ini ternyata membuahkan hasil yang kita sebut “Reformasi”. Dan dengan kejadian tersebut kita semua menjadi sadar bahwa kita harus segera melakukan berbagai perubahan yang mencakup segala aspek.

Sungguh amat disayangkan apabila reformasi ini banyak berjatuhan korban. Tetapi berkat jasa-jasa mereka yang telah berkorban banyak bagi negeri ini, Reformasi yang demokratis telah berjalan meskipun tidak terlalu signifikan.

DAFTAR PUSTAKA :

Satu Tanggapan ke “Reformasi”

  1. amirmubarak Says:

    Bagi yang mau mencantumkan tulisan ini di karya tulisnya, harap cantumkan pula web addresnya contoh: http://amirmubarak.wordpress.com/2008/04/24/reformasi/


Tinggalkan Balasan