Ahmadiyya on Overview
Mei 1, 2008 — amirmubarakAhmadiyah on Overview
The Ahmadiyya Muslim Community is a religious organization, international in its scope, with branches in over 189 countries in Africa, North America, South America, Asia, Australasia, and Europe. This is the most dynamic denomination of Islam in modern history, with worldwide membership exceeding tens of millions.
The Ahmadiyya Community was established in 1889 by Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), in a small and remote village, Qadian, in the Punjab, India. He claimed to be the expected reformer of the latter days, the Awaited One of the world community of religions (The Mahdi and Messiah). The Community he started is an embodiment of the benevolent message of Islam — peace, universal brotherhood, and submission to the Will of God — in its pristine purity. Hadhrat Ahmad proclaimed Islam as the religion of man: “The religion of the people of the right path” (98:6)
With this conviction, the Ahmadiyya Community, within a century, has reached the corners of the Earth. Wherever the Community is established, it endeavors to exert a constructive influence of Islam through social projects, educational institutes, health services, Islamic publications and construction of mosques, despite being bitterly persecuted in some countries. Ahmadi Muslims have earned the distinction of being a law-abiding, peaceful, persevering and benevolent community.
The Ahmadiyya Muslim Community in Islam was created under divine guidance with the objective to rejuvenate Islamic moral and spiritual values. It encourages interfaith dialogue, and diligently defends Islam and tries to correct misunderstandings about Islam in the West. It advocates peace, tolerance, love and understanding among followers of different faiths. It firmly believes in and acts upon the Qur’anic teaching: “There is no compulsion in religion.” (2:257) It strongly rejects violence and terrorism in any form and for any reason.
The Community offers a clear presentation of Islamic wisdom, philosophy, morals and spirituality as derived from the Holy Qur’an and the practice (Sunnah) of the Holy Prophet of Islam, Muhammad (peace and blessings of Allah be on him). Some Ahmadis’, like late Sir Muhammad Zafrulla Khan (who served as the first Foreign Minister of Pakistan; President of the 17th General Assembly of U.N.O.; President and Judge of the International Court of Justice, at the Hague), and Dr. Abdus Salam (the Nobel Laureate in Physics in 1979), have also been recognized by the world community for their outstanding services and achievements.
After the demise of its founder, the Ahmadiyya Community has been headed by his elected successors — Khalifas. The present Head of the Movement, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, was elected in 2003. His official title is Khalifatul Massih V.
Ahmadiyya on Indonesia
Missi Jemaat Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1925. Latar-belakangnya adalah sikap keingin-tahuan beberapa pemuda Indonesia yang berasal dari pesantren/madrasah Thawalib, Padang Panjang, Sumatra Barat.
Thawalib yang beraliran modern, berbeda dengan institusi-institusi Islam ortodox pada masa itu. Misalnya, para santrinya tidak hanya mendalami Bhs.Arab maupun Arab Melayu tetapi juga sudah diperkenankan membaca tulisan Latin.
Beberapa santrinya membaca di dalam sebuah surat-kabar tentang orang Inggris yang masuk Islam di London melalui seorang da’i Islam berasal dari India, Khwaja Kamaluddin. Hal ini sangat menarik perhatian mereka. Dan inilah yang mendorong beberapa santri tsb. untuk mencari tokoh itu. Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayyub, dan Ahmad Nuruddin adalah tiga orang santri Thawalib yang berangkat untuk tujuan tsb.. Mereka sampai di Lahore (masa itu masih India, kini masuk wilayah Pakistan) pada tahun 1923.
Dari Lahore mereka lebih dalam masuk ke Qadian dan berdialog dengan pimpinan Jemaat Ahmadiyah pada saat itu, Khalifatul Masih II ra.. Dan akhirnya mereka bai’at dan belajar di Qadian mendalami Ahmadiyah.
Atas permohonan mereka kepada Khalifatul Masih II, maka dikirimlah utusan pertama Jemaat Ahmadiyah ke Indonesia pada tahun 1925. Yaitu Hz.Mlv.Rahmat Ali ra..
Pertama-tama beliau masuk dari Aceh ke Tapaktuan. Tahun 1926 beliau menuju Padang. Dan tahun 1929 Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri di Padang. Pada tahun 1930 beliau menuju Batavia/Jakarta, dan tahun 1932 Jemaat Ahmadiyah telah berdiri di Batavia/Jakarta. Mulai dari itu banyak jemaat/cabang-cabangnya berdiri di Jawa Barat dan kawasan-kawasan lainnya. Saat ini Jemaat Ahmadiyah Indonesia dengan 181 jemaat-lokalnya (cabang) telah berdiri di seluruh provinsi di Indonesia.
Pusat Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak tahun 1935 berada di Jakarta. Dan pada tahun 1987 pindah ke Parung, Bogor. Lalu beberapa tahun belakang ini Jamaat Ahmadiyah Indonesia pindah ke Jl Balikpapan Jakarta Pusat.
Sepuluh syarat Bai’at
-
Orang yang bai’at, berjanji dengan hati jujur bahwa dimasa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur, senantiasa akan menjauhi syirik.
-
Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, huru-hara, pemberontakan; serta tidak akan dikalahkan oleh gejolak-gejolak hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
-
Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu tanpa putus-putusnya, semata-mata karena mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mengerjakan shalat tahajjud, dan mengirimkan shalawat kepada Yang Mulia Rasulullah saw, dan memohon ampun dari kesalahan dan memohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukuri dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
-
Tidak akan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, baik dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara papaun juga.
-
Akan tetap setia terhadap Allah Taala baik dalam segala keadaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat dan musibah; pendeknya, akan rela atas putusan Allah. Dan senatiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di dalam jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Taala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
-
Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu. Dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah al Quran Suci atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam setiap langkahnya.
-
Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah lembut, berbudi pekerti halus, dan sopan santun.
-
Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari pada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.
-
Akan selamanya menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Taala kepadanya.
-
Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan al Masih Mau’ud”, semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal ma’ruf dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan, ataupun ikatan kerja.
PS:
-
Total populasi di seluruh dunia : Mencapai 10 juta orang.
Dengan populasi terbanyak terbesar di India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia, West Africa, East Africa, Germany, United Kingdom, Canada, Suriname.
-
Media elektronik
Salah satu media elektronik milik Ahmadiyah yang terbesar adalah televisi. Mereka telah membuat satu televisi yang mereka namai MTA, yaitu Moslem Television Ahmadiyya. Proyek ini dirintis oleh Khalifah Ahmadiyah yang ke-empat, Mirza Tahir Ahmad .