Arti Penting Timur Tengah Bagi
Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
- Andrias Darmayadi, S.IP, M.Si * -
Penyerangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban tokoh Hamas Syekh Ahmad Yassin membuat harapan perdamaian antara Israel– Palestina makin meredup. Pertikaian berlarut-larut yang memakan waktu lama belum menunjukkan titik terang kepada upaya nyata terhadap penuntasan konflik ini.
Menarik untuk dilihat peranan Amerika Serikat sebagai sebuah negara yang selalu mengaktualisasikan dirinya sebagai polisi dunia yang merasa bertanggung jawab atas nama perdamaian dunia dalam pertikaian Israel– Palestina ini.
Sikap yang ditunjukkan AS dalam upaya penyelesaian permasalahan ini selalu setengah hati, sangat berbeda dengan sikap AS dalam menyikapi pertikaian di Timur Tengah lainnya, yang dianggap dapat mengganggu kepentingan nasional AS, seperti pembelaan terhadap Kuwait atas invasi Irak, (yang akhirnya menjadi suatu sejarah panjang yang penuh dengan muatan-muatan politik dan rekayasa AS) maupun serangan “membabi buta” dengan tuduhan terorisme kepada kelompok-kelompok Islam di berbagai negara.
Baru-baru ini Resolusi DK PBB yang mengutuk serangan Israel terhadap Palestina yang memakan korban pemimpin Hamas tersebut diveto oleh AS. Dari hal ini menarik untuk dilihat latar belakang, motivasi serta tinjauan kepentingan AS kepada Israel, yang membuat Israel mempunyai tempat tersendiri di “hati” AS, serta menarik pula untuk melihat kepentingan AS secara umum di kawasan Timur Tengah.
Posisi Israel bagi Amerika
Mengapa Israel begitu “dianak-emaskan” oleh AS di antara negara-negara Timur Tengah lainnya, ketika pada sisi lain justru Israel dengan Zionisnya kerap kali dianggap sebagai “biang kerok” konflik oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri.
Dari kaca mata AS sebenarnya tidak ada motivasi atau alasan ekonomi yang khusus bagi hubungan kedua negara, tetapi lebih merupakan hubungan strategis, sedangkan kepentingan AS secara ekonomi lebih mengacu kepada negara-negara Arab di Timur Tengah, terutama sejak tahun 1947 AS telah menjadi pengimpor minyak mentah dari kawasan ini, baik untuk kepentingan nasional maupun untuk mendukung strategi globalnya.
Tanpa adanya suplai minyak yang memadai, baik perusahaan-perusahaan AS maupun mesin-mesin perang (NATO) dan dukungan kepada Eropa Barat tidak akan berfungsi secara efektif.
Untuk pengamanan jalur-jalur tersebut, AS memerlukan negara pendukung yang strategis. Karena negara-negara Arab dan Timur Tengah pada awalnya tidak menyediakan fasilitas tersebut, maka satu-satunya bantuan adalah dari Israel. Dalam kerangka strategi ini pula AS memberikan bantuan ekonomi secara besar-besaran terhadap Israel, agar Israel tumbuh menjadi sekutu yang tangguh.
Namun di sisi lain, latar belakang eratnya hubungan AS – Israel sudah ada sejak dahulu, sejak negara Yahudi belum ada, yaitu kuatnya kelompok Yahudi di AS. Mereka kemudian mendominasi pertimbangan-pertimbangan kebijaksanaan AS terhadap Israel.
Orang-orang Yahudi di AS yang tergabung dalam ratusan organisasi kelompok kepentingan, dari yang moderat sampai kepada yang ekstrim, secara aktif berusaha mempengaruhi kebijakan Washington untuk mendukung Israel. Istilah “Lobby Yahudi” untuk menggambarkan sekitar lebih dari 32 kelompok Yahudi Utama yang melibatkan diri dengan Israel dan mempengaruhi kebijakan AS terhadap Timur Tengah untuk membela kepentingan Israel.
Kelompok yang paling berpengaruh adalah American Israel Public Affairs (AIPAC) dan Conference of Major Jewish Organizations (CPMAJO). CPMAJO merupakan badan koordinasi pengkajian dan kegiatan mengenai masalah –masalah yang berkaitan dengan Israel maupun Yahudi di AS.
Fungsi badan ini adalah untuk menginterpretasikan pandangan dan keinginan Israel kepada AS. Sementara AIPAC memfokuskan kegiatannya dalam mempengaruhi kongres, dan CPMAJO lebih aktif untuk mempengaruhi badan eksekutif.
Disamping membantu kegiatan kongres dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan Israel, kelompok-kelompok ini juga melaksanakan pengumpulan dana. Dana yang diperoleh setiap tahun berasal dari sekitar 11.000 penyumbang. AIPAC tidak secara langsung mendistribusikan dananya kepada calon-calon pemilihan umum, baik dalam tingkat negara bagian maupun nasional, seperti yang dilakukan Political Action Committee (PAC).
PAC sebagai komite aksi politik merupakan bentuk lain dari cara-cara tradisional suatu organisasi politik di AS. Berbagai PAC bermunculan untuk mewakili segenap kelompok-kelompok etnik maupun kepentingan di seluruh negara bagian, termasuk organisasi Yahudi yang terkenal secara politik lebih aktif. Dengan segala upayanya AIPAC mengaktifkan masyarakat Yahudi, sehingga PAC Yahudi memberikan dukungan finansial yang dibutuhkan lobby Yahudi atau Israel.
Tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan baik dengan anggota-anggota kunci di Senat ataupun di parlemen lebih penting dari pada hubungan dengan para pejabat tingkat regional. Meskipun demikian mereka yang duduk di badan legislatif pada tingkat negara bagian juga dapat berperan dalam pembentukan pendapat umum.
Pendapat umum merupakan hal penting dan pemerintah Israel apabila dilihat dari perlunya dukungan masyarakat dalam penentuan kebijakan AS terhadapnya. Untuk itu melalui perwakilannya di Washington, Israel kerap kali harus melakukan kampanye informasi publik ( Hazbara ) di AS, hal ini dirasakan perlu karena Israel juga harus menghadapi anggota masyarakat maupun pemerintah anti Israel.
Oleh karena itulah sangat penting bagi Israel untuk selalu dapat menciptakan citra baik, terutama di mata mereka yang sangat tradisional merupakan pendukungnya.
Selain dari sisi pertimbangan strategi globalnya di kawasan Timur Tengah yang membutuhkan sekutu yang tangguh di kawasan tersebut, besarnya dukungan AS terhadap Israel sejak negara ini berdiri pada tahun 1948 adalah juga dengan pertimbangan lainnya yaitu, Pertama, disebabkan oleh prihatinnya AS dengan nasib bangsa Yahudi di masa Nazi-Jerman, kedua, disebabkan oleh mayoritas persamaan agama.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut hingga saat ini Israel masih sangat memanfaatkan posisi strategisnya tanpa takut yang berlebihan yang disebabkan keyakinan akan mendapat legalitas dan bantuan negara superpower tunggal AS.
Irak dan Kawasan Timur Tengah
Irak sebenarnya adalah negara yang unik bagi AS terutama setelah negara ini dipimpin oleh Saddam Hussein. Irak sebelumnya adalah pembeli tetap senjata-senjata dari AS atau dengan kata lain Irak adalah konsumen yang potensial bagi perdagangan senjata AS.
Hal ini sangat memungkinkan, sebab kebijakan luar negeri Irak memang cenderung bersifat konfrontatif. Ini dapat dilihat paling tidak dalam dua dekade terakhir Irak hampir tidak pernah lepas dari konfrontasi maupun konflik dengan negara lain baik dalam satu kawasan maupun dengan di luar kawasan. Perang Iran – Irak kemudian invasi Irak terhadap Kuwait yang berbuntut serangan bertubi-tubi dari AS yang dilanjutkan embargo ekonomi terhadap Irak adalah bukti dari kebijakan luar negeri Irak yang cenderung konfrontatif.
Titik tolak keadaan yang sangat merugikan Irak memang dipicu oleh invasi Irak ke Kuwait, di sini dapat kita lihat betapa pentingnya negara-negara di kawasan Timur Tengah bagi AS.
Kebijakan AS di Timur Tengah pada dasarnya berkaitan dengan kepentingan-kepentingan strategisnya dan berhubungan dengan politik globalnya. Lebih dari tiga dekade, dahulu ketika Uni Soviet masih menjadi kompetitor berat AS, kepentingan strategi AS di regional adalah merupakan tindakan preventif terhadap dominasi Uni Soviet dengan menghindari konfrontasi langsung.
Usaha ini dilakukan dengan membawa negara-negara satelit AS di Timur Tengah. Namun saat ini setelah Uni Soviet bubar kepentingan AS adalah mempertahankan hegemoninya di kawasan ini dan menjaga eksistensi strategi globalnya yang banyak memerlukan dukungan dari kawasan Timur Tengah.
Faktor geografis Timur Tengah memiliki arti strategis yang sangat penting bagi AS. Kawasan yang meliputi Eropa, Asia dan Afrika menjadikannya sebagai jembatan hubungan Laut Tengah, Teluk Persia dan Laut Hitam, telah lama menjadi daerah lintas maupun transit kapal-kapal barang di AS. Terusan Suez sebagai jalan pintas untuk membawa bahan bakar minyak dari negara Arab ke Eropa Barat, Jepang dan AS menambah arti strategis kawasan ini.
Minyak sebagai sumber daya alam terbesar di Timur Tengah dan di dunia juga merupakan kepentingan strategis bagi AS. Untuk mempertahankan keunggulan ekonomi negara-negara Barat dan Jepang perlu disuplai bahan bakar minyak yang memadai bagi kelangsungan industrinya, oleh karenanya setiap usaha menguasai, mendominasi atau menyerang negara-negara di Timur Tengah yang produktif dalam menghasilkan minyak bumi merupakan ancaman bagi kepentingan vital AS.
Hal inilah yang dialami oleh Irak ketika menginvasi Kuwait, AS sangat berkepentingan dengan Kuwait sebab AS mempunyai kilang-kilang minyak di Kuwait yang sangat besar pengaruhnya dalam menyuplai minyak untuk kepentingan industrinya.
Selain itu, kawasan Timur tengah merupakan kawasan yang sangat potensial bagi instrumen kebijakan luar negeri yang mengkomersialkan perdagangan senjata. Kebijakan penjualan persenjataan AS di Timur Tengah selama ini sering dipandang sebagai suatu cara untuk menciptakan, mempertahankan maupun meningkatkan pengaruhnya terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah tanpa harus menghadirkan kekuatan militer AS secara langsung.
Hal ini mengakibatkan perlombaan senjata berkembang di Timur Tengah. Keadaan ini memang sangat dimungkinkan sebab secara historis negara-negara di kawasan Timur Tengah dipenuhi sejarah konlik yang panjang sehingga banyak memerlukan pasokan senjata yang memadai.
Dengan alasan-alasan yang disebutkan di atas tadi mulai dapat kita lihat mengapa AS sangat berkepentingan di kawasan yang selalu panas ini. Dapat pula kita lihat dikotomi permasalahan Irak dan Israel dalam sikap AS. Irak dianggap oleh AS sebagai ancaman yang dapat merusak kepentingan strategi global mereka di kawasan Timur Tengah. Dan juga bersikerasnya AS dalam usaha menyerang Irak adalah salah satu dari upaya show of power.
AS yang ingin kembali menunjukkan dominasinya terutama sekaligus sebagai ajang “promosi” untuk penjualan senjata-senjata canggihnya. Penyerangan terhadap Irak adalah juga merupakan bagian dari strategi kepentingan George. W. Bush yang selama ini belum mendapatkan “moment” untuk menunjukkan eksistensi dan prestasi dirinya sebagai salah satu presiden AS yang cukup berpengaruh serta pula sebagai bagian dari kampanye Bush dalam upaya mempertahankan kursi kepresidenan.
Sedangkan dalam kasus Israel, AS banyak sekali memberikan toleransi bahkan dukungan terhadap negara Zionis ini karena memang secara strategis hanya Israel lah yang menjadi sekutu paling loyal bagi AS (dan memang diciptakan menjadi sekutu) di kawasan Timur Tengah yang memungkinkan AS “bermain” dengan aman dalam kawasan ini. Sehingga wajar jika AS tidak pernah dapat bersikap tegas dalam menyelesaikan konflik Israel–Palestina yang berkepanjangan.
Sekali lagi posisi AS sebagai negara adidaya tunggal memungkinkan mereka melakukan apa saja demi merealisasikan kepentingan strategi global politik luar negeri mereka. PBB sebagai lembaga yang paling berwenang untuk memberikan aturan-aturan dalam menciptakan perdamaian di dunia juga tidak dapat bersikap independen karena disebabkan sangat besarnya pengaruh AS dalam organisasi ini.
Oleh karena itulah keadilan dan perdamaian di dunia tampaknya masih akan menjadi sebuah utopia selama sang adidaya tunggal ini tidak mempunyai batasan legalitas dan moral dalam menjalankan strategi global kepentingan politik luar negerinya.
* Penulis adalah dosen tetap Jurusan Hubungan Internasional Unikom.
[dari artikel website HI-Unikom versi perdana tahun 2004]
Source:
http://hi.unikom.ac.id/variankonteks.htm
September 18, 2008 pukul 6:11 pm
adeuh..yang punya wordpress..koq ngga ngasih tau sih, jadinya khan gw bisa comment dari jauh2 hari..hahay..
Seneng nama gw terpampang di blogroll..jadi malu..ehe..ehe..ehehehehehe…
Oktober 15, 2008 pukul 3:32 pm
Wuiiiiihh………… Q tu kok g’ mudeng jlanx ni.., nulis gni, eee…
Desember 12, 2008 pukul 11:01 am
waduh…..si a`a dah pux webblog to kow ga` bilang_bilang om